PAREBASAN|| lalampan.com-1447. Di tengah arus informasi yang bergerak cepat dan sering kali
gaduh, ada satu gejala kecil yang berjalan nyaris tanpa suara. Ia tidak viral,
tidak menjadi bahan perdebatan publik, dan tidak pula hadir sebagai tren
sesaat. Namun, ia terus berulang. Dicari. Diketik. Diinginkan.
Kata itu adalah Parebasan.
Dengan segala ragam ejaannya—parebasan, parebhasan,
peribahasa, bahkan bentuk-bentuk fonetik yang lebih dekat dengan lidah
lokal—kata ini muncul dalam pencarian yang sederhana, tetapi sarat makna. Ada
yang mencari contoh, ada yang mencari arti, ada pula yang sekadar mengetik kata
itu seolah sedang memanggil sesuatu yang samar-samar masih tinggal dalam
ingatan.
Jika diamati sekilas, ini mungkin hanya fenomena biasa dalam
lalu lintas digital. Namun jika dilihat lebih dalam, ia membuka satu pertanyaan
kebudayaan yang penting: mengapa parebasan terus dicari?
Barangkali jawabannya tidak terletak pada teknologi, melainkan
pada ingatan kolektif.
Dalam tradisi masyarakat Madura, parebasan bukan sekadar
bentuk bahasa. Ia adalah cara berpikir, cara merasakan, sekaligus cara
menyampaikan dunia. Dalam parebasan, nasihat tidak hadir sebagai perintah,
melainkan sebagai perumpamaan. Teguran tidak diucapkan secara langsung, tetapi
diselipkan dalam kiasan yang halus. Bahkan konflik, dalam banyak hal, bisa
diredam melalui ungkapan yang tampak sederhana, tetapi mengandung kedalaman
makna.
Maos jugan
- Parebasan Madura dan Artinya, Lengkap dengan Contoh
- Parebasan Madura Contoh, Arti, dan Pengelompokan Berdasarkan Kata
- Arti Parebasan Madura Yang Jarang diketahui
- Parebasan Madura Kuno: Contoh Langka dan Artinya
- Parebasan Madura: Contoh Unik dan Maknanya dalam Kehidupan
Parebasan, dengan demikian, bukan hanya bagian dari bahasa. Ia
adalah bagian dari etika.
Ia mengajarkan bagaimana berbicara tanpa melukai, bagaimana
mengingatkan tanpa merendahkan, dan bagaimana memahami hidup melalui
gambaran-gambaran yang dekat dengan keseharian.
Salah satu contohnya tampak dalam parebasan “Mara Tep-kotep
Cellot.” Secara harfiah, ia merujuk pada tindakan melempar tanah liat—yang
tidak akan memantul kembali seperti halnya batu atau benda keras. Ia jatuh,
melekat, dan berhenti di tempat. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan
pembacaan sosial yang tajam: sesuatu yang dilemparkan—baik perintah, pesan,
maupun harapan—tidak pernah kembali sebagai respons.
Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini bisa merujuk pada
hal yang sederhana: orang tua menyuruh anaknya membeli sesuatu, tetapi anak itu
tidak kembali. Perintah itu seolah jatuh begitu saja, tanpa jejak timbal balik.
Namun dalam konteks yang lebih luas, parebasan ini dapat
berubah menjadi kritik sosial yang halus tetapi dalam. Ia dapat menggambarkan
relasi yang lebih besar—misalnya ketika rakyat menyampaikan aspirasi kepada
pemegang kekuasaan, tetapi tidak pernah memperoleh jawaban yang nyata. Aspirasi
itu, dalam bahasa parebasan, menjadi seperti tanah liat yang dilempar: tidak
memantul, tidak kembali, dan perlahan menghilang.
Di titik ini, kita mulai melihat bahwa parebasan bukan sekadar
permainan bahasa, melainkan cermin kehidupan.
Ia merekam bagaimana masyarakat memahami relasi—antara orang
tua dan anak, antara guru dan murid, bahkan antara rakyat dan negara. Ia juga
menunjukkan bahwa dalam kebudayaan Madura, komunikasi tidak pernah dipandang
sebagai sesuatu yang sepihak. Selalu ada harapan akan adanya balasan,
tanggapan, atau setidaknya tanda bahwa pesan itu diterima.
Ketika balasan itu tidak ada, maka lahirlah parebasan. Bukan
untuk mengeluh secara langsung, tetapi untuk mengingatkan melalui cara yang
lebih halus.
Namun seperti banyak warisan kebudayaan lainnya, parebasan
tidak selalu berjalan mulus dalam lintasan zaman.
Perubahan cara hidup, pergeseran pola komunikasi, dan dominasi
bahasa yang lebih praktis membuat parebasan perlahan bergeser dari ruang-ruang
percakapan sehari-hari. Ia tidak hilang sepenuhnya, tetapi menjadi jarang
digunakan. Dari sesuatu yang hidup, ia berangsur menjadi sesuatu yang diingat.
Di titik inilah, pencarian terhadap parebasan menjadi menarik.
