Kembali-(Menguat)nya Tradisi Lisan di Tengah Gempuran Media Digital

Kembali-(Menguat)nya Tradisi Lisan di Tengah Gempuran Media Digital

Kembali-(Menguat)nya Tradisi Lisan di Tengah Gempuran Media Digital

Seluruh konten di Lalampan.com terbuka untuk dibaca, dipelajari, dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Jika tulisan-tulisan (konten lalampan.com) di ruang ini dirasa bermanfaat, panjennengan dapat ikut merawat Arokat Lalampan melalui sedekah seikhlasnya—secangkir kopi (3K) atau doa terbaik serta membagikannya kepada khalayak/publik. Dukungan kecil panjennengan membantu kami terus merawat bahasa, sastra, dan jejak budaya Madura. (Dana: 0819-0807-1122 & BRI: 3838-01-008754-53-2) 

 

Lalampan.com. 1448. Sejak lama, tradisi lisan menjadi napas kehidupan masyarakat Indonesia. Sebelum kertas dan tulisan dikenal luas, pengetahuan, nilai, dan pengalaman hidup mengalir dari mulut ke mulut. Dongeng sebelum tidur, pantun dalam percakapan, nasihat tetua di balai warga, hingga teriakan pedagang di pasar—semua itu bukan sekadar bicara, melainkan cara membangun kebersamaan, mewariskan identitas, dan menjaga agar ikatan antarwarga tetap erat. Namun seiring masuknya pendidikan formal dan meluasnya budaya tulisan, muncul anggapan bahwa cara berkomunikasi ini perlahan memudar. Banyak yang berpendapat tradisi lisan sedang mengalami kemunduran, terpinggirkan oleh kesan bahwa tulisan lebih pasti, terstruktur, dan dapat diandalkan.

Menariknya, jika kita menoleh ke sekeliling saat ini, anggapan itu seolah terbalik. Di tengah gempuran informasi tertulis di buku, surat kabar, hingga dokumen daring, justru suara dan bicara kembali mendominasi ruang perhatian. Buka YouTube, dan kita temukan ribuan konten ceramah, diskusi, dan podcast yang didengarkan jutaan orang. Masuk ke TikTok, dan kita disuguhi pendapat siapa saja—ibu rumah tangga, pekerja kantoran, pelajar—yang berbicara dengan gaya akrab seolah berhadapan langsung. Bahkan dunia perdagangan pun ikut berubah: di Shopee maupun TikTok Shop, strategi berbicara meyakinkan layaknya pedagang jamu zaman dahulu kini hadir kembali lewat siaran langsung dan video penjelasan. Fenomena ini membuat kita bertanya: apakah tradisi lisan benar-benar hilang, atau sekadar berganti baju agar tetap bisa bertahan?

Jika kita kaji lebih dalam, apa yang terjadi sesungguhnya bukanlah kelahiran budaya baru, melainkan transformasi. Seperti dikemukakan para pengkaji budaya, media baru tidak mematikan cara lama berkomunikasi, melainkan mengubah wadahnya. Dahulu ruangnya adalah lapangan dan beranda rumah, kini ruangnya adalah layar gawai. Esensinya tetap sama: bicara mengandalkan nada, ekspresi, dan kedekatan perasaan yang sulit ditangkap hanya melalui huruf di atas kertas. Pesan yang disampaikan dengan suara seringkali terasa lebih hidup, lebih mudah menyentuh hati, dan lebih cepat dipercaya—sesuatu yang membuatnya tetap relevan meski zaman terus bergerak maju.

Namun di balik semaraknya kembali cara berkomunikasi ini, ada hal yang patut kita renungkan. Kebangkitan pola bicara ini tidak berarti mengembalikan tradisi lisan dalam wujudnya yang utuh. Kita perlu jujur mengamati: hampir semua cerita rakyat, dongeng, legenda, atau pantun yang muncul di platform digital saat ini adalah warisan yang sudah ada ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Sangat jarang kita temukan cerita baru yang tumbuh secara alami dari pengalaman bersama masyarakat masa kini, lalu diwariskan turun-temurun layaknya proses pembentukan cerita rakyat pada zaman dahulu.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukan berarti "rakyat" sebagai pemilik cerita sudah tidak ada. Justru, konteks sosial yang melahirkan cerita bersama itulah yang telah berubah total. Dahulu, masyarakat hidup berdekatan, sering berkumpul, dan menghadapi tantangan hidup yang relatif serupa. Cerita tumbuh perlahan, diubah dan diperkaya oleh banyak orang hingga menjadi milik bersama yang tidak lagi diketahui siapa pengarang pertamanya. Sekarang, kita hidup di dunia yang terhubung namun terpisah jarak, menerima informasi yang beragam dan bergerak sangat cepat. Ruang untuk membentuk pengalaman dan nilai yang disepakati bersama menjadi semakin sempit. Akibatnya, yang muncul bukan lagi cerita kolektif, melainkan pendapat pribadi, ulasan, promosi, atau sekadar hiburan sesaat.

Di sinilah kita melihat keseimbangan yang menarik. Tradisi lisan dan tulisan sebenarnya tidak bersaing, melainkan saling melengkapi. Tulisan menjamin ketepatan, keabadian, dan ketertiban informasi. Sedangkan lisan memberikan napas, perasaan, dan kemudahan diterima. Saat ini, kita melihat keduanya berjalan berdampingan: dokumen kebijakan tertulis dijelaskan kembali lewat video ceramah; spesifikasi barang yang tercantum rapi dilengkapi penjelasan lisan agar lebih meyakinkan.

Sebagai penikmat sastra dan pengamat masyarakat, kita menyadari bahwa transformasi ini membawa keuntungan sekaligus kehilangan. Kita diuntungkan karena kemampuan berbicara dan berbagi pendapat kembali dihargai, menjadi sarana menyatukan pandangan. Namun kita juga menyadari bahwa proses penciptaan cerita rakyat yang tumbuh bersama dan mewakili jiwa kolektif seolah berhenti di masa lalu.

Mungkin itulah wajah tradisi dalam setiap zaman: ia tidak berhenti bergerak, namun juga tidak pernah kembali persis seperti semula. Ia beradaptasi, mengambil bagian yang masih dibutuhkan, dan meninggalkan apa yang tidak lagi sesuai. Di layar-layar gawai kita kini, tradisi lisan hidup kembali—bukan sebagai hantu masa lalu, melainkan sebagai bentuk komunikasi yang baru, terus berubah, dan tetap menjadi cerminan dari siapa kita sebagai masyarakat masa kini.


Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form