Sepotong Adegan

 Carpan, Sastra Madura, Mat Toyu




Pagi yang masih berembun. Basah air mata. Basah kenangan. Basahnya air liur mengental di jalanan. Sejak pagi yang masih basah embun, aku menikmati aroma kota. Kota harapan semua anak desa. Kota yang menjadi tempat mengiba semua orang. Orang yang dengan harapan mendapat penghidupan lebih nyaman dari yang runyam di desanya. Tapi katak yang terkapar kemarin sore di jalan itu kembali menusuk ingatanku. Kasihan sekali. Jika katak itu terpisah dari keluarganya. Katak selalu melalang buana dari tempat asalnya sendiri.

 

Kampung halaman mengambang di mataku. Eh. Sejak tiba di kota ini aku tak mendapat apa-apa. Perlakuan pun yang didapat jauh dari angan-angan. Sungguh malang. Ternyata kota adalah pembohong kedua setelah penguasa. Aku menerbangkan asap rokok. Seperti menerbangkan kekesalan di hatiku. Rokok ini hasil melinting sendiri.

 

“Aku akan pulang. Biar tidak terlarut tanpa pekerjaan. Tak kerja tak punya uang. Tak punya uang tak makan. Aku yakin di rumah lebih nyaman. Kerja. Kerja. Kerja. Meski di sawah. Di tanah lapang yang membentang.”

 

Aku mendengar sebuah teriakan. Tapi aku tidak ingin menoleh. Sebab itu suara yang biasa aku dengar. Paling cuma orang yang ketakutan untuk melintas. Pasti nenek-nenek. Sangkaku. Ketus. Dengan tertawa yang tertahan. Tetapi aku kaget  pada suara ‘debuk’, terdengar seperti ada orang yang terjatuh dari pohon siwalan dengan ketinggian dua puluh meter di belakang kandang sapi beberapa minggu yang lalu.

 

Paman! Kau kah yang jatuh dari pohon siwalan? Aku  menoleh. Tak ada pohon siwalan. Yang ada gedung besar, sebuah toko berlantai lima. Menjulang langit. Setinggi pohon siwalan yang biasa dipanjat paman.

 

Mataku kearah bunyi itu. Derai penglihatanku adalah darah merah yang mengalir deras. Darah merah membasahi lantai sebuah toko. Di luar, dindingnya bertuliskan dengan huruf besar-besar. Seperti cakar ayam. Seperti kaki kuda yang dipotong-potong lalu dijadikat tulisan.

 

Mungkin sedang berakting frustasi. Sangkaku. Kan biasanya begitu yang sering aku lihat di tipi-tipi, karena putus cinta lalu melompat dari gedung tertinggi. Banyak film-film yang sering sekali mentontonkan orang-orang frustasi-bunuh diri. Mungkin dia adalah salah satu artisnya. Kembali Asap rokok ku semburkan ke udara. Terasa lepas segala resah, rindu dan kesalku. Terbang mengudara.

 

***

Maos jugan

 

Darah berkucuran. Membasahi tubuhnya. Tidak seorang pun yang terpikat sedikitpun untuk menoleh kearah orang yang terkapar diatas trotoar itu. “Heh, lihat orang itu. Terkapar di trotoar, kenapa dia? Tolong panggilkan ambulans.” Dari arah timur, seorang perempuan berteriak. Meminta bantuan agar orang yang terkapar diperhatikan.

 

“Kamu apa sih? Emang dia sapanya kamu? Kok belum tahu kamu tiba-tiba meminta panggilin ambulans? Apa kamu mengenal siapa nama orang itu.” Lelaki di sampingnya mencegah perempuan.

 

“Iya sih, tapi apa tidak kasihan kalau orang itu mati lalu dibiarkan tanpa ada yang menolongnya?”

 

“Apa? Jangan sok baik Mam! Jangan-jangan dalam tubuhnya ada bom yang ketika disentuh bisa meledak. Lihat wajahnya sudah babak belur begitu.

 

Kau ingatkan! Beberapa hari yang lalu tentang pengeboman bunuh diri di beberapa kota. Yang seharusnya aman dan nyaman tapi malah ngeri setelah ada yang ngebom. Seperti Bali dulu. Yang menyebabkan orang luar negeri jadi ngeri untuk datang lagi ke Bali. Ya sekarang, keamanan sedikit lumayan dan sedikit runyam.”

 

“Jangan-jangan mereka yang melakukan bom bunuh diri itu iri karena daerahnya tidak didatangi orang luar negeri atau orang-orang yang biasanya hanya memakai bikini kalau ke pantai? Biasanya kan turis-turis memakai baju yang banyak kurangnya. Dadanya sedikit terbuka. Dan lain-lain. Jangan!” Dengan suara lebih pelan lelaki itu setengah sadar tentang kenapa bom bunuh diri atau pengeboman itu terjadi. Analisis dalam otaknya berbiak. Analisis adalah pikiran ngelantur yang dicoba-coba untuk membentur nada sadar.

 

“Iya juga sih Pap! Tapi lihat baju orang itu. Compang-camping kayak pengemis beberapa hari ini yang biasa kita lihat di lampu merah dan sering menyanyikan Alasan Palsu. Dia to?”

