Ketika Die Mannschaft Kehilangan Taring



Ketika Die Mannschaft Kehilangan Taring: Membaca Kemunduran Jerman Pasca 2014

Malam itu, 13 Juli 2014, Stadion Maracanã di Rio de Janeiro menjadi saksi lahirnya sebuah mahakarya sepak bola. Gol semata wayang Mario Götze pada babak perpanjangan waktu (menit 113) mengantarkan Jerman menaklukkan Argentina. Di tribun, puluhan ribu pendukung bersorak. Di depan televisi, jutaan pasang mata menyaksikan sebuah tim yang nyaris sempurna. Mereka disiplin, efisien, tenang, dan mematikan.

Jerman bukan hanya juara dunia. Mereka adalah definisi dari Die Mannschaft.

Banyak orang mengira kejayaan itu akan bertahan lama. Bukankah generasi itu masih dihuni Manuel Neuer, Thomas Müller, Toni Kroos, Mats Hummels, Mesut Özil, hingga Sami Khedira? Bukankah akademi sepak bola Jerman saat itu disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia? Bukankah Bundesliga menjadi contoh liga yang sehat secara finansial?

Namun sepak bola selalu menyimpan ironi. Empat tahun kemudian, di Rusia, dunia dibuat terkejut.

Juara bertahan itu tersingkir di fase grup. Kekalahan dari Meksiko (1-0) dan Korea Selatan (2-0) menjadi mimpi buruk dan menjadi salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah sepak bola Jerman. Banyak yang berkata, "Ini hanya kecelakaan." Bahkan di Piala Eropa tahuan 2016, perjalanan German terhenti di Semifinal oleh tuan rumah Prancis (2-0).

Sayangnya, kecelakaan itu terulang.

Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Jerman kembali gagal lolos dari fase grup. Menang 4-2 atas Kosta Rika dan ditahan imbang 1-1 Spanyol serta kalah 2-1 oleh Jepang sehingga hanya mengoleksi 4 poin. Dua kali berturut-turut gagal melewati babak awal bukan lagi kebetulan. Itu adalah tanda bahwa ada sesuatu yang sedang retak di tubuh sepak bola Jerman. Serta pada pada Piala Eropa 2020, German kalah 0-2 dari Inggris.

Pada 2024, German menjadi tuan rumah (Host) Piala Eropa, dengan cukup meyakinkan menang 5-1 Skotlandia di pertandingan pembuka, lalu berhasil membekap Hongari 2-0 dan bermain imbang dengan Swiss 1-1 di Signal Iduna Park, menang dengan cukup meyakinkan di 16 besar atas Denmark 2-0. Namun terhenti di Perempat final oleh Spanyal dengan skor 2-1. Sungguh penuh kegagalan.

Kini, di Piala Dunia 2026, German memang berhasil melewati fase grup. Namun langkah mereka belum lagi mengembalikan aura sebagai penguasa dunia. Tim yang dulu selalu masuk daftar favorit juara kini lebih sering dipandang sebagai kandidat yang masih mencari bentuk permainan terbaiknya.

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi? Mudah sekali menyalahkan pelatih. Lebih mudah lagi menyalahkan pemain. Namun persoalannya tampaknya jauh lebih dalam daripada itu.

Tim nasional sesungguhnya hanyalah puncak gunung es. Apa yang terlihat setiap empat tahun sekali merupakan hasil dari proses panjang yang berlangsung di kompetisi domestik, akademi, hingga filosofi bermain sebuah negara. Karena itu, jika ingin memahami kemunduran Jerman, kita harus melihat ke Bundesliga.

Dalam satu dekade terakhir, kompetisi kasta tertinggi Jerman nyaris selalu menjadi milik Bayern München. Gelar demi gelar datang silih berganti. Sesekali dominasi itu terusik, seperti ketika Bayer Leverkusen tampil luar biasa pada tahun 2024, tetapi secara umum persaingan tidak seketat Liga Inggris atau Liga Spanyol serta Seri A Italia.

 

Dominasi memang menunjukkan kualitas Bayern. Namun dominasi yang terlalu panjang juga memunculkan pertanyaan. Apakah kompetisi yang kurang kompetitif membuat intensitas persaingan ikut menurun? Liga adalah ruang belajar. Di sanalah pemain dibentuk untuk menghadapi tekanan. Jika tekanan kompetisi berkurang, bukankah secara tidak langsung mental kompetitif juga ikut terpengaruh? Pertanyaan itu semakin menarik ketika melihat kiprah klub-klub Jerman di Eropa.

Sejak 2015, hanya Bayern Munchen yang sempat mencicipi lagi menjadi juara Liga Champions pada 2020, sepak bola Jerman belum lagi mengangkat trofi paling bergengsi antarklub di Eropa. Borussia Dortmund memang sempat mencapai final pada 2024, tetapi gagal menjadi juara.

Bandingkan dengan Inggris yang hampir setiap musim mengirim beberapa klub hingga babak akhir, atau Spanyol yang dalam dua dekade terakhir silih berganti menguasai Eropa, serta kehadiran PSG (klub Prancis) yang menjadi kekuatan baru di liga para juara itu.

Jika liga adalah fondasi tim nasional, maka kondisi itu tentu layak menjadi bahan renungan. Masalah lain tampak jelas di lapangan. Jerman masih mampu menguasai pertandingan. Mereka masih mendominasi penguasaan bola. Masih menciptakan banyak peluang. Namun mereka kehilangan satu hal yang dulu menjadi identitasnya: efektivitas. Dahulu, lawan hanya diberi satu atau dua kesempatan melakukan kesalahan. Dan Jerman akan menghukumnya.

Era Miroslav Klose menghadirkan seorang penyerang yang mungkin tidak banyak menggiring bola, tetapi hampir selalu berada di tempat yang tepat. Oliver Bierhoff adalah sosok lain yang mampu mengubah satu umpan silang menjadi gol kemenangan.

Kini, Jerman memiliki banyak pemain kreatif. Mereka piawai mengalirkan bola dari kaki ke kaki. Mereka memainkan sepak bola modern yang indah dipandang. Namun sering kali, dua puluh tembakan hanya menghasilkan satu gol. Penguasaan bola tidak selalu berbanding lurus dengan kemenangan.

Sepak bola pada akhirnya tetap ditentukan oleh siapa yang paling efisien mengubah peluang menjadi gol. Di sisi lain, pertahanan yang dahulu menjadi benteng kokoh kini lebih mudah ditembus. Jerman yang dulu identik dengan organisasi permainan yang rapi kini lebih sering kebobolan, bahkan saat tampil dominan. Ironisnya, ada banyak pertandingan di mana mereka bermain lebih baik daripada lawan, tetapi justru pulang dengan kepala tertunduk.

Mungkin yang sedang hilang bukan sekadar seorang striker. Bukan pula hanya seorang bek tangguh. Yang perlahan memudar adalah identitas.

Dulu, ketika orang mendengar nama Jerman, yang terbayang adalah sebuah tim yang nyaris tidak pernah panik. Tim yang bermain kolektif, disiplin, dan efisien. Mereka mungkin tidak selalu atraktif, tetapi hampir selalu tahu bagaimana memenangkan pertandingan.

Kini, identitas itu seperti sedang mencari bentuk baru.

Sepak bola modern menuntut penguasaan bola, pressing tinggi, rotasi posisi, dan kreativitas menyerang. Jerman mencoba mengikuti arus itu. Namun dalam prosesnya, mereka justru kehilangan sebagian karakter lama yang membuat mereka begitu ditakuti.

Die Mannschaft yang dahulu terkenal dingin dan efektif kini sering terlihat gugup ketika peluang demi peluang gagal berbuah gol.

Tentu, terlalu dini menyebut Jerman telah berakhir.

Sejarah menunjukkan bahwa negara ini berkali-kali bangkit setelah mengalami masa sulit. Mereka pernah gagal, lalu kembali menjadi juara dunia. Mereka pernah diremehkan, lalu muncul dengan generasi emas yang mengejutkan dunia.

Karena itu, kemunduran pasca-2014 mungkin bukan akhir sebuah perjalanan. Bisa jadi, ini hanyalah masa transisi menuju babak baru. Namun ada satu pelajaran penting yang layak dicatat. Prestasi tim nasional tidak lahir secara instan. Ia dibangun oleh kualitas liga domestik. Ia dipelihara oleh persaingan antarklub. Ia dirawat melalui pembinaan pemain muda. Dan yang paling penting, ia bertumpu pada identitas yang tidak mudah berubah hanya karena pergantian generasi.

Maracanã 2014 akan selalu dikenang sebagai puncak kejayaan sepak bola Jerman. Tetapi sejarah tidak pernah berhenti pada satu malam. Kini pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi mengapa Jerman gagal setelah 2014. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: mampukah Die Mannschaft menemukan kembali jati dirinya, atau justru sedang memasuki era baru yang belum sepenuhnya mereka pahami?

 

**

Seluruh konten di Lalampan.com terbuka untuk dibaca, dipelajari, dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Jika tulisan-tulisan di ruang ini dirasa bermanfaat, panjennengan dapat ikut Arokat Lalampan melalui sedekah seikhlasnya—secangkir kopi, 3K, atau doa terbaik. Dukungan kecil panjennengan membantu kami terus merawat bahasa, sastra, dan jejak budaya Madura. (Dana: 0819-0807-1122 & BRI: 3838-01-008754-53-2). terutama untuk konten-konten berbahasa Madura. 


Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form