Cerpen: Kunci Motor

sastra, madura, cerpen, Mat Toyu, bahasa madura, parebasan, pribahasa madura


JIKA tanpa keluarga, haruslah segalanya diselesaikan dengan sendiri. Memasak, makan, mencuci, dan menyetrika dan hal-hal lain yang menyangkut kepribadian memang harus diselesaikan dengan sendiri. Siapa yang akan bertanggung jawab pada diri sendiri kalau bukan diri sendiri. Tapi, jika ada keluarga merekalah yang akan membantu menyiapkan segalanya seperti yang kuceritakan tadi.

 

Seperti yang terjadi saat ini padaku. Bisaku hanya menggaruk kepala. Tidak dapat aku mengerti tentang sifat  lupa yang mengancam tatatan syaraf kehidupan manusia dalam segala lini. Entahlah. Lupaku sangat mengancam. Akan membuat lumpu meski dengan kaki tak cacat, tapi jika dalam perjalananan aku lupa cara menggunakan dan kegunaan kaki itu. Itu baru tentang lupa. Ya. Aku lupa dimana aku menaruh kunci kecil yang bisa menyalakan motorku. Padahal kami disini sudah seperti keluarga –menurutku- tapi entahlah dengan mereka setelah tahu padaku yang menyebalkan.

 

Aku tidak dapat menebak isi-isi yang terkandung dalam benak mereka. Mereka masih santai dengan layar kecil yang mengabarkan kebobrokan sebuah instansi tertinggi. Padahal aku disini kebingungan dengan sebuah kunci kecil yang mengganggu ketenanganku sendiri. Sudah aku tanyakan berkali-kali, mereka hanya menjawabnya dengan tidak perhatian. Aku ingat. Akulah yang salah selalu bertindak aneh didepan mereka. Mungkin karena aku sering beda haluan dengan mereka. Ya, tapi aku tidak pernah mengganggu mereka.  Barangkali semua yang ku kerjakan dianggap menyalahi mereka.

 

Mungkin karena setiap hari mandiku lama. Lebih lama dari mereka. Tapi hanya karena itu mereka selalu saja berpaling dariku.

 

Adayang mengetahui dimana kunci motorku?” aku mengulangi pertanyaanku yang kesekian kalinya. Tetap saja seperti biasa, tak ada jawaban. Mereka masih menertawai sebuah kelakar yang ditayangkan sebuah setasiun televisi.

 

“pengumuman…!”

 

“Apa. Apa?” Tanya seorang


Maos jugan

 

“Bagi siapa yang menemukan kunci motorku, akan saya traktir! Siapa saja. Akan saya traktir dengan sepiring nasi lengkap dengan minuman semaunya.”

 

Serius?” Tanya Andi

 

“Ya.” Tegasku

 

Mereka baru ada yang berdiri. Pancinganku berhasil. Barangkali umpan memang harus ada untuk memanggil hati. Seperti ayam, ia tidak akan mendatangi panggilan jika tidak ada umpan. Barangkali kuroptor harus diumpan dengan uang yang lebih segar dan bermiliar. Hah!

 

Umpan ini tidak akan sia-sia. Ada beberapa orang yang beranjak mencari karena umpan yang kutaburkan berbuah harum dipenciuman mereka: nasi dan minuman semauny. Mereka Mengasak seluruh yang ada, termasuk tas beserta isinya, seluruh saku yang menempel dibaju dan celana. Mereka tetap tidak menemukan. Antara Andi dan beberapa teman lainnya mencari dibeberapa seluk-beluk lubang, tapi tetap saja mereka tidak mendapatinya.

 

“Sial!” kata Andi. “Dimana kamu taruh sih?”

 

“Itu dia aku lupa. Sekiranya tidak lupa, ya mungkin tidak hilang.”

 

Mereka masih mengasak lubang-lubang yang tertangkap basah dengan penglihatan mereka. bahkan kamar mandi mereka datangi, tetap tidak mereka temukan. Aku bingung sendiri. Dimana ya? Ku garuk kepalaku. Sampai ketombe-ketombe dikepalaku habis dan hah, bahkan kepalaku hampir berdarah. Aduh. Parah! Kunci motorku masih belum juga ketemu.

 

Kulihat mereka mengasak lubang-lubang yang mereka lihat. Buku-buku yang asalnya rapi tiba-tiba berantakan, dan mereka tidak merapikan lagi. Mereka mengeluarkan tenaganya untuk menemukan kunciku. Terlihat di wajah mereka sebuah perjuangan tajam. Mereka seperti pejuang empat lima yang akan melenyapkan kolonial ditubuhnya sendiri, kau pasti bertanya apa kolonial ditubuhnya? Itu tidak perlu. Karena kolonial sudah minggat orang-orangnya. Tapi ya kalian pasti lihat sendiri, perut mereka telah mencabbuknya.

 

Hanya dengan sepiring nasi mereka berkejaran untuk menemukan kunci. Saling mendahului. Mereka berjuang demi pembebasan yang masih bergelantungan dibenaknya yang tertampung dalam perutnya. Kekenyangan yang setengah masih mengundang mereka memperjuangkan sepiring nasi dan minuman yang lama impikan. Ini adalah saat yang tepat bagi mereka. Kerja keras mereka tidak dapatdipungkiri.

 

***

 

Ada satu temanku yang hanya senyum-senyum mengelitik dengan bukunya. Padahal Dia membaca buku tentang teori-teori pembebasan. Barangkali ada yang lucu dengan teori yang dibacanya. Lelaki kurus ini agak aneh dengan berbagai lelakon yang gelutinya. Bahkan sehari-hari tingkahnya sangat nyentrik sekali. Semua tindakannya sangat tidak masuk akal. Belajarnya tidak sesuai dengan jurusannya, Dia hanya kadang-kadang  membaca teori-teori dari jurusan yang seharusnya dibaca. Temanku ini lebih aneh dari anehku yang aneh! Aneh!

 

“Kau lihat dimana kunci  motorku?” tanyaku. Dia hanya menggeleng. Tidak menghiraukan apa yang aku tanyakan, itulah dia sekali bersama bukunya tidak dapat diganggu gugat dan dapat dipertanggungjawabkan. Aku selalu menggaruk kepalaku. Tanpa sadar rambutku ada yang rontok dengan tarikan tangan yang sangat pelan.

 

Aku masih bingung. Sedang Andi sudah meminta ampun atas ketidakmampuan dan kepegalannya dalam mencari kunci motor kecilku. Sudah lebih satu jam mereka mengotak-atik seluruh yang ada dalam kamar besar ini. Sedang yang lain ada yang masih tidak menoleh dari layar yang menayangkan kelucuan dalam negeri. Apukun terkadang sempat berterima kasih atas tayangan itu, jika tidak ada itu barangkali akan lebih pusing lagi melihat saudara-saudara yang berkeliaran diantara lampu-lampu merah.

 

Tapi untuk malam mini rasanya aku minta maaf untuk duduk beberapa menit saja didepan layar itu. Dibenakku masih berdiri sebuah kunci motor kecil yang tiba-tiba aku lupa dimana menaruhnya. Padahal biasanya aku taruh ditas, atau kalau tidak dicelana, aku selalu membawanya. Tidak pernah aku tinggal kecuali aku ingin mandi.

 

Suara adzan isa telah berkumandang diudara. Menbentur dinding hingga gendang-gendan telinga siapapun, baik yang islam, yang merasa islam, yang berKTP islam atau hanya mengaku islam bahkan orang-orang yang bukan islam pun akan mendengarnya tanpa disadari. Aku yakin itu.

 

Aku telah usai melaksanakan perintah Tuhan setelah ada iqamah menggema dari masjid sebelah dengan suara melebai. Shalatku setengah tenang, setengah khusyu. Oh tidak, niatku tidak setengah-setengah. Meski dalam shalat kunci itu tetap berdiri dikepalaku, seperti sebatang ringgis yang mencercah otakku. Tidak bisa aku singkirkan untuk setengah menit saja. Untuk sekedar berhamba pada-Nya. Tapi itulah yang keseringan.