 

Pertengkaran dan adu argumen kedua orang itu mencuri perhatian banyak orang yang sedang berlalu-lalang di depan gedung berlantai-lantai itu. Wartawan-wartawan berdatangan satu persatu mengambil gambar mereka yang sedang berargumen dan adu mulut dari segala arah. Foto kamera wartawan tanpa cahaya. Cuma bebunyian. Jeklek. Jeklek. Jeklek.

 

“Mam, tak usah berpikir bahwa mereka melompat dari lantai setinggi itu lantaran ekonomi, putus cinta atau apalah alasan yang lebih konyol dan alasan yang hanya membuat orang tertawa atau geleng-geleng kepala. Kita coba dari sekarang berpikiran agak lebih baik sedikit. Atau berprasangka jelek bagi orang-orang yang gitu-gituan lah. Masak ketika ada orang yang melompat dari lantai setinggi itu langsung di sangka orang yang sedang frustasi karena ekonomi, cinta atau kegagalan lain. Apa itu tidak konyol.”

 

“Tapi, aku ngeri melihatnya, Pap. Tak tega jika dia dibiarkan begitu saja. Kucing saja jika kita menabraknya harus kita kubur Pap! Apa dengan orang mati kita biarkan begitu saja?”

 

“Mama!” Suaranya melembut. “Mama hanya berprasangka baik buat orang yang mati itu. Coba aja tahu-tahu saat kita mendekat semua, eh ternyata bomnya meledak dan orang-orang semua bisa mati. Pasti keluarga kita yang disangka-sangka sebgai dalang pengeboman itu.”

 

“Kenapa sih Papa berpikiran seperti itu? Apa Papa tega melihat orang itu mati tanpa yang menolongnya? Ternyata pikiran Papa lebih jorok dari hari-hari sebelumnya.”

 

“Mam!” Lelaki itu menarik lengan perempuan itu.

 

“Tak ada polisi. Tak ada petugas keamanan yang datang. Coba bayangkan. Siapa seharusnya yang lebih dulu datang jika ada kejadian seperti itu. Petugas keamanankan? Kenapa tak ada sama sekali! Ngapain aja mereka. Udah siang lagi. Seharusnya mereka siaga. Jika ada kejadian seperti ini langsung datang dan menolong orang itu.”

 

“Papa masih aja seperti anak kecil. Lepaskan aku!”

 

“Mam!” Lelaki itu menarik lengannya.

 

“Lepaskan!”

 

“Jangan Mam. Aku tak ingin terjadi sesuatu denganmu.”

 

“Lepaskan!”

 

“Mam!”

 

“Aku mau pulang. Aku tak jadi belanja. Memalukan!”

 

Orang-orang berkerumun. Kedua orang itu benar mencuri perhatian banyak mata. Banyak mata tertegun melihat mereka adu argumen. Merah darah membasahi lorong, mobil. Aku kaget karena rokok tiba-tiba memerah. Semerah saga. Semerah darah.

 

 Orang-orang tenggelam dalam kesibukannya. Wartawan-wartawan pun mengambil gambar orang yang terkapar tak ada yang menolong itu. Wawancara pun dimulai dari perorangan. Namun mereka serempak menjawab “Aku tak tahu siapa dia.”

 

***

Maos jugan

 

Wah. Aku bisa minta tanda tangan. Karena besok aku mau pulang dan setiba di desa akan ku pamerkan pada seluruh orang desa bahwa aku mendapat tanda tangan seorang artis yang hari ini sedang berakting ‘menjatuhkan diri’ dari lantai paling atas. Dari atas gedung yang tingginya.

 

Tapi benarkah orang itu sedang berakting. Kadang dalam film yang ada sedikit cerita pembuatan filmnya, ad kamera yang digotong-gotong, kat! Kat! Kat!. Begitu kedengarannya. Tapi, dimana sutradara? Dimana yang lainnya? Mungkin disembunyikan, biar tidak ada orang yang tahu. Mungkin begitulah orang membuat film yang difilmkan.

 

Aku tak ingin tanda tangan artis itu dituliskan di buku, ataupun kertas. Aku ingin tanda tangan itu ada di salah satu bagian tubuhku yang akan dengan mudah orang-orang bisa melihatnya. Jadi aku tinggal bilang. Nih lihat tanda tangan artis di dahiku.

 

Wah, pinter banget sutradaranya. Orang-orang yang berlalu-lalang tak kaget dengan suaraku yang agak aneh. Seperti apa filmnya yah? Aku akan nonton di desa nanti. Pasti selesai dan diputar beberapa hari ke depan nanti dan aku sudah jelas ada di rumah. Aku akan nonton di rumah Paman. Tapi pamas… sepertinya

 

Di hadapanku kesibukan kota telah beranjak. Kota merangkak menuju entah kemana. Seperti beranjaknya matahari meninggalkan pagi. Dari hening ke ramai. Keramaian. Lalu-lalang orang. Dalam sendiriannya. Orang-orang berjalan sendiri-sendiri. Berpasang-pasangan. Sekeluarga-sekeluarga. Sekelompok-sekelompok. Satu organisasi. Yang tak punya pasangan, yang tak mempunyai keluarga, yang tak memiliki kelompok, yang tak berorganisasi, dalam kesendirian.

