Sunyi di Warung Kopi Pak Kumis
Lalampan.com. Esai. Suara riuh rendah yang biasanya memenuhi warung kopi Pak Kumis setiap empat tahun sekali, kini lenyap. Layar proyektor besar yang sengaja dipasang di sudut warung hanya menampilkan sorotan lampu stadion kosong di seberang benua, ditemani suara komentator TV yang terdengar terlalu dipaksakan untuk bersemangat.
Di salah satu meja, hanya ada Rian dan dua temannya, duduk lesu menghadap cangkir kopi yang sudah dingin.
"Gak kerasa ya, ini lagi Piala Dunia," celetuk Rian sambil membolak-balik gawai miliknya, lebih tertarik melihat video kucing lucu di media sosial ketimbang jalannya pertandingan babak grup yang sedang berlangsung di layar.
"Iya, hambar banget," sahut Dani, menguap lebar. "Jadwalnya kacau, jam tayangnya bikin begadang tapi mainnya monoton. Tim-tim besar mainnya cari aman semua. Gak ada geregetnya."
Pak Kumis, pemilik warung, datang membawa sepiring pisang goreng hangat. Ia menghela napas panjang melihat deretan kursi plastiknya yang kosong melompong. Biasanya, jangankan kursi, lantai warungnya pun penuh sesak oleh anak muda yang rela lesehan demi nonton bareng (nobar). Taruhan kecil-kecilan berupa kopi gratis atau rokok batangan biasanya riuh terdengar. Tapi tahun ini? Sepi.
"Bukan cuma masalah jam tayang atau taktik bertahan, Dan," timpal Pak Kumis sambil menyeka meja. "Euforianya yang hilang. Di kampung kita aja, mana ada yang pasang bendera negara peserta kayak dulu? Di medsos juga sepi. Orang-orang lebih sibuk ngomongin politik, ekonomi, sama konser musik. Piala Dunia kali ini kayak... cuma turnamen biasa yang kebetulan namanya Piala Dunia."
Ketika "Demam Bola" Menjadi Dingin
Apa yang dikatakan Pak Kumis memang benar. Piala Dunia edisi kali ini terasa kehilangan sihirnya di mata masyarakat luas. Ada beberapa hal yang membuat turnamen terbesar di jagat raya ini mendadak kehilangan pesonanya:
Kejenuhan Jadwal (Football Fatigue): Kompetisi sepak bola modern yang terlalu padat membuat para pemain bintang datang ke turnamen dalam kondisi kelelahan. Alhasil, intensitas permainan menurun drastis.
Hilangnya Karakter Ikonik: Generasi megabintang yang dulu menghidupkan rivalitas legendaris telah berlalu. Generasi baru belum mampu menyihir penonton awam dengan drama yang sama.
Kurangnya Ikatan Emosional: Tanpa adanya lagu tema yang ikonik, maskot yang membekas, atau kampanye kreatif yang merakyat, turnamen ini berjalan mekanis—hanya sekadar bisnis besar di layar kaca.
Kembali ke warung kopi, peluit panjang babak pertama berbunyi. Skor masih kacamata, 0−0. Minim peluang, minim drama.
Rian melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sebelas malam. Ia lalu berdiri dan merogoh kantongnya untuk membayar kopi.
"Pulang yuk, Dan. Ngantuk. Mending tidur buat kerja besok daripada nonton babak kedua," ajak Rian.
Dani mengangguk setuju, langsung bangkit dari kursinya tanpa ragu. Mereka berpamitan pada Pak Kumis, meninggalkan warung yang kini benar-benar sepi.
Pak Kumis memandangi layar proyektor. Di lapangan, para pemain termahal di dunia sedang berlari mengejar bola, namun di hati masyarakat, bola itu sudah lama berhenti menggelinding. Pak Kumis berjalan ke sudut ruangan, meraih remot kontrol, dan mematikan layar. Baginya, malam itu Piala Dunia sudah selesai.
Catatan Redakksi:
Seluruh konten di Lalampan.com terbuka untuk dibaca, dipelajari, dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Jika tulisan-tulisan di ruang ini dirasa bermanfaat, panjennengan dapat ikut Arokat Lalampan melalui sedekah seikhlasnya—secangkir kopi, 3K, atau doa terbaik. Dukungan kecil panjennengan membantu kami terus merawat bahasa, sastra, dan jejak budaya Madura. (Dana: 0819-0807-1122 & BRI: 3838-01-008754-53-2)
