PUISI-PUISI KARYA ERHAN AL FARIZI


Senjata Pertama dan Terakhir Bernama Doa

 

Bersama-Mu,

aku ingin menyudahi segala pencarianku.

Bersama-Mu,

aku ingin melampaui puncak arketipku.

Bersama-Mu,

aku ingin mendapati kesahihan nasibku.

Bersama-Mu,

aku ingin menginsafi seluruh masa laluku.

Bersama-Mu,

aku ingin memunajatkan masa depanku.

Bersama-Mu,

aku ingin khusyuk dalam masa kiniku.

 

Karanganyar, Maret 2025




 

Menuju Kehilangan Lain: Sebuah Pengantar

 

Sejarah manusia memang bermula dari tanah

Tapi sialnya hidup sesekali serupa pasir:

Semakin merapat kau mencengkeram,

Semakin banyak yang kaugugurkan

 

Tuhan, atas nama menipisnya hitung mundur jam pasir

Betapa jemari hamba belum fasih belajar memegang nasib

Maka, jemari hamba akan senantiasa menzikirkan nama-Mu

 

Karanganyar, September 2024


 

Pelajaran Berkhawatir

(memutar Iwan Fals — “Sarjana Muda”)

 

Ia mabuk membaca bergugus buku-bukunya

dibentang melayari gelar di tahun ke empat.

 

Ia muntah menjejaki berserak surat lamaran

sebagai lanjutan garis putus penghidupannya.

 

Ia pilih melupa sabda para tokoh jauh bahwa,

“Kertas dan buku telah menggerakkan zaman.”

 

Ia tak hendak memamah seisi bumi, kali ini

lambungnya hanya mendamba sesuap nasi.

 

Lapar pun melemahkan jantung dan kepala

sedang hati menakar jalur halal juga haram.

 

Ibadah paling panjang hingga liang lahat itu

diberi nama sebagai mempergulatkan ilmu.

 

Karanganyar, April 2025

 


 

Revolusi dari Ranjang Penganggur

 

ranjang serta gravitasinya memabukkan, kawan

hanya menanti waktu sebelum warasmu terhisap

dan jalur-jalur perdagangan meluntur dari petamu

apa yang lebih maha terlambat dari rasa sesal?

 

demi masa, tiada makhluk yang selicin waktu

kau lantas mempertobatkan hari-hari merahmu

dan bersuci dari dosa besar berwujud rasa malas

nasib baik tak pantas ditunggu, ia mesti diburu

 

telah digariskan siang dan malam pada manusia

masa gerak yang dua kali lebih dari masa lelap

ada fitrah langit yang tak kuasa kaudustakan

terkait jihad sebagai khalifah di penjuru jagat

 

bahwa jemarimu merindui berdoa dan bekerja

maka, kaubuka lapangan, kaubaca kesempatan

kaupernis lagi daftar riwayat sejarah tubuhmu

meski hanya sekian sakit yang membesarkanmu

 

rasa sakit itu, kawan,

rasa sakit itu telah menebalkan lutut dan tangan

 

Karanganyar, Maret 2025


 

Telaga Kecil Mewujud Kepalamu

 

untuk sisa hari. ia izin hendak mengumpati air

kendatipun 60% tubuhnya tersusun dari air.

ia kutuki kepalanya sebagai penghasil air

matanya. setiap malam menuding pukul satu.

 

dulu, menjelma bocah ingusan yang hobi hujan-hujanan:

ia tak gentar sakit, tak gentar hujan jatuhkan nisan-nisan

itu masa lalu. namun sekarang ia membenci hujan.

ia membenci air. ia membenci tubuhnya.

 

Karanganyar, Januari 2025


 

Biodata Singkat Penulis

 

Erhan Al Farizi lahir tahun 2001 di Karanganyar, Jawa Tengah. Ia merupakan alumnus prodi Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret. Selama menjadi mahasiswa, ia telah menjuarai belasan perlombaan sastra tingkat nasional. Buku perdananya adalah kumpulan puisi yang berjudul Bagaimana Mengubah Rasa Sakit Menjadi Sense of Art: Sebuah T̶u̶t̶o̶r̶i̶a̶l (2023). Dalam kesehariannya kini, ia menjalani profesi sebagai guru Bahasa Indonesia di Kabupaten Sragen.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form