Cara Membuat Literatur Review atau Tinjauan Pustaka



Contoh Literature Review: Solidaritas Sosial dalam Perspektif Sosiologi Klasik dan Kontemporer

Solidaritas sosial merupakan salah satu konsep fundamental dalam sosiologi yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana individu-individu dalam suatu masyarakat dapat hidup bersama, bekerja sama, dan mempertahankan keteraturan sosial. Meskipun demikian, para ilmuwan sosial memiliki pandangan yang berbeda mengenai sumber, mekanisme, dan keberlanjutan solidaritas sosial. Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa solidaritas sosial bukanlah fenomena yang sederhana, melainkan hasil dari interaksi berbagai faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam pembahasan solidaritas sosial adalah Émile Durkheim. Dalam karyanya The Division of Labor in Society (1893), Durkheim menjelaskan bahwa solidaritas sosial merupakan perekat utama yang memungkinkan masyarakat tetap terintegrasi. Menurutnya, masyarakat tradisional ditopang oleh solidaritas mekanik yang bersumber dari kesamaan nilai, keyakinan, dan pengalaman hidup. Sebaliknya, masyarakat modern lebih banyak ditopang oleh solidaritas organik yang lahir dari pembagian kerja dan saling ketergantungan antarindividu. Bagi Durkheim, ritual dan kehidupan kolektif memiliki peran penting dalam menghasilkan kesadaran bersama (collective conscience) yang memperkuat solidaritas sosial.

Pandangan Durkheim memberikan dasar penting untuk memahami hubungan antara ritual dan solidaritas. Namun, sejumlah ilmuwan berpendapat bahwa solidaritas tidak selalu muncul secara otomatis dari ritual atau kesamaan nilai. Misalnya, Max Weber (1922) menekankan pentingnya makna subjektif dan tindakan sosial dalam kehidupan masyarakat. Weber berargumen bahwa individu bertindak berdasarkan interpretasi mereka terhadap dunia sosial. Dengan demikian, solidaritas tidak hanya terbentuk melalui ritual kolektif, tetapi juga melalui proses pemberian makna yang dilakukan oleh para aktor sosial. Perspektif Weber menunjukkan bahwa dimensi budaya dan interpretatif perlu diperhatikan ketika menjelaskan terbentuknya solidaritas sosial.

Perdebatan tersebut semakin berkembang dalam karya Randall Collins (2004) mengenai interaction ritual chains. Collins mengembangkan gagasan Durkheim dengan menjelaskan bahwa solidaritas sosial muncul melalui rangkaian interaksi yang menghasilkan apa yang disebut sebagai emotional energy. Menurut Collins, pertemuan tatap muka, ritual keagamaan, kegiatan organisasi, maupun aktivitas komunitas dapat menghasilkan energi emosional yang mendorong individu untuk terus terlibat dalam kehidupan kolektif. Dalam perspektif ini, solidaritas bukan hanya hasil dari norma atau nilai bersama, melainkan juga hasil dari pengalaman emosional yang dibangun secara berulang melalui interaksi sosial.

Meskipun demikian, muncul pertanyaan penting: apakah solidaritas yang kuat selalu menghasilkan organisasi atau institusi yang berkelanjutan? Pertanyaan ini membawa kita pada perspektif Pierre Bourdieu (1986) mengenai modal sosial. Bourdieu berpendapat bahwa hubungan sosial tidak hanya menghasilkan solidaritas, tetapi juga menghasilkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan oleh individu maupun kelompok. Modal sosial terdiri atas jaringan hubungan yang memberikan akses terhadap berbagai keuntungan sosial, ekonomi, maupun simbolik. Dalam konteks ini, solidaritas dapat dipahami sebagai fondasi bagi pembentukan modal sosial. Namun, Bourdieu juga mengingatkan bahwa modal sosial sering kali tidak terdistribusi secara merata dan dapat digunakan untuk mempertahankan dominasi kelompok tertentu. Dengan demikian, solidaritas tidak selalu menghasilkan kesejahteraan kolektif bagi semua anggota masyarakat.

Pandangan Bourdieu kemudian dilengkapi oleh Robert Putnam (1993; 2000) yang menekankan peran modal sosial dalam meningkatkan kualitas demokrasi dan pembangunan masyarakat. Putnam membedakan antara bonding social capital dan bridging social capital. Modal sosial yang bersifat bonding memperkuat ikatan dalam kelompok, sedangkan bridging membangun hubungan dengan kelompok lain. Menurut Putnam, masyarakat dengan tingkat kepercayaan dan partisipasi sosial yang tinggi cenderung memiliki institusi yang lebih efektif. Akan tetapi, argumen Putnam juga menuai kritik. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa solidaritas internal yang kuat tidak selalu menghasilkan keterbukaan terhadap kelompok lain, bahkan dalam beberapa kasus dapat memunculkan eksklusivitas sosial.

Kritik terhadap hubungan linear antara solidaritas dan keberhasilan institusi juga ditemukan dalam karya Elinor Ostrom (1990). Ostrom menunjukkan bahwa keberhasilan tindakan kolektif tidak hanya bergantung pada solidaritas atau kepercayaan sosial, tetapi juga pada aturan, tata kelola, dan mekanisme pengawasan yang jelas. Penelitian Ostrom mengenai pengelolaan sumber daya bersama menunjukkan bahwa komunitas yang memiliki solidaritas tinggi tetap membutuhkan institusi yang mampu mengatur perilaku anggotanya. Dengan kata lain, solidaritas merupakan kondisi penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberlanjutan organisasi sosial.

Dari berbagai perspektif tersebut dapat dilihat bahwa terdapat dialog yang menarik dalam literatur mengenai solidaritas sosial. Durkheim menekankan pentingnya ritual dan kesadaran kolektif. Weber mengingatkan pentingnya makna subjektif dalam tindakan sosial. Collins menunjukkan bahwa solidaritas dibangun melalui energi emosional yang lahir dari interaksi sosial. Bourdieu dan Putnam menyoroti hubungan antara solidaritas dan modal sosial, sementara Ostrom menegaskan perlunya institusi dan tata kelola yang efektif agar solidaritas dapat menghasilkan manfaat jangka panjang.

Berdasarkan dialog teoritis tersebut, dapat disimpulkan bahwa solidaritas sosial tidak dapat dipahami hanya sebagai perasaan kebersamaan. Solidaritas merupakan proses sosial yang melibatkan ritual, makna, emosi, jaringan sosial, serta institusi. Namun demikian, masih terdapat ruang penelitian yang cukup luas terkait bagaimana solidaritas yang kuat dapat ditransformasikan menjadi institusi yang berkelanjutan dan mampu menghasilkan kesejahteraan kolektif. Pertanyaan ini menjadi semakin relevan dalam konteks masyarakat keagamaan dan komunitas lokal yang memiliki tingkat partisipasi sosial tinggi tetapi menunjukkan variasi dalam kemampuan membangun organisasi dan institusi yang bertahan lintas generasi.

Perhatikan hal-hal dibawah ini:

1. Durkheim berbicara→ ritual menghasilkan solidaritas.

2. Weber menyela → jangan lupa makna subjektif.

3. Collins mengembangkan→ ada energi emosional.

4. Bourdieu bertanya→ solidaritas jadi modal sosial atau tidak?

5. Putnam menjawab → modal sosial bisa memperkuat institusi.

6. Ostrom mengkritik → solidaritas saja tidak cukup, perlu aturan.


Daftar Pustaka

Pierre Bourdieu. (1986). The forms of capital. Dalam J. G. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (hlm. 241–258). Greenwood Press.

Randall Collins. (2004). Interaction Ritual Chains. Princeton University Press.

Émile Durkheim. (1893/1984). The Division of Labor in Society (W. D. Halls, Trans.). Free Press.

Elinor Ostrom. (1990). Governing the Commons: The Evolution of Institutions for Collective Action. Cambridge University Press.

Robert D. Putnam. (1993). Making Democracy Work: Civic Traditions in Modern Italy. Princeton University Press.

Robert D. Putnam. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. Simon & Schuster.

Max Weber. (1922/1978). Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology. University of California Press.

 


Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form