Apa yang tampak sebagai data—deretan kata kunci, variasi
ejaan, dan permintaan akan “contoh” serta “arti”—sebenarnya bisa dibaca sebagai
gejala kultural. Ia menunjukkan bahwa parebasan tidak benar-benar ditinggalkan.
Ia hanya menjauh, dan kini sedang dicari kembali.
Pencarian itu sendiri mengandung lapisan makna.
Ketika seseorang mengetik “contoh parebasan bahasa Madura,” ia
tidak sekadar ingin mengetahui. Ia sedang mencari bentuk konkret dari sesuatu
yang mungkin pernah ia dengar, tetapi tidak lagi ia kuasai. Ketika seseorang
mencari “parebasan dan artinya,” ia tidak hanya ingin memahami, tetapi juga
ingin menghubungkan kembali antara kata dan makna.
Lebih dari itu, kecenderungan ini menunjukkan bahwa parebasan
sedang bergerak dari status warisan menuju kebutuhan.
Ini adalah pergeseran yang penting.
Warisan bisa saja disimpan, dilupakan, atau bahkan
ditinggalkan. Tetapi kebutuhan selalu mencari jalan untuk dipenuhi. Ketika
parebasan mulai dicari sebagai sesuatu yang ingin digunakan—dalam percakapan,
dalam tulisan, atau dalam pendidikan—maka ia telah memasuki fase baru dalam
kehidupannya sebagai bagian dari kebudayaan.
Namun di sinilah muncul persoalan berikutnya: ke mana
pencarian itu berlabuh?
Dalam banyak kasus, pencarian digital sering kali berujung
pada potongan-potongan. Satu halaman menawarkan beberapa contoh, halaman lain
memberikan arti yang terbatas, sementara yang lain lagi hanya menyajikan daftar
tanpa konteks. Parebasan hadir, tetapi terpisah-pisah. Ia ditemukan, tetapi
tidak sepenuhnya dipahami.
Padahal, sebagai bagian dari kebudayaan, parebasan tidak
berdiri sendiri.
Ia terhubung dengan sistem yang lebih luas: dengan okara,
dengan cerita rakyat, dengan cara hidup masyarakat, bahkan dengan nilai-nilai
yang mengatur relasi sosial. Tanpa keterhubungan itu, parebasan berisiko
menjadi sekadar teks—kehilangan ruh yang membuatnya hidup.
Di titik ini, kebutuhan akan “rumah” menjadi semakin terasa.
Rumah, dalam pengertian kebudayaan, bukan sekadar tempat
menyimpan. Ia adalah ruang untuk merawat, menghubungkan, dan menghidupkan
kembali. Sebuah rumah bagi parebasan harus mampu menghadirkan tidak hanya
kumpulan ungkapan, tetapi juga konteks, makna, dan kemungkinan penggunaannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Maos jugan
- Parebasan Madura: Contoh Indah dan Maknanya dalam Kehidupan
- Naskah MC Nikahan Berbahasa Madura
- Download: Kamus Bahasa Madura Ejaan 1973
- Basa Madura Kodu Daddi Baca’an
- Kerata Basa Madura II
Tanpa rumah semacam itu, parebasan akan terus dicari, tetapi
tidak pernah benar-benar ditemukan.
Sebaliknya, jika rumah itu ada—dan terbuka—maka pencarian yang
selama ini tersebar bisa berkumpul. Orang tidak hanya menemukan parebasan,
tetapi juga memahami bagaimana ia bekerja, mengapa ia penting, dan bagaimana ia
bisa kembali menjadi bagian dari kehidupan.
Dalam kerangka ini, fenomena pencarian parebasan bukanlah
sesuatu yang sepele.
Ia adalah tanda.
Tanda bahwa di tengah perubahan zaman, masih ada kebutuhan
untuk kembali pada bentuk-bentuk bahasa yang lebih dalam, lebih halus, dan
lebih manusiawi. Tanda bahwa kebudayaan tidak sepenuhnya ditinggalkan, tetapi
sedang mencari cara untuk hadir kembali dalam konteks yang baru.
Parebasan, dengan segala ragam ejaannya, menjadi semacam
jejak—jejak dari sesuatu yang pernah hidup kuat dalam masyarakat, dan kini
sedang dipanggil kembali.
Dan setiap jejak, pada akhirnya, mengarah pada satu hal:
rumah.
Pertanyaannya bukan lagi apakah parebasan akan tetap ada,
tetapi apakah ada yang bersedia merawatnya dengan sungguh-sungguh. Karena tanpa
perawatan, jejak bisa hilang. Tetapi dengan perawatan, ia bisa berubah menjadi
jalan.
Jalan yang tidak hanya menghubungkan masa lalu dan masa kini,
tetapi juga membuka kemungkinan bagi masa depan kebudayaan itu sendiri.
Dalam diamnya, parebasan telah menunjukkan bahwa ia masih
dibutuhkan.
Dan mungkin, justru dalam kesunyian itulah, ia bekerja paling kuat—menarik orang kembali, satu per satu, menuju bahasa yang bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk memahami hidup.
