| K. Ali Maimun Saedy |
Jejak Silaturahmi yang Tak Terputus: Halal bi Halal Alumni
Taufiqur Rahman Satukan Generasi
TAMBUL|| Lalampan.com-1447. Langit siang di Telenteyan Longos
tampak cerah, seakan turut menyambut langkah-langkah para alumni yang datang
dari berbagai penjuru desa. Halaman Madrasah Taufiqur Rahman, yang menjadi
saksi perjalanan banyak generasi, kembali hidup dalam suasana penuh kehangatan
pada Rabu (25/3/2026).
Acara Halal bi Halal Keluarga Besar Alumni Taufiqur Rahman
(Kerabat) bukan sekadar pertemuan biasa. Ia adalah ruang pulang—tempat di
mana kenangan, nilai, dan ikatan lama dirajut kembali.
Sejak siang hari, para alumni mulai berdatangan. Tidak hanya
dari sekitar Longos, tetapi juga dari desa-desa lain seperti Totosan, Batang-Batang
Laok, hingga Banuaju Barat. Mereka datang dengan cerita masing-masing, membawa
jejak kehidupan yang telah ditempuh sejak meninggalkan bangku madrasah.
Maos jugan
- Oca' se aguna'agi akantha tor parsasat
- Kamus Bahasa Madura Ejaan Baku (1973)
- Ejaan Dalam Bahasa Madura
- Carpan: Durahem Ajuwala Tokona || Ach Jazuli
Yang paling mencuri perhatian adalah kehadiran para alumni
sepuh. Dengan langkah yang mungkin tak lagi secepat dulu, mereka tetap hadir,
seolah ingin memastikan bahwa tradisi silaturahmi ini tidak pernah terputus
oleh waktu. Wajah-wajah yang telah lama menjadi bagian sejarah madrasah itu
tampak sumringah, bersalaman dengan penuh menundukkan kepala di hadapan para
guru dan menyapa satu per satu generasi di bawahnya.
“Dari dulu sampai sekarang, yang membuat kita kembali ke sini
bukan hanya tempatnya, tapi kenangannya,” ujar salah satu alumni sepuh dengan
mata yang berbinar.
Suasana semakin hangat ketika para alumni lintas generasi
saling bersalaman. Tidak ada sekat usia, tidak ada jarak status sosial—semua
larut dalam satu identitas: pernah belajar di tempat yang sama, dibimbing oleh
guru-guru yang sama, dan tumbuh dalam nilai yang sama.
Acara inti diisi dengan tausiyah oleh K. Ali Maimun Saedy,
yang mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai sumber keberkahan
hidup. Dalam ceramahnya, ia menyampaikan pesan sederhana namun menggugah.
“Hidung merupakan anggota tubuh yang tidak pernah istirahat.
Kalau ia berhenti sepersekian detik saja, apalagi sampai tiga menit, ya
wassalam. Pernahkah kita menghitung rasa syukur kita atas semua itu?”
ungkapnya, mengajak jamaah merenung tentang nikmat yang sering terlupakan.
Maos jugan
- Sanja': Duwana Eppa' || Ach Jazuli
- Puisi Madura Rizqa Nur Indah Sari
- Pidato Basa Madura: Pabinareng tor Ngobbar Gumate
- Lakar Sara Ngajarana Basa Madura
Ia juga menegaskan bahwa kebiasaan berkumpul dan
bersilaturahmi bukan sekadar tradisi sosial, melainkan jalan terbukanya
keberkahan. “Sering berkumpul dalam silaturahmi itu bisa memperlancar rezeki,”
tambahnya, disambut anggukan para hadirin.
Di sela-sela acara, tawa kecil dan obrolan ringan terdengar di
berbagai sudut. Ada yang mengenang masa mondok, ada yang membicarakan kehidupan
sekarang, dan ada pula yang sekadar melepas rindu setelah sekian lama tak
berjumpa.
Halal bi Halal ini juga menjadi bukti bahwa jaringan alumni
Taufiqur Rahman tetap hidup dan kuat. Dari desa ke desa, dari generasi ke
generasi, mereka tetap terhubung dalam satu ikatan yang tidak lekang oleh
waktu.
Menjelang sore, acara ditutup dengan doa bersama. Namun, bagi
para alumni, perpisahan hari itu bukanlah akhir. Ia justru menjadi pengingat
bahwa selalu ada tempat untuk kembali—tempat di mana mereka pernah menjadi
bagian dari sebuah keluarga besar.
Dan di sanalah, di halaman madrasah yang sederhana itu, silaturahmi terus menemukan jalannya.