Warung Kopi Dan Kisah Yang Belum Usai

cerpen, siti rukaiyah, pmii, teater, ippnu, dasuk, fatayat, muslimat, pergerakan, aktivis, kisah cinta para aktivis, sumenep, pamekasan, sampang, bangkalan, madura jawa timur


“Ra, boleh tidak jika saya meminta kesempatan kedua ?”

“Maaf Kak” Hening, tak ada kata yang mampu menerobos dua insan yang masih bertarung dengan pikiran mereka masing-masing. Mata elang lelaki itu tetap pada titik tujunya, pada Aira Mahalini, perempuan aktivis yang kritis ini ternyata mampu membuat sang aktivis jalanan, Romeo Jackshon untuk menjadikan dirinya sebagai ratu dalam hidupnya.

“Seharusnya, hening ini tak kan tercipta jika saja satu bulan lalu saya tidak mengambil keputusan terlalu cepat Aira, maafkan saya” Pinta aktivis jalanan itu akhirnya, memecah keheningan.

Aira tersenyum setelah menghela nafas panjang sebelum akhirnya mulai berbicara dengan gaya elegannya, posisi tubuh tegap yang biasa ia gunakan ketika sedang berdiskusi.

“Romeo Jackshon, Senior saya yang saya hormati, sebelumnya terima kasih atas kebaikan anda terhadap saya dan tenang saja saya sudah memaafkan anda, tapi sekali lagi mohon maaf, jika anda ingin saya untuk kembali menjadi kekasih anda, saya tidak bisa. Dan memang benar bahwa seharusnya satu bulan lalu anda tidak mengambil keputusan yang terlalu cepat, karena seorang aktivis sejati seharusnya tidak mungkin mengedepankan emosi, Permisi saya harus pergi.” Aktivis perempuan itu pergi meninggalkan Romeo yang masih mematung dengan segala penyesalannya.

Maos jugan

***

1 Januari 2024

“Aira, besok jangan lupa hadir rapat ya, di warkop belakang kampus” Ucap Bastian, ketua UKM teater Ganesha Aira di kampusnya yang baru terpilih dua bulan lalu. Bastian mengayomi semua anggota teater terlebih pada Aira yang dia anggap sebagai adik sendiri.  

Usai kelas, Aira langsung ke warung kopi belakang kampus yang jaraknya tak jauh. Warung kopi yang letaknya strategis itu memang sangat ramai pengunjung, selain jaraknya yang tak jauh, harga yang tersedia disana sangat terjangkau untuk kantong para mahasiswa. Aira sampai disana sekitar lima menit, ternyata dugaaannya salah, dia kira tak akan telat tapi ternyata warkop sudah dipadati oleh warga teater.

“Aira, mari kesini.”

“Iya kak” Aira langsung ke tempat duduk yang sudah dipadati warga teater tersebut, menuju sumber suara yang tadi memanggilnya, suara yag tak lagi asing baginya, suara Bastian.

Pada rapat kali ini UKM teater Rapat yang berjalan selama kurang lebih tiga puluh menit itu akhirnya selesai, sebagian dari warga teater suah pulang menuju rumah dan kos masing-masing, yang lainnya masih  bertarung dengan pikirannya masing-masing bersama kepulan asap rokok dan laptop dengan setumpuk buku disampingnya. Mereka adalah mahasiswa semester akhir yang masih menggilai organisasi, tak terkecuali Bastian. Dari jarak lima meter dari tempat Bastian duduk terlihat Aira yang sudah bersiap menaiki sepedanya, tapi langkahnya terhenti.

“Aira” Panggil Bastian dengan buku ditangannya. Aira tersenyum dengan mata berbinar, berhenti dari pekerjaannya dan segera mengahmpiri Bastian. Sepertinya buku di tangan Bastian adalah buku yang sangat berharga.

“ Kak, itu itu buku “PMII di simpang jalan?” kan ? “

“ Iya Aira, kemaren di toko buku kamu bilang menginginkannya, jadi sekarang buku ini untuk Aira ya”

“ Ini serius Kak?”

“ Iya, anggap saja ini hadiah ulang tahun untuk Aira.”

“Tapi, Aira kan masih ulang tahun bulan Februari Kak”

“Kak Bastian, Bulan Februari ndak di Madura, jadi hadiahnya diberikan hari ini saja, tidak apa bukan?"

“ Iya, ndak papa, memangnya bulan Februari mau kemana?”

“ Kak Bastian harus ke Jember, menemui orang tua Aisyah.”

“Kak Bastian, akan melamar Mbak Aisyah? Kak Bastian Pacaran sama Bak Aisyah sejak kapan?, kok ndak bilang-bilang? “   

“Hhhaaha, kamu ini seperti wartawan saja, banyak pertanyaan, kita ndak pacaran, Kak Bastian menyukai Aisyah sudah lama, tapi baru berani mengunggkapkan dan Alhamdulillah diterima, jadi tak langsung lamar. Ini cincin untuk dia nantinya, bagus tidak? Kak Bastian boleh pinjam tangan Aira tidak? Karena sepertinya ukuran tangan Aisyah sama Aira sama.”

Maos jugan

“Ahh Kak Bastian ini, tentu saja boleh.”

Bastian memasangkan cincin itu ke tangan mungil Aira, Aira bahagia melihat seiornya yang aktivis itu akhirnya memilih Aisyah, Kakak tingkatnya yang merupakan Ketua UKM Dakwah di kampusnya. Dari kejauhan, ternyata berdiri, Romeo Jackshon, pacar Aira dengan kepalan tangannya. 



*Nama lengkap Siti Rukaiyah, tapi di dunia literasi lebih akrab disapa Siti Dzuhur, Dzuhur ya bukan ashar atau magrib apalagi subuh biar ndak ngantuk baca tulisanku. Hehe. Mahasiswa semester akhir di Universitas Annuqayah yang hinggap di prodi matematika hanya karena suka angka, karena kalau suka BTS namanya Army. Kegiatan sekarang, Aktif di PAC IPPNU Dasuk dan PMII Komisariat Guluk-Guluk. Bisa dihubungi  lewat jalur e-mail:sitirukaiyah555@gmail.com  & ig:ryuka_sr , tapi kalo mau masuk syurga bisa lewat jalu ibadah yaa guys. Hehe. Salam Literasi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak