Rowi El-Hamzi: Suami Istri
ESAI||lalampan.com-1447|| Ada jenis suami yang suaranya selembut embun kalau di luar
rumah.
Kalau bicara di forum, nadanya seperti ustadz penyejuk umat.
Kalau bersalaman dengan orang, senyumnya seperti baru turun
dari mimbar akhlak.
Tapi begitu pintu rumah tertutup, suaranya berubah. Volume
naik. Nada mengeras. Seolah-olah kesabaran hanya berlaku untuk tamu.
Aneh memang. Di luar dia takut kehilangan citra. Di rumah dia
merasa tidak perlu menjaga apa-apa.
Padahal istri bukan pegawai magang yang bisa dimarahi tanpa
konsekuensi. Dia saksi hidup yang tahu versi asli kita—tanpa filter, tanpa
editan, tanpa caption bijak.
Dan ada pula jenis istri yang di luar rumah terlihat lembut
dan anggun.
Bicaranya pelan. Langkahnya sopan.
Orang-orang memuji, “Masya Allah, kalem sekali.”
Tapi di rumah? Suami seperti sedang ikut sidang pleno tanpa
hak bicara. Setiap kalimat disanggah. Setiap keputusan dikoreksi. Setiap
kesalahan dibacakan seperti laporan tahunan.
Lucunya, dua-duanya merasa sudah baik. Karena ukuran kebaikan
dipindah ke luar rumah. Padahal rumah bukan panggung pencitraan.
MAOS JUGAN
- MENU LALAMPAN.COM
- Download Kamus Bahasa Madura
- Oca' se aguna'agi akantha tor parsasat
- Kamus Bahasa Madura Ejaan Baku (1973)
Rumah itu laboratorium akhlak.
Kalau di luar kita bisa sopan pada orang asing, tapi tidak
pada pasangan sendiri, berarti yang kita rawat bukan hati—melainkan reputasi.
Kita ini kadang aneh.
Lebih takut dicap tidak santun oleh tetangga daripada dicap
menyakitkan oleh pasangan sendiri.
Padahal tetangga hanya melihat kita beberapa jam. Pasangan
melihat kita seumur hidup.
Jangan jadi suami yang sabarnya hanya untuk publik. Jangan
jadi istri yang kelembutannya hanya untuk audiens.
Kalau akhlak kita hanya aktif ketika ada penonton, itu bukan
akhlak.
Itu pertunjukan. Dan rumah bukan teater.
Semoga kita bisa menjadi pasangan yang baik. Āmīn
*Rowi El-Hamzi