 

***

 

Mereka ingin hidup. Kesibukan mereka gunakan sebaiknya. Tak ada waktu tersisa demi kehidupan dan masa depan. Tapi tak bisakah mereka menoleh? Mendengarkan jerit paling dalam.

 

Beberapa minggu yang lalu. Aku hampir gagal berangkat ke kota ini. Pamanku terjatuh dari atas pohon siwalan. Paman tak sadarkan diri. “Turunkan aku. Tolong. Turunkan aku!” suaranya tertelan pedih. Suara ngelantur itu terus mengalir dari bibir Paman sejak tubuh paman terjepit diantara dua pohon siwalan. Orang-orang mengatakan bahwa dirinya telah diatas dipan. Sudah dipindah. Digotong bersama. Air mata menetes.

 

Orang berdatangan. Menghentikan pekerjaan mereka. Menanggalkan pikiran mereka yang sesak hutang. Menanggalkan perasaan yang diam-diam riang. Orang-orang larut bersama pada sesak nafas. Mereka satu nafas dengan keluarga pamanku.

 

***

 

Tapi, apa iya orang itu artis film? Apa iya orang itu berakting dalam laga? Kenapa belum ada yang menolong? Aku kok miris melihatnya. Setega aku membunuh semut, tak setega hal ini yang ku lihat. Orang-orang hanya menoleh dan tak mau menyentuh.” Aku tak beranjak dari tempat duduk. Tak tega rasanya melihat orang ‘melompat dari’ lantai tujuh belas dan tak ada yang menolong.

 

Duh Gusti. Jika benar ia artis yang sedang akting. Kenapa tak ada yang mencarinya? Bagaimana istrinya? Anaknya? Atau siapalah yang ada. Jika benar-benar itu sedang berakting jadi orang yang frustasi, tapi kok tidak ada lanjutannya. Tadi cuma suami-istri yang bertengkar, tapi masak iya, mereka bertengkar.

 

Tapi mengerikan sekali jika membuat film harus seperti itu. Masak tak sakit sama sekali. Darahnya mengalir. Artisnya benar-benar berani, jika itu memang sedang berakting. Berapa bayarannya dalam sekali lompat?. Seandainya aku dapat bekerja demikian mungkin aku bisa lebih cepat dan lebih sering mengirimkan uang ke orang tua. Tapi pekerjaan benar-benar susah dicari. Aku harus cepat-cepat pulang. Biarlah ku tanami saja sawah-ladangku, biar tak jadi kantor ataupun toko, gedung yang hanya dibuat untuk disediakan bagi mereka yang ingin melompat. mengerikan sekali! Gedung didirikan menggantikan pohon siwalan.

 

Aku ragu untuk menolong orang yang terkapar dengan darah yang terus membasahi lorong, baunya beterbangan di udara. “Mungkin orang itu benar-benar dilempar oleh musuh-musuhnya atau penguasa. Kasihan. Sehingga dalam film itu tak ada yang berani menolongnya. Orang-orang takut untuk menolong orang itu. Mungkin juga begitu. Mungkin orang itu sering berdemo dan mengkritik penguasa, sehingga sekarang iya dilempar dan dijadikan contoh pada seluruh masyarakat bahwa siapa saja yang sering mengkritik penguasa akan dilempar seperti tikus. Terlilndas-lindas seperti katak yang biasa ku lihat di jalanan desa. Iiih. Mengerikan sekali.

 

Orang yang terkapar itu masih terkapar. Bau amis darah yang telah mengudara itu tak ada yang mencium. Seperti tidak apa-apa. Tak ada yang merasa bau udara telah berubah. Barangkali karena hidung mereka tertutup helm. Masker. Penutup hidung agar tak masuk angin. Juga nafas buatan, angina buatan.

 

Aku berjalan.  Tak lirik-lirik dari dekat. Tapi jangan sampai ketahuan.

 

Masak aku mau bertanya ke Satpam. Aku bisa disangka saudaranya. Soalnya wajahnya hampir sama; sama hitamnya. Wajahnya kok hitam-hitam gitu. Aku melihat dari jarak jauh. Takut ketahuan Satpam ataupun wartawan. Mana mungkin artis hitam begitu! Tidak  mungkinlah.

 

 “Ini proses pembuatan film kan?” Yang ditanya tak mendengar. Karena tangis perempuan itu terlalu nyaring. Memekak telinga. Telinga hanya mendengar nyaring tangisnya. Tak mendengar jerit air matanya. Mata-mata tertutup dalam mabuk kesibukan. Mabuk pekerjaan. Mengejar waktu. Dikejar waktu.

 

Film ini pasti seru. Aku akan nonton di rumah Paman.

 

Aku tak percaya. Tak ada kamera shoting disini. Tapi mungkin di taruh di tempat lain yang bisa melihat dari jarak jauh.

 

Tidak!

 

Perempuan itu masih menangis, tak tega.

 

 

Yogyakarta 2011-2012

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak