Menanam Pohon yang Mungkin Tak Pernah Kita Petik Buahnya

Menanam Pohon yang Mungkin Tak Pernah Kita Petik Buahnya


Menanam Pohon yang Mungkin Tak Pernah Kita Petik Buahnya

Seluruh konten di Lalampan.com terbuka untuk dibaca, dipelajari, dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Jika tulisan-tulisan (konten lalampan.com) di ruang ini dirasa bermanfaat, panjennengan dapat ikut merawat Arokat Lalampan melalui sedekah seikhlasnya—secangkir kopi (3K) atau doa terbaik serta membagikannya kepada khalayak/publik. Dukungan kecil panjennengan membantu kami terus merawat bahasa, sastra, dan jejak budaya Madura. (Dana: 0819-0807-1122 & BRI: 3838-01-008754-53-2)  

lalampan.com. 1448. Di sebuah desa, seorang kakek menanam pohon mangga di tepi halaman rumahnya. Saat itu usianya telah melewati enam puluh tahun. Seorang tetangga yang melihatnya bertanya dengan nada bercanda, "Apakah Kiai yakin masih sempat menikmati buahnya?"

Sang kakek tersenyum. Tangannya tetap menimbun akar pohon dengan tanah yang gembur.

"Belum tentu," jawabnya pelan. "Tapi cucu-cucu saya mungkin akan menikmatinya."

Percakapan sederhana itu menyimpan pelajaran yang dalam. Tidak semua pekerjaan dilakukan untuk dinikmati oleh diri sendiri. Ada hal-hal yang dikerjakan karena seseorang percaya bahwa kehidupan harus diteruskan, dan bahwa generasi berikutnya berhak menerima sesuatu yang lebih baik daripada yang kita terima hari ini.

Sayangnya, cara berpikir seperti itu semakin jarang ditemukan. Kita hidup dalam zaman yang serba cepat. Hasil ingin segera terlihat. Keuntungan ingin segera dinikmati. Program ingin segera menghasilkan dampak. Bahkan kadang-kadang ukuran keberhasilan hanya dihitung dari apa yang dapat diperoleh hari ini.

Padahal banyak hal besar dalam kehidupan lahir dari kesabaran panjang.

Seorang petani tidak memakan seluruh hasil panennya. Sebagian disimpan sebagai benih. Nelayan tidak menjual perahunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perahu itu dirawat agar tetap dapat digunakan pada musim berikutnya. Orang tua bekerja keras bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi agar anak-anaknya memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Prinsip yang sama sebenarnya menjadi dasar dari dana abadi sosial.

Dana abadi sosial adalah upaya menyisihkan sebagian sumber daya hari ini agar manfaatnya dapat terus dirasakan pada masa depan. Pokok dana dijaga, sementara hasil pengelolaannya digunakan untuk mendukung pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, penelitian, kesehatan, atau berbagai kebutuhan masyarakat lainnya.

Dengan cara itu, kepedulian tidak habis dalam sekali penggunaan. Ia terus berputar dan menghasilkan manfaat baru.

Bayangkan jika sebuah komunitas memiliki dana abadi yang hasil pengelolaannya digunakan untuk beasiswa mahasiswa kurang mampu. Tahun ini seorang anak menerima bantuan pendidikan. Kelak ketika ia telah berhasil, mungkin ia akan ikut menyumbang ke dalam dana yang sama. Lalu dana tersebut membantu generasi berikutnya. Kebaikan yang awalnya kecil perlahan tumbuh seperti pohon yang akarnya semakin dalam dan cabangnya semakin rindang.

Dana abadi sosial sesungguhnya bukan hanya soal uang. Ia adalah soal cara pandang terhadap waktu. Ia mengajarkan bahwa tidak semua manfaat harus dinikmati sekarang. Ada manfaat yang sengaja ditanam agar tumbuh pada masa yang akan datang.

Karena itu, dana abadi selalu berkaitan dengan kepercayaan. Orang hanya akan bersedia menanam apabila yakin bahwa tanaman itu akan dirawat. Orang hanya akan bersedia menyisihkan sebagian hartanya apabila percaya bahwa dana tersebut akan dikelola secara amanah. Di sinilah peran penting lembaga dan kepemimpinan yang dapat dipercaya.

Masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi biasanya lebih mudah membangun sumber daya bersama. Mereka mampu mengumpulkan dana, mengelola wakaf, mendirikan sekolah, membangun rumah sakit, atau membiayai kegiatan sosial yang manfaatnya melampaui satu generasi. Sebaliknya, ketika kepercayaan hilang, bahkan dana yang besar pun sering kali tidak mampu menghasilkan manfaat yang bertahan lama.

Pada akhirnya, kesejahteraan yang sejati bukan hanya tentang apa yang kita konsumsi hari ini, tetapi juga tentang apa yang kita wariskan untuk hari esok. Sebab sebuah masyarakat yang kuat tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia dibangun oleh mereka yang bersedia menanam pohon meskipun sadar bahwa buahnya mungkin akan dipetik oleh anak-cucu mereka.

Dana abadi sosial pada dasarnya adalah pohon itu. Ia tumbuh dari kepedulian, disiram oleh kepercayaan, dijaga oleh amanah, dan menghasilkan buah kesejahteraan yang dapat dinikmati oleh banyak generasi. Semakin banyak masyarakat yang memiliki keberanian untuk menanamnya, semakin besar pula harapan bahwa kesejahteraan tidak berhenti pada satu masa, melainkan terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form