Cerpen: Aroma Tanah Surga

 Cerpen, Mat Toyu



Aku mendapat beasiswa S2 ke Negara Asu. Tapi orang tua melarangku berangkat. Terutama bapak. Pada saat akan kuliah S1 pun, juga bapak yang melarangnya, karena keterbatasan biaya. Dengan serius aku sampaikan akan menbiayai sendiri kuliah S1. Mereka pun tersenyum bahagia saat aku wisuda. Bapak kembali melarangku saat aku pamitan untuk berangkat ke Negara Asu.

 

“Kamu senang mendapat bantuan dari negara itu, Nak?” nada tanyanya keras. Aku mengangguk.

 

“Berangkatlah, Nak. Permintaanku satu. Sepulang dari negeri itu kamu tak usah menginjak kaki di tanah ini. Aku hanya bimbang, sepulangmu dari negeri itu, kamu lupa kakekmu. Lupa pada tetanggamu, atau lebih dari itu. Kamu akan mencekik saudaramu dengan pelajaran negeri itu.”

 

“Aku selalu ingat kakek, nenek, ibu, dan aku tidak akan melupakan saudara-saudara. Selama di rantau, aku selalu menanyakan kabar mereka? Dan pastinya aku ingin bermanfaat bagi mereka semua.”

 

“Iya. Yang terjadi pada kakekmu, tak ingin terulang lagi.”

 

“Aku selalu mendoakan orang-orang terdekat, termasuk kakek!”

 

“Bukan cuma itu. Apa tak ada cerita tentang kakekmu dari gurumu di sekolah?”

 

“Tidak!”

 

“Di rantau pun kamu tak mendapat cerita tentang pembantaian kakekmu?”

 

“Siapa yang membantai?”

 

“Kenapa kamu belum mengetahui tentang pembantaian kakekmu?”

 

“Pembantaian apa, siapa yang dibantai?” aku tak percaya. Apakah kakek dibantai nenek moyang Negeri Asu ? Kenapa baru kali ini aku mendengarnya. Dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, aku tak mendengar cerita pembantaian di negeri ini.


Maos jugan

 

Bapak diam. Melihat halaman rumah yang gelap. Lampu padam sejak tadi sore. Kami menerangi teras rumah ini dengan lampu minyak tanah. Penerangan sederhana. Angin barat menerobos jendela. Meniup kencang lampu kecil itu. Hampir mati. Bayangan kami tergoncang.

 

Aku nyaris tak percaya dengan ucapan Bapak.  “Kakekmu terbantai…” ucapan itu menusuk-nusuk jiwaku. Aku tak bisa tidur. Galau panjang membawaku pada sebuah pertanyaan “Kenapa Bapak mengungkapkan ini pada saat aku akan berangkat ke luar negeri. Di saat aku mendapat apa yang kuharapkan. Mendapat beasiswa S2 di negeri itu?”

 

Kenapa saat aku dipanggil belajar ke negeri itu, Bapak melarangku untuk pergi? Ia mengizinkan, tapi tak usah kembali lagi. Apa guna jika aku tak diizinkan kembali ke kampung halaman sendiri oleh orang tuaku sendiri.

 

Aku bukan bermaksud melarangmu, tapi aku tak tega pada kakekmu, saudara kakekmu, semua orang yang dibantainya. Kamu tidak akan bisa merasakan bagaimana rasanya dilibas tank.

 

Takkan ada cerita tentang itu. Cerita-cerita seperti itu di kubur dan tak boleh diceritakan pada anak cucu bangsa. Namun siapapun yang berniat mengubur cerita itu, aromanya tercium. Semakin dalam menguburnya, semakin keras aroma busuknya. Tidurlah dengan tenang.

 

Aku tak bisa tidur. Ucapan bapak tentang pembantaian akan tergiang  dan menusuk kesadaran. Siapa yang membantai?

 

Apa hubungannya denganku yang akan berangkat belajar ke luar negeri dengan kakek, sampai bapak melarangku berangkat.”

 

Orang tua dari dulu selalu menekankan sejak kecil untuk selalu belajar hingga nyawa melayang, menceritakan tentang seorang ilmuan tanah arab yang berkelana hingga ujung dunia, untuk mencari pengetahuan, sepertinya dengan cerita itu, ibu ingin menyuruhku untuk mengikuti jejaknya.

 

Apa hubungannya pembantaian dengan belajar di negeri orang?

 

Dari dulu orang tua selalu psimis menyekolahkan karena keterbatasan biaya, tapi sekarang ada gratisan, aku dilarang. Aku boleh berangkat, tapi tak usah kembali. Keberangkatan kali ini adalah tampa doa orang tua? Bapak sendiri yang selalu mengajari tentang restu orang tua, terutama ibu.

 

 “Haruskah aku berangkat tanpa doa ibu?”

 

“Aku takkan melarang.”

 

***

 

Dulu seorang lelaki berhidung mancung, kulit putih kemerahan. Berbaju putih dan sepatu hitam. Lelaki itu menaiki kursi roda besar yang ditarik dengan hewan-hewan kuat yang bisa dikendalikan. Satu kuda dan satunya macan.

 

Datang ke tanah subur ini. Tanah gepah ripah loh jinawi. Ia tertarik dengan hasil tanaman-tanaman kakekmu. Lelaki itu menawar hasil tanaman itu dengan harga tinggi. Kakekmu tergiur. Selain itu, lelaki itu juga menawarkan tanaman yang sangat menggiurkan, yang akar hingga buahnya sangat harum. Harganya mahal. Seluruh orang sangat membutuhkan.

