Lautan Politik, Sajak Nailussururi

Lautan Politik, Sajak Nailussururi, bahasa dan sastra madura, carpan, sanja', resensi, indonesia, warung madura, banyuwangi,



Air Terjun

 

Gemericik tetesan suara air terjun  mengalir

Airnya menyusuri bebatuan berpasir

Menyeruak gelembung berbulir-bulir

Terhampas angin debu terbang berbutir-butir

 

 Kicauan burung terdengar merdu

Bagai nyanyian nan syahdu

 Mentari bersinar buram sendu

Menyatu dengan alam nan padu

 

Burung berkelompok terbang beriringan

Mengitari air terjun di sebelah bebatuan 

hingga di ranting pepohonan

Sungguh indah alam pedesaan

 

 

 

Hutan Hujan Tropis

 

Hutan rimbun di suatu kawasan

Bagai zamrud perhiasan

Tampak indah kehijauan

Berada di daerah perbatasan

 

 

Berkas cahaya mentari tembus sedikit ke dalam

Pepohonan rapat yang ada di alam

Tampak rerumputan dan bunga sedap malam

 

Keadaan gelap bagai malam

 

Anggrek subur di hutan hujan tropis

Menempel di sela batang pohon pakis

Cabang rantingnya agak terkikis

Bagai benalu yang mengiris-iris

 

Maos jugan

 

Sebuah danau

 

Di suatu pegunungan

Terpisah oleh danau biru kehijauan

Airnya tampak jernih transparan

Dipenuhi cadangan air resapan

 

 

Di sisi sebuah danau

Tampak burung bangau

Suaranya agak parau

Bulu putihnya berkemilau

 

Ikan-ikan berenang melompat,

Bagai berlari hingga meloncat,

Bersembunyi dari predator yang sedang bersiasat,

 

Bagai sebuah permainan petak umpet.

 

 

 

Lautan

 

Terdengar suara burung elang laut

Bagai panggilan saling bersahut-sahut

Menyambut para nelayan dan pelaut

Mengundi nasib di sisi laut

 

Ikan-ikan bertebaran

Berlari berkejaran

Bagai lomba renang di lautan

Penuh peruntungan

 

 

Tampak sampan para nelayan, 

memangsa  kali

Penampakan ikan

Bagai arena pemancingan

 

 

Pisau Puisi Pemenang

 

Warung berantap lembayung

Sekumpulan politikus meminum senja

 

Mereka mengidam duit kopi setelah legam kopi jelata bergelora di lidah

 

Pisang goreng hilang hangat seperti asa warga

Yang disaji tak dilahap

 

Politik adalah rokok

Yang mereka kongsi sekotak

Lalu mati di liang yang asing...

 

Maos jugan

Hari Tanpa Politik

 

Warung nuansa Maghrib

Ada anak-anak yang melihat matahari benam

Berasumsi hari tanpa politik adalah merdeka

 

 

 

Sajak Bulan Maret

 

Dari mendung-mendungnya yang selalu menipu

aku selalu takut. Itu akan membuat bajuku basah

Suatu ketika akupun bersiaga mencari tempat berteduh

berusaha  mencari tempat yang tersedia untuk diriku

 

Langkah kecilku bersemangat menemuinya

langkah kian besar setelah tau disana ada bangku

akupun duduk bersanding, dekat bunga kembang sepatu

cerita kecilpun dimulai untuk mengisi kecanggungan

dari kabar hingga berlabu arah tujuan pulang

 

Tak disangka aku bertemu tetangga rumahku

berjarak sepuluh rumah dari gerbang komplek

dia juga mengenali ibuku  dan saudari perempuanku

cerita kian seru sampai lupa kalo kita hanya berteduh

dari keraguan mendung langit juga kian sore

kuputuskan tuk pulang, menuju mendung ke mendung.

 

Ikan Dalam Jiwa

 

Aku dan kolam adalah renungan

Aku dan air adalah kehidupan aku dan ikan adalah perjalanan

Aku dan arus adalah kerumitan

Aku dan akuarium adalah kepalsuan

Aku dan Darmaga adalah tujuan

Aku dan kau adalah kepasrahan

Dari langit mencintai kajadian

Tetap aku--- cuma setitis kewujudan

Dari maha cinta-mu yang mengutuhkan lautan.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak