Upaya Balai Bahasa Jawa Timur Menghidupkan Bahasa Madura
ESAI|| Lalampan.com || 1447. Dalam beberapa tahun terakhir Balai Bahasa Jawa Timur
menunjukkan bahwa kebangkitan bahasa daerah dapat dimulai dari langkah yang
sangat strategis: memperkuat guru, memperkaya ruang kelas, dan menghadirkan
kembali bahasa sebagai pengalaman kreatif bagi generasi muda.
Melalui program Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), Balai Bahasa
Jawa Timur mengembangkan model revitalisasi bahasa Madura yang tidak berhenti
pada lomba tahunan, tetapi membangun sistem pembelajaran berlapis yang
berkelanjutan. Dalam tiga tahun terakhir, pendekatan yang dilakukan bukan hanya
penyelenggaraan kompetisi, melainkan serangkaian seminar, workshop, dan
bimbingan teknis bagi guru-guru di empat kabupaten utama Madura—Sumenep,
Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan—yang kemudian diperluas dengan partisipasi
Situbondo dan Bondowoso.
Dari pelatihan tersebut lahirlah apa yang disebut Guru Master
Bahasa Madura, yaitu guru-guru yang telah mendapatkan penguatan kompetensi
khusus dalam tujuh bidang utama: puisi atau sanja’, cerpen atau carpan,
dongeng, carakan (aksara), tembang, lawakan tunggal, dan pidato. Ketujuh bidang
ini dipilih bukan tanpa alasan. Ia mencerminkan spektrum ekspresi bahasa Madura
yang lengkap—mulai dari sastra tulis, sastra lisan, seni pertunjukan, hingga
literasi aksara tradisional. Dengan menguasai bidang-bidang ini, guru tidak
hanya mengajarkan bahasa sebagai pelajaran, tetapi menghadirkan bahasa sebagai
ruang kreativitas.
Menariknya, penguatan Guru Master tidak dilakukan secara
konvensional. Para peserta pelatihan mendapatkan pembelajaran langsung dari
para maestro di bidangnya masing-masing: maestro dongeng, maestro carakan, maestro
lawakan tunggal, maestro tembang, maestro carpan, maestro sanja’ hingga
maestro pidato. Kehadiran para maestro membawa dimensi berbeda dalam proses
pelatihan. Mereka tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga membagikan
pengalaman kreatif, proses berkarya, serta cara menjaga keaslian rasa bahasa
dalam praktik kesusastraan dan seni tradisi.
Setelah memperoleh status Guru Master, tugas mereka tidak
berhenti pada peningkatan kapasitas pribadi. Mereka memiliki tanggung jawab
untuk mereplikasi pelatihan kepada guru-guru lain di wilayahnya masing-masing.
Satu Guru Master dapat membina ratusan guru, dan setiap guru yang terlibat
kemudian mengintegrasikan pembelajaran bahasa Madura yang lebih kreatif ke
dalam kegiatan sekolah. Sistem ini menciptakan efek berantai yang sangat luas:
dalam waktu relatif singkat, ribuan siswa SD dan SMP mendapatkan pengalaman
belajar bahasa daerah yang lebih hidup dibandingkan sebelumnya.
Di ruang kelas, perubahan pendekatan pembelajaran mulai
terasa. Bahasa Madura tidak lagi hanya hadir dalam bentuk bacaan pendek atau
hafalan kosakata, tetapi tampil melalui praktik kreatif: siswa menulis carpan,
membacakan sanja’, mencoba menulis aksara carakan, memainkan tembang,
atau berlatih pidato dan lawakan tunggal. Aktivitas-aktivitas ini menjadikan
bahasa daerah tidak sekadar mata pelajaran tambahan, melainkan sarana
berekspresi yang menyenangkan. Ketika siswa mulai merasakan bahwa bahasa daerah
dapat menjadi media kreativitas, hubungan emosional mereka terhadap bahasa itu
pun tumbuh secara alami.
Setiap bulan Oktober, proses pembelajaran sepanjang tahun
tersebut menemukan panggungnya dalam lomba FTBI tingkat kabupaten. Ajang ini
bukan hanya kompetisi, melainkan ruang pertemuan berbagai praktik terbaik
pembelajaran bahasa daerah dari sekolah-sekolah. Para siswa tampil membawa
karya yang mereka latih bersama guru, sementara guru memperoleh kesempatan
untuk saling bertukar pengalaman dan metode pembelajaran. Juara pertama dari
setiap kabupaten kemudian melangkah ke tingkat provinsi, memperluas ruang apresiasi
sekaligus memperkuat jaringan pengembangan bahasa Madura di Jawa Timur.
Keikutsertaan Situbondo dan Bondowoso dalam beberapa tahun
terakhir memperlihatkan bahwa bahasa Madura tidak hanya menjadi milik wilayah
pulau secara administratif, tetapi juga milik komunitas penutur yang tersebar
di berbagai daerah. Hal ini memperluas cakupan revitalisasi sekaligus
menegaskan bahwa bahasa daerah hidup mengikuti mobilitas masyarakatnya. Ketika
ruang partisipasi diperluas, peluang bahasa untuk terus digunakan juga semakin
besar.
Keberhasilan pendekatan ini tidak hanya terletak pada struktur
programnya, tetapi juga pada filosofi yang mendasarinya. Revitalisasi bahasa
dipahami sebagai proses sosial yang harus menyentuh generasi muda secara
langsung. Guru menjadi aktor kunci karena sekolah adalah ruang interaksi
kebahasaan yang paling sistematis bagi anak-anak dan remaja. Ketika guru
memiliki kompetensi kreatif dalam sastra, seni tutur, dan aksara, maka sekolah
secara otomatis berubah menjadi laboratorium budaya yang aktif.
Pendekatan berbasis guru juga memberi keuntungan jangka
panjang. Investasi pada pelatihan guru berarti membangun pusat-pusat kompetensi
kebahasaan yang tersebar di berbagai daerah. Program revitalisasi tidak lagi
bergantung sepenuhnya pada kegiatan seremonial tahunan, tetapi hidup dalam
aktivitas pembelajaran sehari-hari. Guru yang mampu menulis carpan,
melatih tembang, atau mengajarkan carakan akan terus mentransmisikan
keterampilan tersebut kepada generasi berikutnya, bahkan setelah program
pelatihan selesai.
Tentu, tantangan tetap ada. Dominasi media digital berbahasa
nasional dan global, perubahan gaya komunikasi generasi muda, serta
keterbatasan bahan ajar kreatif masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu
dijawab secara bertahap. Namun pengalaman FTBI menunjukkan bahwa bahasa daerah
tidak harus bersaing secara frontal dengan bahasa lain. Ia cukup diberi ruang
untuk hidup, digunakan, dan dirayakan dalam praktik keseharian. Ketika siswa
menemukan bahwa bahasa Madura dapat menjadi bahasa puisi, humor, dongeng,
cerita pendek, tembang dan pidato yang mereka tampilkan di panggung sekolah,
bahasa tersebut kembali memperoleh relevansinya.
Ke depan, penguatan model ini dapat dilengkapi dengan
publikasi karya siswa, pemanfaatan media digital berbahasa Madura, serta
kolaborasi dengan komunitas seni dan literasi daerah. Serta hadirnya antologi
siswa, serta platform digital yang bisa dinikmati public. Dengan cara itu,
bahasa tidak hanya diajarkan di kelas, tetapi juga hadir di ruang publik yang
lebih luas.
Apa yang dilakukan Balai Bahasa Jawa Timur melalui pelatihan
atau Bimbingan Teknis Guru Master menunjukkan bahwa revitalisasi bahasa tidak
selalu dimulai dari proyek besar yang spektakuler. Ia dapat tumbuh dari ruang
pelatihan guru, bergerak ke ruang kelas, lalu meluas ke panggung kompetisi dan
kehidupan masyarakat. Dari tangan para maestro ke tangan para guru, dari guru
ke siswa, dan dari siswa kembali ke komunitas—di sanalah bahasa menemukan
jalannya untuk tetap hidup.
Bahasa Madura hari ini mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya bahasa komunikasi generasi muda, tetapi melalui upaya yang sistematis dan berkelanjutan, ia tetap memiliki masa depan. Selama bahasa itu masih ditulis dalam carpan, menjadi dongeng sebelum tidur, dinyanyikan dalam tembang, ditertawakan dalam lawakan tunggal, dan diucapkan dalam pidato siswa-siswa sekolah, selama itu pula bahasa Madura akan terus berjalan bersama zamannya—tidak sekadar dikenang, tetapi digunakan dan diwariskan.