 

Suara motor dihadapan pun ikut mengganggu keheningan yang meriang dalam benakku. Gas-gas tajam yang mengerang diantara telinga telanjang dan debu-debu yang beterbangan hinggap didaunan, memasuki kamar seluas empat kali delapan meter ini yang ditempati lebih dari lima orang tanpa pemisah kamar, hanya kamar yang tertutup denga resmi.

 

“Memang kuncimu dimana ditaruh?” selesai shalat lelaki kurus itu bertanya. Dengan memutar telunjuknya didepan hidungnya. Dia mirip seorang dukun yang lagi menebak suatu tempat.

 

 “Ya, seandainya aku ingat. Pasti tidak aku tanyakan pada kamu!”

 

“Sudah dicari kemana saja?”

 

“Jangan-jangan kau yang menyembunyikan?” sangkaku

 

“Berani bersumpah aku tidak tahu.” Tegasnya didepanku dengan menjulurkan tangan kirinya.

“Ditanya, malah nyangka yang bukan-bukan. Kamu mau dibantuin apa nggak?”

 

“Ya. Ya.” Anggukku memaklumi.

 

“Ku coba untuk mencarinya. Siapa tahu aku dapat menemukannya.” Ucapnya seorang diri. Dia melangkah mendekati ke beberapa tas, rak buku, lemari dan celanaku dan dia tidak menyentuh lemari yang digunakan bersama. Lemari karet itu dia biarkan. Dia mencari pelan-pelan. Tidak seperti Andi dan temanku yang lain. Dia sangat runut. Sekali-kali dia memutar telunjuknya. Masih belum menemukan.

 

“Kemarin…” katanya terpotong entah oleh apa. Akupun tidak mengerti. Dia masih berputar-putar antara rak buku, saku celana dan baju, seluk-beluk lubang dan tas. Tapi dia tidak memberantakan bukunya. Dia sangat pelan dalam mencari. Seperti tidak pernah menyentuhnya pada rak, tas, baju dan celana. Dia tetap tidak menyentuh satu lemari yang digunakan bersama.


Maos jugan

 

Sahabat yang setengah akrab ini masih berputar-putar antara itu-itu dan ini-ini. Mengitarinya. Entah apa maksudnya. Jangan-jangan dia mempunyai ilmu kedukunan yang bisa membaca barang-barang yang hilang, atau jangan-jangan sahabat ini mempunyai jin yang bisa membantunya menemukan barang itu. Tapi, dia rajin sekali menunaikan perintah Tuhan yang lima waktu.

 

“Ini bukan kunci motormu?” suara itu mengagetkan aku yang hampir lelap oleh belaian angin. Aku cepat bangun mendatangi suara. Oh! Kunci motorku ternyata ditemukan.

 

“Dimana ditemukan?” tanyaku

 

“Di lemarimu.”

 

“Masak. Lemari yang mana?”

 

“Ini.”

 

“Bukan. Itu bukan lemariku. Itu lemari Andi. Di, kamu menyembunyikan kunci motorku?” tanyaku berkelakar pada Andi.

 

“Nggak. Serius nggak!” jawabnya. Dahinya berkerut.

 

“Padahal aku tidak lapar. Aku hanya kasihan. Karena aku juga pernah mengalami hal yang sama. Ketika aku kehilangan, semuanya yang ada dalam kamar dilempar. Ternyata tetap ketemu apa yang hilang. Barulah setelah tenang, aku  menemukannya karena bantuan ibu.” Statemennya sepulang dari Burjo ASI. Warung tempat makan para pengangguran yang terhormat.

 

“Ku kira, kau teman yang sangat menyebalkan dan hanya bisa menyebalkan.” Ucapku padanya. Tapi dia hanya menoleh dan tersenyum.

 

Lembah Wungu 2011/00:30 

*Terbit di Koran Joglo Semar 10-Juli-2011 dan terantologi dalam “DUA ARUS” 2012 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak