Seluruh konten di Lalampan.com terbuka untuk dibaca, dipelajari, dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Jika tulisan-tulisan di ruang ini dirasa bermanfaat, panjennengan dapat ikut Arokat Lalampan melalui sedekah seikhlasnya—secangkir kopi, 3K, atau doa terbaik. Dukungan kecil panjennengan membantu kami terus merawat bahasa, sastra, dan jejak budaya Madura. (Dana: 0819-0807-1122 & BRI: 3838-01-008754-53-2)
***
Santun Itu Sederhana, Bukan Berlebihan
Kesantunan bukanlah pertunjukan. Ia tidak membutuhkan panggung, tepuk tangan, atau sorotan kamera. Santun justru tampak indah ketika hadir secara wajar, tulus, dan proporsional. Ia hidup dalam gerak-gerik yang sederhana, dalam pilihan kata yang lembut, dan dalam sikap yang tidak memaksa orang lain untuk mengaguminya. Orang yang benar-benar santun sering kali tidak merasa dirinya sedang menunjukkan kesantunan. Ia hanya sedang memperlakukan orang lain sebagaimana mestinya.
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering
menyamakan santun dengan sikap yang serba berlebihan. Cara berjabat tangan
dibuat terlalu dramatis, membungkuk berkali-kali, memuji tanpa henti, atau
menunjukkan penghormatan yang melampaui kewajaran. Bahkan, tidak sedikit yang
merasa semakin berlebihan penghormatan yang diberikan, semakin tinggi pula
nilai kesopanannya. Padahal, segala sesuatu yang kehilangan ukuran juga akan
kehilangan keindahannya.
Kesantunan sesungguhnya tidak diukur dari seberapa
rendah seseorang membungkukkan badan atau seberapa panjang ia melontarkan
pujian. Kesantunan diukur dari ketulusan niat dan kemampuan menempatkan diri
secara tepat. Orang yang santun tahu kepada siapa ia berbicara, bagaimana ia
berbicara, dan kapan ia sebaiknya diam. Ia tidak perlu menciptakan kesan
tertentu agar dipandang sebagai pribadi yang beradab. Adab yang baik selalu
terasa alami.
Maos jugan serradan epon Rowi El-Hamzi se laen
- Syariat Kebiasaan || Rowi El-Hamzi
- Santri Tragedi dan Cerpenisasi Tragedi
- Kata-kata Bijak Rowi El-Hamzi
Menghormati seseorang adalah akhlak yang mulia.
Orang tua layak dihormati karena pengalaman hidupnya. Guru dihormati karena
ilmunya. Pemimpin dihormati karena amanah yang dipikulnya. Namun, penghormatan
tetap memiliki batas. Ketika penghormatan berubah menjadi pencitraan, alat
mencari keuntungan, atau sekadar upaya mendekat kepada kekuasaan, maka batas
antara hormat dan menjilat menjadi sangat tipis. Orang lain mungkin tidak
segera mengatakannya, tetapi mereka dapat merasakan perbedaannya. Ketulusan sulit
dipalsukan, sebagaimana kepura-puraan juga sulit disembunyikan.
Dalam banyak kesempatan, justru kesederhanaanlah
yang meninggalkan kesan paling mendalam. Salaman yang baik cukup erat, hangat,
dan disertai senyum yang tulus. Sapaan yang baik cukup ramah tanpa harus
berlebihan. Ucapan terima kasih tidak perlu dirangkai dengan kalimat-kalimat
panjang yang kehilangan makna. Bahkan, penghormatan yang paling membekas sering
kali hadir dalam tindakan kecil, seperti mendengarkan dengan sungguh-sungguh,
tidak memotong pembicaraan, menjaga janji, atau memberi ruang kepada orang lain
untuk berbicara. Semua itu tampak sederhana, tetapi justru di sanalah adab
bekerja.
Kesantunan juga bukan berarti kehilangan keberanian.
Ada anggapan bahwa orang yang santun harus selalu mengiyakan, selalu mengalah,
atau tidak boleh berbeda pendapat. Pandangan semacam ini kurang tepat.
Seseorang tetap dapat menyampaikan kritik, menolak pendapat, atau mengemukakan
perbedaan pandangan dengan cara yang santun. Nada suara yang tenang, pilihan
kata yang baik, dan penghormatan kepada lawan bicara jauh lebih penting
daripada sekadar menunjukkan persetujuan. Santun bukan berarti lemah. Santun adalah
kemampuan menjaga martabat diri sendiri sekaligus menghormati martabat orang
lain.
Dalam tradisi adab Islam, keseimbangan selalu
diajarkan. Tidak merendahkan orang lain, tetapi juga tidak mengagungkan manusia
secara berlebihan. Sebab, setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di
hadapan Allāh ﷻ sebagai hamba. Yang membedakan
bukan jabatan, kekayaan, atau popularitasnya, melainkan ketakwaannya. Karena
itu, menghormati sesama adalah kewajiban, tetapi mengultuskan manusia hingga
melampaui batas bukanlah akhlak yang dianjurkan. Penghormatan tetap harus
berada dalam bingkai tauhid, sehingga kemuliaan tertinggi hanya dikembalikan
kepada Allāh semata.
Di tengah budaya yang semakin akrab dengan
pencitraan, kesantunan juga sering ikut dipertontonkan. Ada orang yang tampak
sangat sopan ketika berada di depan orang yang berpengaruh, tetapi berubah
biasa saja ketika berhadapan dengan orang yang dianggap tidak memiliki
kepentingan. Ada pula yang sangat ramah kepada atasan, namun keras kepada
bawahan. Kesantunan seperti ini sesungguhnya bukan lahir dari karakter,
melainkan dari kepentingan. Padahal, adab yang sejati tidak memilih-milih
sasaran. Ia tetap hadir kepada siapa pun, baik kepada orang yang memiliki
kedudukan tinggi maupun kepada mereka yang sederhana.
Masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang mampu
membedakan antara penghormatan dan penghambaan, antara kesopanan dan
pencitraan, antara kerendahan hati dan kepura-puraan. Mereka memahami bahwa
adab bukanlah alat untuk mencari pujian, melainkan cara menjaga kemuliaan
hubungan antarmanusia. Mereka tahu kapan harus menghormati, kapan harus
berbicara, kapan harus mengalah, dan kapan cukup bersikap biasa tanpa
kehilangan rasa hormat.
Karena itu, santun tidak perlu dibuat rumit. Bersikaplah sewajarnya. Hormatilah orang lain dengan tulus, bukan karena ingin dipandang baik. Jangan kurang ajar, tetapi juga jangan berlebihan. Sebab, keindahan adab selalu berada di tengah, tidak kurang dan tidak pula berlebih. Di situlah kesantunan menemukan martabatnya. Ia tidak berisik, tidak mencari perhatian, tetapi selalu meninggalkan kesan yang mendalam di hati siapa pun yang merasakannya.
*Mengenal Rowi El-Hamzi secara lebih dekat, Pece' disini:
