Perutku Sumur Tua

Perutku Sumur Tua

 

Kunang-kunang

 

di rumput bergoyang jejak masa silam terulang

kisah sepasang kekasih melayang tersapu angin ribut lalu-lalang

 

daun berjatuhan di kepalaku mencipta sebuah ruang delusi

tentang mimpi yang bergelantung kepadaku

yang sedang telentang menatap langit bak menantang

 

aku sedikit tak tenang mengolah napasku

yang sengau pandangan mataku menghijau

aku pun kian merisau dadaku sakit bukan kepalang

bak tersayat pisau mengapa duniaku jadi kacau?

 

sampai akhirnya aku tersadar inilah akhir dari perjalanan

hidupku yang cukup panjang aku tak lagi mengigau inilah waktunya aku berpulang

 

dalam kelam yang selalu menerjang

aku menimbang satu bimbang

akankah kelak aku dikenang

laksana kunang-kunang yang menjadi penerang di kala kegelapan datang?


Jakarta, 2024

Maos jugan

 

 

Petak Umpet

 

setelah hompimpa, kututup mata

berhitung sepuluh angka

mencari sembunyi

katakata

kucari dalam kemiringan matahari

geliat angin dan air

tapi tak aku temukan

hanya bayang-bayang

dan alir dingin hari

kupejamkan mata tanpa hompimpa

satu persatu, kata mulai menyala

menjadi pijar puisi

giliran aku yang sembunyi

 

 

Perutku Sumur Tua

 

perutku sumur tua

ia meraung meminta ditimba

derek air berdecit karat lumut

daun kering mengganggu jalan ketika ember sampai ke dasar

dan kau menariknya tanpa curiga aku tersenyum,

mengira kau akan terjun ke bawah lambungku

tempat meremas sepotong ayam goreng dan dingin pengacuhan

 

perutku sumur tua akuarium keserakahan manusia

subur menggelembung ditinggali kesedihan

orang-orang duafa bibir lumutan ini

nyaris melumut pinggang keriput

yang kau jaga meskipun di ujung penjagaan lampu neon

kau tak akan sengaja melepas tali untuk membuatku cendera

 

Jakarta, 2024

Maos jugan

 

Ruang Penonton

 

ke arah gelap, aku

berjalan menuju petang

meninggalkan deretan kursi

 

pada dadaku waktu kian rapuh

dikenangkang sebuah lorong dan potongan karcis yang terlepas

 

sebentar, layar dimatikan

membiarkan penonton keluar perlahan

seperti selepas menghadiri misa

 

sementara lagu penutup masih terdengar

sementara lampu-lampu dinyalakan

mataku terhenti pada sepasang tirai dan selendang renda

tersia-sia di atas kursi

 

sunyi yang sia-sia

aku sering bertengkar dengan malam

tentang sunyi yang hadir tanpa permisi

tentang kopi yang tak lagi

ada yang menemani

 

malam hanyalah luka

menggores sepi

menjadi sebongkah puisi

 

sedangkan kopi adalah tinta

tempat penyair

melemparkan kata-kata

namun tak ada makna

selain sunyi yang sia-sia



Nailussururi adalah Warga Batang-Batang Laok, Indonesia Raya. Alumni Taufiqurrahman.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak