Syariat Kebiasaan || Rowi El-Hamzi

Syariat Kebiasaan || Rowi El-Hamzi

Syariat Kebiasaan

Ada ironi halus dalam masyarakat kita: apa yang halal belum tentu diterima, dan apa yang haram belum tentu ditolak. Bukan karena manusia bingung membaca hukum, tetapi karena mereka terlalu tunduk pada kebiasaan.

Segala sesuatu yang tidak lazim, meski jelas-jelas dibolehkan syariat, sering dipandang aneh. Orang lalu sibuk mempertanyakannya, mengernyitkan dahi, bahkan menuding seolah ada kesalahan tersembunyi. “Kok begitu?” Padahal jawabannya sederhana: karena mereka belum biasa melihatnya.

Sebaliknya, sesuatu yang jelas dilarang—bahkan tanpa perlu penjelasan panjang—akan mudah dimaafkan jika sudah jadi rutinitas. Seolah-olah kebiasaan bisa menjadi dalil baru. Seolah yang sering dilakukan otomatis berubah menjadi benar.

Harusnya yang halal itu lapang. Yang mubah itu ringan. Tapi di tangan manusia, penilaian berubah: bukan berdasarkan syariat, tetapi berdasarkan kenyamanan. Hukum Allāh dipertimbangkan belakangan; yang didahulukan adalah rasa canggung di tengah masyarakat.

Begitulah anehnya manusia: sering merasa lebih takut pada komentar orang ketimbang pada aturan yang seharusnya mengikatnya. Mereka berkata peduli agama, tapi yang mereka ikuti justru adat yang tidak pernah diikrarkan siapa pun.

Kita melihat orang menampakkan kebiasaan buruk, namun dibiarkan karena “sudah biasa”. Tidak ada yang menegur karena semua sudah merestui dalam diam. Tapi ketika seseorang melakukan kebaikan yang jarang terlihat, atau memilih jalan halal yang tidak populer, reaksi yang muncul adalah curiga—seolah ia sedang melanggar batas yang tidak tertulis.

Kebiasaan akhirnya lebih kuat dari hukum. Dan opini orang lebih sakti daripada fatwa.

Padahal seharusnya tidak begitu.

Biasa atau tidak biasa, lumrah atau janggal, yang menjadi ukuran tetaplah syariat. Jika sesuatu dibolehkan, kenapa dipersoalkan? Jika sesuatu dilarang, kenapa dimaklumi hanya karena sudah menjadi budaya?

Aneh memang. Tapi begitulah manusia: sering kali bukan salah paham pada agama, tapi terlalu patuh pada norma sosial. Terlalu takut pada cibiran, terlalu nyaman pada pola lama, terlalu malas mengoreksi apa yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Pada akhirnya, keberanian terbesar bukanlah menjalankan yang sunnah dengan bangga, tetapi melepaskan diri dari genggaman kebiasaan yang salah.

Sebab syariat tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah manusia—dan cara mereka memilih apa yang ingin ditaati.


***


Kapan air mata itu akan kering ?

jika air mata itu telah kering, apakah kesedihan akan berlalu ?

 

Kaki gemetar menyambut pagi,

Kakipun gemetar menyambut senja,

Lalu kemanakah perginya hembusan angin sabar itu menerpa ?

 

Jalan hidup dalam lorong kematian,

Kematian dalam nafas kehidupan,

 

Dlm kehampaan,

Diriku terkelupas helai demi helai,

Aku tak mampu,

Aku tak kuasa,

Aku tak mempunyai apapun lagi selain Engkau,

 

aku menyerah dengan caraMu, tenggelamkan aku dalam sujud di keabadian...


***

Panggung ODGJ

Awalnya cuma bercanda. Katanya, sekadar mengolok-olok. Menjadikan ODGJ sebagai tokoh, bahan tertawaan, pelengkap obrolan warung dan konten recehan. Tapi melecehkan, kalau dipelihara, bisa tumbuh jadi industri. Maka disusunlah panggung yang rapi. Bukan main-main. Ada skenario, ada kamera, ada penonton, ada tepuk tangan.

Lama-lama orang di sekitarnya ikut menikmati. Asyik juga, rupanya, jadi penerjemah. Ocehan yang tak runtut diberi subtitle intelektual. Mulai dari bahasa Surya12. Kalimat meloncat-loncat dicarikan makna dan dalil. Emosi mentah dipoles jadi keberanian. Kekacauan diberi nama: kejujuran. Ketidakteraturan dikemas sebagai keberanian melawan arus.

Di situ para pengiring menemukan peran. Ada yang jadi juru tafsir, ada yang jadi pembela, ada yang jadi manajer panggung. Mereka bukan sedang menyembuhkan, tapi mengeringi—mengambil sari tontonan dari kegaduhan. Mereka makan dari penampilan itu. Bukan dari kerja kerasnya sendiri, tapi dari riuh yang dihasilkan orang lain.

Mirip atraksi monyet di pinggir jalan. Si monyet meloncat, jungkir balik, dipaksa lucu, dipaksa ganjil. Penonton tertawa, lalu koin jatuh ke kaleng. Yang kenyang siapa? Tentu bukan monyet. Pemiliknya yang tersenyum sambil menghitung receh, merasa itu semua halal karena “monyetnya mau”.

Begitu pula di panggung sosial hari ini. ODGJ dijadikan komoditas. Bukan untuk dipulihkan martabatnya, tapi untuk dijual ke publik. Ketika ocehannya viral, para pengiring panen simpati. Ketika dia jatuh lebih dalam, mereka bilang: beginilah harga keberanian. Seolah kegilaan adalah seni pertunjukan.

Yang paling tragis bukan pada ODGJ-nya. Tapi pada orang-orang waras yang memilih menjadi penonton, bahkan pengelola sirkus. Mereka tahu ini keliru, tapi pura-pura buta. Sebab kalau panggung dibongkar, sumber makan ikut hilang.

Dan kita, sering kali, ikut bertepuk tangan. Tanpa sadar, kita sedang menonton monyet—lalu merasa diri paling manusia.


***

Istri

Kita sering lupa menghitung sesuatu justru karena ia selalu ada. Seperti napas. Seperti detak jantung. Seperti kehadiran istri di rumah.

Karena terlalu lama bersama, semua terasa biasa-biasa saja. Makanan terhidang dianggap rutinitas. Rumah rapi dianggap kewajaran. Anak-anak terurus dianggap memang sudah seharusnya begitu. Yang lebih mudah terlihat justru hal-hal yang mengganggu: cerewet, banyak aturan, pengingat yang diulang-ulang. Padahal jarang kita bertanya dengan jujur: mengapa ia harus cerewet, mengapa hal yang sama mesti dijelaskan berkali-kali?

Mungkin karena kita, para suami, sering mendengar tanpa sungguh-sungguh mendengarkan.

Apa yang dilakukan istri di rumah sebenarnya kerja besar yang sunyi. Dari satu urusan ke urusan lain, dari pagi ke malam, dari hal remeh sampai yang menentukan. Ia mengatur ritme, menjaga keseimbangan, menambal yang bolong, merapikan yang berantakan—tanpa panggung, tanpa tepuk tangan. Bukan sekali dua kali, tapi setiap hari. Bertahun-tahun.

Yang paling berat bukan lelah fisik. Tapi menaklukkan kejenuhan hati. Mengulang kebaikan yang sama, pada orang yang sama, di ruang yang sama, tanpa tahu kapan jedanya. Tidak ada beban yang lebih senyap, sekaligus lebih dalam, dari kesetiaan yang terus diuji oleh kebiasaan.

Anehnya, kita baru sadar saat ia tidak ada. Pergi beberapa hari saja, rumah terasa pincang. Ada yang lupa, ada yang terbengkalai, ada yang tak berjalan sebagaimana mestinya. Barulah kita tahu, selama ini bukan rumah yang kuat—tapi ada seseorang yang diam-diam menopangnya.

Dan pikiran itu menjadi semakin menyesakkan ketika membayangkan: bagaimana jika ia tidak pergi sementara, tapi pergi selamanya.

Maka sebelum semua menjadi penyesalan, barangkali yang perlu kita lakukan sederhana saja: lebih hadir, lebih mendengar, dan lebih menghargai. Karena cinta dalam rumah tangga sering tidak hilang—ia hanya terlalu lama dianggap biasa.

***

Ada juga rupanya manusia langka semacam itu.

 

Nonton bola tanpa niat berperang.

Tidak bawa bendera. Tidak hafal chant. Tidak sibuk debat wasit. Datang hanya dengan mata dan sedikit rasa gembira.

Goal kanan—dia lompat. Goal kiri—dia lompat lagi. Bukan plin-plan, katanya. Tapi merdeka.

Ia menyebut dirinya pecinta bola. Bukan pecinta klub. Bukan pemuja logo. Bukan pembela sejarah masa lalu yang bahkan pemainnya sudah pensiun atau pindah klub. Baginya, bola ya bola. Indah saat mengalir. Menarik saat tak terduga. Menyenangkan saat kaki dan akal bertemu di lapangan yang sama.

Di zaman serba kubu, orang semacam ini sering dicurigai. “Netral? Mustahil.” “Pasti sembunyi dukungan.” “Pasti takut berdebat.”

Padahal bisa jadi ia hanya capek marah.

Capek membela sesuatu yang tak pernah tahu namanya. Capek merasa wajib membenci pihak lain hanya karena warna kaus berbeda.

Ia tak butuh menang lewat orang lain.

Tak merasa harga dirinya naik saat klubnya juara. Dan tak runtuh hidupnya saat tim kesayangan—yang memang tidak ia punya—kalah telak. Menonton bola baginya bukan ajang identitas. Tapi jeda. Ruang kecil untuk bersenang-senang tanpa harus membuktikan apa pun.

Mungkin ia terlalu dewasa. Atau terlalu malas ribut. Atau justru terlalu jujur mengakui: yang ia cintai bukan kubu, melainkan permainan. Dan di dunia yang gemar membelah segalanya—kanan kiri, kami mereka—bersikap netral kadang terasa lebih revolusioner daripada teriak paling kencang di tribun mana pun.


Post a Comment

Previous Post Next Post
Lalampan

Contact Form