MENATAP MASA DEPAN PENDIDIKAN TINGGI PESANTREN: JALAN PANJANG STRATEGIS MENUJU INSTIDAR 2027

MENATAP MASA DEPAN PENDIDIKAN TINGGI PESANTREN: JALAN PANJANG STRATEGIS MENUJU INSTIDAR 2027


Pendahuluan: Lebih dari Sekadar Ganti Nama

Oleh : Dr. KH. Sahli Hamid,M.Pd.I., M.A.P.*)

Perubahan status sebuah institusi pendidikan tinggi dari Sekolah Tinggi menjadi Institut seringkali disalahpahami hanya sebagai urusan kosmetik atau pergantian papan nama toko semata. Padahal, dalam kacamata makro pendidikan, transformasi kelembagaan adalah sebuah loncatan epistemologis dan struktural yang besar.

Bagi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman (STIDAR) Gadu Barat, Ganding, Sumenep, rencana alih bentuk menjadi Institut Dirasah Islamiyah Raudlatul Iman (INSTIDAR) pada tahun 2027 adalah sebuah manifesto visi masa depan. Langkah berani ini diambil bukan demi genggaman gengsi akademik, melainkan sebuah respons konkret terhadap kebutuhan riil masyarakat Madura akan integrasi sains modern dengan khazanah keislaman (Dirasah Islamiyah).

Mengapa Harus Menjadi Institut?

Sebagai Sekolah Tinggi, STIDAR dibatasi oleh regulasi ketat mengenai ruang lingkup rumpun keilmuan yang sempit—yakni hanya berkutat pada koridor komunikasi, penyiaran, pengembangan masyarakat, konselor Islam dan penataan dakwah secara spesifik. Padahal, dinamika sosial kemasyarakatan di era kecerdasan buatan (AI) dan disrupsi digital menuntut pendekatan yang multidisipliner.

Dengan bertransformasi menjadi Institut, INSTIDAR akan memiliki mandat yang jauh lebih luas (wider mandate). Kampus tidak hanya mencetak dai atau penyeru mimbar atau pendamping sosial tetapi memperlebar sayap keilmuannya untuk menyentuh sektor tata kelola organisasi, pendidikan dasar, tata negara, kearsipan hingga ekonomi syariah. Kehadiran dua program studi (prodi) baru yang sudah fiks dipersiapkan—Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dan Manajemen Dakwah (MD)—menjadi bukti awal bagaimana institut ini nantinya akan mendesentralisasikan keilmuan Islam secara lebih membumi.

Peta Jalan (Roadmap) Menuju Singgasana Institu

Menuju gerbang tahun 2027, manajemen STIDAR tidak bisa sekadar bersantai. Regulasi dari Kementerian Agama RI (Kemenag) menetapkan standar baku yang sangat ketat melalui instrumen akreditasi minimum alih bentuk. Setidaknya ada empat pilar persiapan utama yang wajib dirampungkan:

1. Arsitektur SDM: Berburu Gelar Doktor dan Harmonisasi Keilmuan

Mesin penggerak utama sebuah institut berada di tangan para dosennya. Kampus wajib menggenjot peningkatan kualifikasi akademis pendidiknya menuju jenjang S3 (Doktor) dan mempercepat pengurusan Jabatan Fungsional Akademik (JFA).

Menariknya, tantangan ini melahirkan kebutuhan harmonisasi keilmuan yang dinamis. Sebagai contoh, untuk mengisi pos prodi baru Manajemen Dakwah (MD), kampus dapat mengawinkan dosen berlatar belakang S2 Ekonomi Manajemen dengan rumpun studi Islam keagamaan. Lulusan S2 Manajemen umum akan memegang kendali atas teori makro seperti Manajemen SDM, Keuangan, dan Strategi, sementara dosen rumpun Islam mengawal nilai-nilai lokalitas dakwah syariah. Sinergi ini memastikan prodi baru memiliki fondasi sains yang kuat namun tetap berjiwa pesantren.

2. Standardisasi Administrasi dan Pembersihan Data

Borang alih status dan draf Statuta baru adalah dokumen hukum mutlak yang sedang digodok oleh tim khusus (Task Force). Di balik meja administrasi, validasi data pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) dan EMIS harus dipastikan bersih dari anomali data. Rasio perbandingan dosen tetap terhadap mahasiswa pada setiap prodi baru harus presisi agar proposal alih status tidak terganjal masalah teknis regulasi.

3. Transformasi Infrastruktur: Dari Ruang Kelas ke Laboratorium Digital

Secara fisik, wajah INSTIDAR 2027 menuntut ruang kelas yang representatif, ruang rektorat yang mapan, serta ketersediaan laboratorium terapan yang fungsional (seperti laboratorium komputer untuk prodi MD dan laboratorium media/alat peraga untuk prodi PIAUD). Selain itu, perpustakaan konvensional wajib bermigrasi menjadi perpustakaan digital (e-library) guna memberikan akses jurnal-jurnal ilmiah internasional bagi mahasiswa.

4. Menjaga Akar Rumput: Distingsi Berbasis Nilai Pesantren

Inilah tantangan terbesar sekaligus peluang emas bagi INSTIDAR. Di tengah ambisi modernisasi fisik dan administratif, kampus yang lahir dari rahim Yayasan Perguruan Tinggi Raudlatul Iman (YASPIRI) ini tidak boleh tercerabut dari akar budayanya. Kearifan lokal Mandala, prinsip andhap asor (kesantunan Madura), kepatuhan moral kiai-santri, serta tradisi kebersamaan masyarakat harus diadopsi ke dalam kultur akademik institut. Keberlanjutan finansial kampus pun didesain mandiri dengan memanfaatkan kekuatan ekonomi pesantren, sehingga institut tidak hanya bergantung pada biaya kuliah mahasiswa.

Penutup: Bersiap Menyambut INSTIDAR 2027

Transformasi STIDAR menuju Institut Dirasah Islamiyah Raudlatul Iman (INSTIDAR) pada tahun 2027 adalah sebuah ikhtiar peradaban. Persiapan yang komprehensif dari aspek mutu akademik, tata kelola SDM linier, kelayakan sarana, hingga kepatuhan hukum administrasi menjadi modal utama bagi kampus ini.

Jika seluruh peta jalan ini dilewati dengan konsistensi yang tinggi, INSTIDAR bukan lagi sekadar impian di atas kertas borang. Ia akan menjelma menjadi episentrum baru perguruan tinggi Islam berbasis pesantren di Madura yang melahirkan sarjana dengan kedalaman spiritualitas pesantren, sekaligus ketajaman intelektualitas ilmu pengetahuan modern.

*) Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Raudlatul Iman




Seluruh konten di Lalampan.com terbuka untuk dibaca, dipelajari, dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya (terutama konten bahasa Madura).

Jika tulisan-tulisan di ruang ini dirasa bermanfaat, panjennengan dapat ikut Arokat Lalampan melalui sedekah seikhlasnya—secangkir kopi, 3K, atau doa terbaik. Dukungan kecil panjennengan membantu kami terus merawat bahasa, sastra, dan jejak budaya Madura. (Dana: 0819-0807-1122 & BRI: 3838-01-008754-53-2)


Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form