Bahasa Madura yang (Mungkin) Pelan-pelan Ditinggalkan

Bahasa Madura yang (Mungkin) Pelan-pelan Ditinggalkan
Rudi Kusnadi


Bahasa Madura yang (Mungkin) Pelan-pelan Ditinggalkan

Saya pulang ke Madura setelah tiga belas tahun, terhitung sejak 2012 hingga 2025, hidup di Yogyakarta. Yang saya ingat darinya, meski sedikit, ia cukup untuk membuat sebuah kota menyatu dengan cara berpikir, cara bebicara, bahkan cara diam seseorang. Kota yang, setidaknya bagi saya, mengesankan satu hal penting: bahasa adalah martabat. Di sana bahasa Jawa tidak hanya hidup di rumah atau upacara adat, tetapi juga di kantor, kampus, angkringan, baliho, hingga percakapan santai di warung kopi dan pesan WhatsApp. Bahasa bukan beban masa lalu, melainkan bagian wajar dari kehidupan modern.

Pengalaman itu membuat kepulangan saya ke Madura terasa ganjil. Bukan karena tanahnya berubah, melainkan karena lidah-lidah di sekeliling saya terdengar berbeda. Anak-anak menjawab orang tuanya dengan bahasa Indonesia. Remaja bercakap di cafe dengan logat Madura, tetapi struktur kalimatnya Indonesia. Di sekolah, bahasa Madura hanya muncul sebagai mata pelajaran, bukan sebagai bahasa hidup. Bahasa Madura hadir, namun seperti tamu; ada tetapi tidak benar-benar dipakai. Masalah ini bukan soal bahasa mana yang lebih unggul. Ini soal pergeseran kesadaran. Bahasa Madura perlahan kehilangan posisinya sebagai bahasa hidup dalam komunikasi sehari-hari, terutama di kalangan generasi setelah saya. Ketika ditanya beberapa nama buah teman setia bermain dulu: Langsep, Kosambi, ­Yor-nyeoran (Cecendet/Ciplukan), Kersen, Bukkol, sudah segelintir yang tahu bentuk dan rasanya.

Di balik pergeseran ini, ada asumsi-asumsi yang jarang dibicarakan. Pertama, anggapan bahwa bahasa daerah tidak memiliki nilai praktis, sehingga bahasa Madura dipersepsikan “tidak berguna” untuk pendidikan, karier, atau mobilitas sosial. Ia ditempatkan sebagai bahasa rumah yang pelan-pelan ditinggalkan demi masa depan yang dianggap lebih “nasional” atau “global”. Kedua, keyakinan bahwa bahasa Indonesia sepenuhnya netral. Padahal, bahasa selalu membawa cara berpikir dan cara membangun relasi. Bahasa Indonesia memang mempersatukan, tetapi ia tidak lahir dari ruang budaya Madura. Ketika bahasa Madura digeser, yang ikut bergeser bukan hanya bunyi kata, melainkan cara mengekspresikan hormat, kedekatan, dan batas sosial. Ketiga, asumsi bahwa nilai budaya bisa bertahan tanpa bahasanya. Seolah-olah etika, sopan santun, dan tradisi Madura dapat diterjemahkan utuh ke bahasa lain tanpa kehilangan makna. Asumsi ini terdengar optimistis, tetapi rapuh—menurut keyakikan sejumlah kajian sosiolinguistik bahwa bahasa ibu berperan penting dalam pembentukan identitas dan etika sosial.

MAOS JUGAN

Sering muncul argumen sederhana: “Yang penting nilai Maduranya masih ada, meskipun bahasanya Indonesia.” Argumen ini tampak masuk akal, tetapi menyederhanakan persoalan. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan rumah nilai. Dalam bahasa Madura, terdapat sistem tutur—fonem di antaranya, gradasi hormat—enggi-bunten, enja’-iya, dan logika relasi sosial yang tidak sepenuhnya bisa dipindahkan.

Selama menetap di Yogyakarta, bahasanya menampilkan pengalaman dan arah yang berbeda. Bahasa Jawa bukan hanya bertahan, tetapi mulai menemukan bentuk baru melalui budaya populer. Lagu-lagu NDX AKA, Guyon Waton, Ngatmombilung, Ndarboy Genk, Aftershine, Pendhoza, hingga karya-karya hip-hop dan pop Jawa lain dikonsumsi luas oleh generasi muda hingga lintas daerah; jika dilihat dari kolom komentar di kanal Youtube. Bahasa Jawa tidak dikunci dalam museum budaya, melainkan dibawa ke panggung, radio, dan internet. Fenomena ini memberikan saya pukulan telak: bahasa daerah bisa hidup dan diminati generasi muda bukan karena diwajibkan, melainkan karena diberi ruang untuk tampil relevan. Bahasa Jawa menjadi bahasa cinta, patah hati, kritik sosial, dan ekspresi anak muda tanpa kehilangan identitas lokalnya.

Di titik ini, saya penasaran, mengapa bahasa Madura jarang mendapat ruang serupa? Apakah karena bahasanya kurang ekspresif, atau karena kami belum cukup percaya diri membawanya ke ruang publik modern? Jarang saya mendengar alunan lagu pop Madura menggema di ruang publik. Kalau Gai’ Bintang, Tandhuk Majang (Tondhu' Majang), Kerraban Sape—mungkin karena sering dijadikan “lagu seremonial” dalam acara-acara resmi—lebih gampang dijumpai. Di kolom browser, jika mengetik ‘band Madura’, hampir pasti hasilnya masih Lorjhu’ (dan atau La Ngetnik) yang bisa dilacak mesin pencari. Jangan-jangan masalahnya bukan pada bahasa Madura, tapi pada ekosistem budaya yang belum memberi ruang baginya untuk tampil sebagai bahasa yang “hidup”, bukan sekadar “warisan”

Saya khawatir, ketika seorang anak Madura tumbuh dengan lagu-lagu populer yang hampir semuanya berbahasa Indonesia atau bahasa daerah lain, maka bahasa Madura kehilangan salah satu jalur penting regenerasi: emosi dan identifikasi. Musik, seperti bahasa, bekerja di wilayah perasaan. Ia membentuk kedekatan tanpa harus menggurui. Pengalaman Jawa, baik di ruang sosial maupun budaya populer, menunjukkan bahwa bahasa daerah tidak harus bertentangan dengan kemajuan. Ia bisa hidup berdampingan, bahkan saling menguatkan. Bahasa Jawa tidak menghalangi orang Jawa menjadi modern; justru ia memberi kedalaman identitas di tengah perubahan.

Alternatifnya bukan menolak bahasa Indonesia atau memusuhi modernitas. Persoalannya bukan bahasa Madura versus bahasa Indonesia. Pertaruhannya adalah posisi bahasa ibu. Bahasa Indonesia penting sebagai alat komunikasi nasional, tetapi bahasa Madura adalah fondasi kultural. Bahasa Indonesia membantu kita bergerak ke luar, bahasa Madura menolong kita memahami ke dalam. Kesimpulan saya, bahasa Madura adalah cara orang Madura mengingat dirinya sendiri. Ia menyimpan ingatan kolektif, cara bercanda, cara marah, cara menyapa, dan cara menghormati. Ketika bahasa itu tidak lagi dipakai, identitas perlahan berubah menjadi slogan, bukan pengalaman hidup.

MAOS JUGAN

Kita sering merayakan budaya dalam bentuk simbol: pakaian adat, tarian, atau festival, namun, bahasa bekerja di wilayah yang lebih sunyi dan lebih menentukan. Ia hidup di dapur, di teras rumah, di warung kopi, dan di obrolan kecil yang jarang dianggap penting. Justru di sanalah budaya bisa bertahan atau bahkan runtuh. Bahasa Madura tidak menuntut dominasi. Ia tidak meminta semua orang berhenti berbahasa Indonesia. Ia hanya meminta ruang untuk hidup—di rumah, di ruang publik, dan mungkin suatu hari di panggung musik, layar gawai, atau cerita-cerita sederhana yang dibagikan sehari-hari.

Barangkali yang dibutuhkan bukan kebijakan besar atau slogan pelestarian, melainkan keberanian kecil: orang tua yang konsisten berbicara Madura kepada anaknya, anak muda yang tidak malu bercanda menggunakan bahasa ibunya, seniman dan kreator yang berani membawa bahasa Madura ke ruang-ruang baru tanpa harus menjelaskannya sebagai “tradisi”. Bahasa hidup bukan karena diwajibkan, tetapi karena dipilih. Dipilih untuk mencintai, untuk marah, untuk bercanda, dan untuk merasa pulang.

Jika sampai umur, suatu hari nanti, saat saya melihat anak-anak Madura menyanyikan kegelisahan dan harapannya dalam bahasa mereka sendiri—seperti generasi muda Jawa hari ini, barangkali saat itu saya tidak lagi sibuk bertanya apakah bahasa Madura masih relevan. Saya akan tahu jawabannya, karena bahasa itu kembali terdengar, hidup, dan dipercaya.


*Rudi Kusnadi merupakan Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekarang menetap di Pragaan.


Post a Comment

Previous Post Next Post
Lalampan

Contact Form