![]() |
| Para Juara Lomba Lukis tingkat SD/MI |
Menyambut Iduladha dengan Warna dan Nada: Lesbumi Pragaan Hidupkan Panggung Seni Anak Nahdliyin
Lalampan.com|| SUMENEP
— Halaman MTs Unggulan Sains Alquran Insan Kamil sejak pagi tampak berbeda pada
Ahad, 24 Mei 2026. Anak-anak membawa papan lukis, cat warna, dan kuas. Di sudut
lain, kelompok-kelompok pelajar berseragam madrasah sibuk merapikan formasi
sambil sesekali melantunkan syair nasyid dengan iringan rebana.
Suasana itu menjadi
penanda bahwa Lesbumi MWCNU Pragaan benar-benar sedang mencoba menghadirkan
sesuatu yang baru di tengah tradisi peringatan hari besar Islam di Madura.
Dalam rangka menyambut
Iduladha 1447 Hijriah, Lesbumi MWCNU Pragaan menggelar Lomba Melukis dan Nasyid
Islami tingkat regional se-Kabupaten Sumenep. Kegiatan tersebut terlaksana
melalui kolaborasi antara Pergunu Pragaan dan Yayasan Ikhtiar Insan Kamil.
Bagi sebagian orang,
perlombaan mungkin sekadar agenda seremonial tahunan. Tetapi di tangan Lesbumi,
kegiatan ini terasa lebih seperti upaya membangunkan kembali ruang seni yang
perlahan mulai sepi di kalangan pelajar.
Sebab di tengah dunia
anak-anak yang semakin dipenuhi layar gawai dan hiburan digital cepat, melukis
dan nasyid perlahan menjadi aktivitas yang jarang mendapat panggung besar.
Karena itu, ketika
ratusan peserta datang dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sumenep, panitia
mengaku cukup terkejut sekaligus bersyukur.
Maos jugan
- Materi RBD 2025 dan Pedoman Ejaan Bahasa Madura
- Parebasan Madura Kuno: Contoh Langka dan Artinya
- cerita pendek bahasa Madura: SANGKOLAN || Tatik
- Pidato Basa Madura: Pabinareng tor Ngobbar Gumate
Awalnya mereka khawatir
target peserta tidak tercapai. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Antusiasme warga
Nahdliyin ternyata melampaui perkiraan. Tercatat sekitar 100 peserta mengikuti
lomba melukis tingkat SD/MI, sementara puluhan grup MTs ikut ambil bagian dalam
lomba nasyid Islami.
Anak-anak SD tampak
sibuk menuangkan imajinasi tentang Iduladha ke atas kertas gambar. Ada yang
melukis suasana masjid desa dengan gema takbir, ada yang menggambar sapi
kurban, hingga suasana pembagian daging kepada masyarakat.
Sementara di panggung
utama, para pelajar MTs tampil membawakan syair-syair Islami dengan harmoni
vokal yang sederhana namun hangat.
Di sela kegiatan, Ketua
Tanfidziah MWCNU Pragaan, K. Hambali Makhtum, memberikan apresiasi tinggi
terhadap langkah Lesbumi yang dinilainya penuh inovasi.
Menurutnya, selama ini
peringatan hari besar Islam biasanya hanya berputar pada momentum tertentu
seperti Maulid Nabi, Isra Mikraj, atau Tahun Baru Hijriah. Karena itu,
menjadikan Iduladha sebagai ruang ekspresi seni merupakan langkah yang cukup
segar.
Ia bahkan menyebut
kegiatan tersebut sebagai bentuk “bid’ah hasanah” atau tradisi baru yang baik.
“Biasanya peringatan
hari besar Islam hanya terfokus pada Tahun Baru Hijriah, Isra Mikraj, atau
Maulid Nabi. Namun Lesbumi kali ini menghadirkan terobosan baru menyambut
Iduladha,” ujarnya.
K. Hambali juga
berharap Lesbumi dapat menjadi rumah besar bagi para seniman dan budayawan muda
NU di Kabupaten Sumenep agar tetap berkarya di bawah koridor agama dan tradisi
Nahdlatul Ulama.
![]() |
| Para Juara Nasyid tingkat SMP/MTs |
Pernyataan itu terasa
cukup penting di tengah kondisi kesenian lokal yang perlahan menghadapi
tantangan modernisasi. Banyak ruang seni tradisional mulai kehilangan
regenerasi, sementara anak muda semakin jauh dari dunia kreativitas berbasis
budaya lokal dan nilai-nilai keislaman.
Maos jugan
Karena itu, Ketua
Panitia, Ibrohim Musyfiq, menegaskan bahwa lomba melukis sengaja dipilih untuk
menggali kembali kreativitas anak-anak sejak usia dasar.
“Seni melukis saat ini
sudah hampir terkikis oleh arus modernisasi, karena itu kita perlu wadah
seperti ini,” katanya.
Kalimat itu mungkin
terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada kegelisahan yang cukup besar
tentang masa depan seni di lingkungan pelajar.
Sebab hari ini
anak-anak lebih sering menjadi penonton konten daripada pencipta karya.
Padahal kreativitas
tumbuh justru ketika anak-anak diberi ruang untuk mengekspresikan imajinasi
mereka sendiri.
Hal serupa juga
terlihat pada lomba nasyid. Di tengah dominasi musik populer digital, nasyid
menjadi salah satu bentuk seni Islami yang mulai jarang mendapat ruang
kompetisi di tingkat pelajar.
Karena itu, kegiatan
ini sekaligus menjadi panggung kecil bagi hidupnya kembali tradisi seni Islami
di lingkungan madrasah.
Ketua Yayasan Ikhtiar
Insan Kamil, Dr. H. Mohammad Hasbi, menyatakan dukungannya terhadap
keberlanjutan agenda seperti ini.
Menurutnya, kerja sama
antarlembaga NU melalui event seni dan pendidikan perlu terus dikembangkan
karena menjadi bukti nyata kehadiran NU di tengah masyarakat.
Ia juga menilai cabang
lomba melukis telah berjalan sangat baik dengan hasil karya peserta yang cukup
menggembirakan. Sementara untuk cabang nasyid, menurutnya masih memiliki ruang
besar untuk terus dieksplorasi pada tahun-tahun mendatang.
Tak hanya memperebutkan
prestasi, panitia juga menyediakan hadiah menarik bagi para pemenang. Juara
pertama pada masing-masing kategori memperoleh piala, medali, sertifikat, dan
sepeda BMX. Sedangkan juara kedua dan ketiga mendapatkan uang pembinaan, medali,
sertifikat, dan piala penghargaan.
Namun lebih dari semua
hadiah itu, yang paling terasa dari kegiatan ini sebenarnya adalah suasana
kebersamaan.
Anak-anak dari berbagai
kecamatan berkumpul dalam satu halaman yang sama. Guru-guru sibuk mendampingi
muridnya. Orang tua berdiri di tepi arena sambil memperhatikan karya anak-anak
mereka.
Dan di tengah suasana
itu, Lesbumi seakan ingin menyampaikan satu pesan sederhana: bahwa seni,
tradisi, dan Islam tidak harus saling menjauh.
Justru di tangan
generasi muda, semuanya masih bisa tumbuh bersama—dalam warna-warna lukisan,
lantunan nasyid, dan semangat Iduladha yang hangat di sebuah sudut kecil
Pragaan, Sumenep.