 

Lelaki itu sangat cerdas dalam merayu kakekmu agar menjual hasil tanamannya. Kakekmu tergiur. Hanya kakekmu yang menjual pada lelaki itu. Kakekmu cepat kaya. Kakekmu dipinta untuk kembali menanam tanaman yang diperlukan lelaki itu. Satu petak tanah disewa untuk menanamkan tanaman paling berharga itu. Kakekmu dengan senyum puas menyewakannya. Kakekmu bermandikan kekayaan.

 

Lelaki itu meminta untuk mencari tenaga kerja demi kelancaran perdagangan dengan Negara asal lelaki itu. Banyak orang tergiur untuk bekerja daripada menggarap tanah sendiri. Mereka menyerahkan tanahnya untuk ditanami dengan sewa yang mereka sepakati. Tapi akhirnya mereka tak lagi menemukan pekerjaan setelah lelaki itu tak membayarnya. Bahkan mereka mempermainkan harga kebutuhan dan bayaran.

 

Kakekmu kecewa dengan lelaki itu yang merusak tanahnya. Para pekerja banyak yang tak mendapat upah yang seharusnya mereka dapatkan. Saat mereka meminta uang sewa yang belum terlunasi, mereka diancam akan ditangkap. Orang-orang yang berbicara dan menuntut terbayangi dengan ketakutan. Orang-orangpun diam.

 

Kakekmu memaksa lelaki untuk membayar uang sewa yang belum terlunasi. Pembayaran sewa tak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Saat terdesak, hewan-hewan bawahan lelaki itu kuat dan buas menghancurkan rumah-rumah penduduk. Hewan-hewan buas dilepasnya. Tak disangka, hewan yang dibawanya sangat banyak. Kakekmu dan penduduk tak mampu melawan keganasan hewan-hewan itu. Ganas.

 

Kakekmu tertangkap. Disiksa dalam sebuah kamar kecil, pengap dan sangat bau. Tak ada makan yang layak diterima oleh kakekmu. Kakekmu akan dilepas jika kembali bersedia menanamkan apa yang diminta dan tak menuntut sisa uang yang terlunasi. Kakekmu menolak dengan keras. Tapi saat anak perempuannya tertangkap, ditelanjangi dan disetubuhi  hewan-hewan di hadapannya. Kakekmu menyerah. Ia tak tega melihat anak perempuan diinjak-injak hewan.

 

Kakekmu mengumpulkan penduduk yang masih tersisa. Kakekmu menyuruh gadis-gadis mau merawat hewan-hewan. Lelaki itu sangat senang. Lelaki itu tak tahu bahwa di setiap gadis telah membawa keris untuk membunuh hewan-hewan buas setiap malam dan bangkainya dibuang ke sungai dihanyutkan ke laut.


Maos jugan

 

***

 

“Aku masih tidak mengerti apa hubungannya dengan keberangkatanku?” aku memotong cerita. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kakek. Aku kira lelaki itu adalah saudaranya sendiri yang dulu melalangbuana dan pulang dengan pengetahuan baru untuk menciptakan perdagangan.

 

“Kamu tahu dari mana lelaki itu datang? Kenapa mendatangi daratan ini?” Tanya ibu. Aku menggeleng lemah.

 

“Lelaki itu dari utara. Dari Negara yang memberi gratisan sekolah padamu. Dulu, Negara itu sangat miskin dan kelaparan merajalela disana. Mereka sangat kekurangan dan miskin. Mereka menggali tanah, mencari makanan yang tersimpan dalam tanah. Tapi tak ada. Tanah mereka sangatlah gersang dan tandus.

 

Dengan kecerdasannya, mereka menyedikitkan makan agar bisa bertahan. Sebagian makanan dijadikan bekal lelaki utusan mereka. Lelaki itu menyeberangi samudera. Lelaki itu mendarat disini dan bertemu dengan kakekmu yang menguasai tanah ini.

 

Seperti ceritaku tadi. Lelaki itu banyak mengambil makanan yang kakekmu tanam dengan cara mengurangi setiap pembayaran sewa-sewa. Mengirimkannya ke asal negaranya. Di Negara asalnya, makanan itu diolah dan diperdagangkan.

 

Lelaki itu masyhur dengan kekayaannya. Lelaki itu juga menyebarkan cara berdagang yang mapan. Ajaran berdagangnya sangat ampuh hingga sekarang, ajaran berdagang ini paling diminati dimanapun, kecuali beberapa orang yang getir untuk berdagang. Ajaran berdagang ini sangat dikagumi oleh banyak kalangan.

 

Meski kakekmu nyaman dengan ajaran dagang ini, kakekmu kecewa dengan cara-cara yang digunakannya, seperti membunuh saudaranya sendiri, menjauhkan dengan tetangga yang tak bisa berdagang, seakan-akan ia berdagang dengan orang tertentu. Ajaran dan caranyalah yang sangat dibenci kakekmu dan bapakmu hingga sekarang.

 

Jika kamu berangkat ke negeri itu, ajaran mereka ditakutkan menjadi otakmu. Akan menjadi tingkah lakumu.

 

 

Cinta Republik 2012

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak