TAMBUL. 1448. Tidak semua orang ingin menjadi Presiden, Gubernur,
atau Bupati. Ada pula mereka yang sejak awal merasa terpanggil untuk bekerja
bersama masyarakat, mendengarkan orang lain, mendampingi yang sedang kesulitan,
atau membantu sebuah desa menemukan jalannya sendiri.
Profesi seperti itu mungkin tidak selalu menjadi
perbincangan di media sosial, tetapi keberadaannya selalu dibutuhkan. Sebab
kehidupan tidak hanya membutuhkan orang yang mampu membangun gedung, tetapi
juga mereka yang mampu membangun manusia.
Di STID Raudlatul Iman, ada dua program studi yang
lahir dari semangat tersebut, yakni Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dan Bimbingan
dan Konseling Islam (BKI). Keduanya sama-sama berangkat dari nilai-nilai Islam,
tetapi memiliki cara yang berbeda dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Jika tertarik membangun masyarakat, PMI bisa menjadi
ruang belajar
Sering kali kita melihat sebuah desa memiliki
potensi besar, tetapi belum berkembang. Ada kelompok usaha yang berhenti di
tengah jalan, pemuda yang bingung mencari peluang, atau program bantuan yang
datang silih berganti tanpa meninggalkan perubahan yang berarti.
Masalah seperti itu tidak selalu selesai hanya
dengan bantuan dana. Dibutuhkan orang-orang yang mampu mendengarkan, memetakan
persoalan, menyusun program, lalu mendampingi masyarakat hingga mampu berdiri
di atas kaki sendiri.
Di situlah mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam
(PMI) belajar.
Selama kuliah, mahasiswa tidak hanya mempelajari
teori pembangunan, sosiologi, pemberdayaan masyarakat, maupun penelitian
sosial. Mereka juga belajar membaca kehidupan dari dekat, memahami bagaimana
sebuah komunitas bekerja, mengapa kemiskinan bisa bertahan, dan bagaimana
perubahan dapat dibangun bersama masyarakat, bukan dipaksakan dari luar.
Karena itu, lulusan PMI memiliki ruang pengabdian
yang cukup luas. Ada yang bekerja sebagai pendamping desa, fasilitator
pemberdayaan masyarakat, pengelola program sosial, penyuluh, peneliti,
konsultan, hingga menjadi bagian dari lembaga filantropi seperti pengelola
zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Di sektor swasta pun peluangnya terbuka. Banyak
perusahaan membutuhkan tenaga yang mampu menjalankan program Corporate Social
Responsibility (CSR) dan community development. Dunia usaha mulai menyadari
bahwa keberhasilan perusahaan juga ditentukan oleh hubungan baik dengan
masyarakat di sekitarnya.
Sebagian lulusan bahkan memilih membangun usaha
sosial (sociopreneur), mengembangkan UMKM, atau mendampingi komunitas agar
mampu tumbuh secara mandiri.
Ketika seseorang membutuhkan tempat bercerita, BKI
hadir
Di sisi lain, kehidupan modern juga menghadirkan
tantangan yang tidak selalu terlihat.
Ada anak yang kehilangan percaya diri. Ada remaja
yang bingung menentukan arah hidup. Ada pasangan yang kesulitan menjaga
keharmonisan keluarga. Ada pula seseorang yang sekadar membutuhkan teman bicara
tanpa merasa dihakimi.
Dalam situasi seperti itu, kemampuan mendengar
sering kali lebih berharga daripada sekadar memberi nasihat.
Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI)
mempersiapkan mahasiswa untuk menjalankan peran tersebut.
Mahasiswa mempelajari psikologi, teknik konseling,
perkembangan manusia, komunikasi, hingga pendekatan spiritual dalam mendampingi
individu maupun keluarga. Tujuannya bukan menghakimi atau memaksa orang
berubah, melainkan membantu mereka menemukan jalan keluarnya sendiri dengan
pendekatan yang manusiawi dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Karena itu, lulusan BKI memiliki peluang berkarier
sebagai guru BK di sekolah dan madrasah, penyuluh agama, konselor keluarga,
pembimbing rohani di rumah sakit, pendamping rehabilitasi, hingga konselor di
berbagai lembaga sosial.
Tidak sedikit pula yang berkiprah di dunia sumber
daya manusia (HR), menjadi fasilitator pelatihan, maupun membuka layanan
konseling secara mandiri.
Dua jalan yang berbeda, tujuan yang sama Sekilas,
PMI dan BKI tampak mirip karena sama-sama berbicara tentang manusia. Namun
sebenarnya keduanya memiliki fokus yang berbeda.
PMI lebih banyak bekerja bersama kelompok,
komunitas, dan masyarakat. Pertanyaan yang mereka hadapi misalnya: bagaimana
sebuah desa menjadi lebih mandiri, bagaimana ekonomi masyarakat berkembang,
atau bagaimana program sosial bisa benar-benar memberi dampak.
Sementara BKI lebih dekat dengan individu dan
keluarga. Mereka membantu seseorang memahami dirinya, mengatasi persoalan,
memperkuat kesehatan mental dan spiritual, serta menemukan harapan ketika hidup
terasa berat.
Sederhananya, jika PMI berupaya menguatkan sebuah
kampung, maka BKI berupaya menguatkan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Keduanya
saling melengkapi.
Memilih jurusan, memilih cara memberi manfaat
Kuliah pada akhirnya bukan sekadar mengejar gelar.
Lebih dari itu, kuliah adalah proses menemukan cara terbaik untuk memberi
manfaat kepada orang lain.
Ada yang merasa bahagia ketika mampu menggerakkan
masyarakat. Ada pula yang merasa lebih berarti ketika dapat mendampingi
seseorang melewati masa sulitnya.
Apa pun pilihannya, keduanya sama-sama membutuhkan
ilmu, kesabaran, kepekaan sosial, dan hati yang terus belajar.
STID Raudlatul Iman menghadirkan dua ruang belajar
tersebut melalui Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dan
Bimbingan dan Konseling Islam (BKI). Dua jalan yang berbeda, tetapi sama-sama
mengarah pada satu tujuan: menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Barangkali, masa depan bukan hanya tentang "akan bekerja di mana", melainkan juga tentang akan menjadi orang seperti apa. Sebab profesi yang baik bukan hanya menghasilkan penghasilan, tetapi juga meninggalkan jejak manfaat bagi sesama. Dan mungkin, di situlah perjalanan itu bisa dimulai.
