Sepulang Melaut Di Malam Itu

Cerpen Madura, Mat Toyu, Kerrong Ka Omba', cerpen Bahasa madura


“Bagaimana tidur siangmu, nyenyak?” Tanya istrinya. Ia bergolek. Mengucek matanya. Lelaki paruh memilih merebahkan tubuhnya setelah beraktivitas di pekarangan rumahnya. Merabas daun pisang yang telah mongering di pohonnya. Membiarkan daun-daun pisang itu rebahan di tanah. Angin berkesiur kencang. Lelaki itu pun bangun. Menggulung sarung di depan perutnya.

 

“Dirimu sudah tua, mestinya kau tak perlu melaut lagi. Bukan aku tak suka hasil tangkapanmu, tapi, bermalam tanpa kamu, semalaman suntuk tanpa kamu. Mungkin bagimu, dirimulah yang teramat kedinginan di laut, beredam air laut, angin malam, angina malam di laut tentu…”

 

“Nyaris tiap hari kamu bicara seperti itu. Aku nyaris hafal… ahhh… apa salahnya menemani anak-anak kita pergi melaut. Ya meski bukan asli kita, anak saudara kita adalah anak-anak kita.”

 

“Aku tahu, kau sangat terpukul dengan kepergian anak semata wayangmu.. tapi sampai kapan..”

 

“Sampai aku juga mati!”

 

‘Kau, masih belum berubah. Keras kepala. Egois. Cuek!’ ucap batin istrinya.


Maos jugan

 

‘Mengapa istriku selalu begitu, melarangku melaut, padahal aku hanya mencari ikan. Aku memang tidak menjualnya. Aku bisa hidup dengan berdagang ubi-ubian, kelapa dan cabbi jamo (cabe jawa). Bosan juga mendengar celotehnya. Rata-rata aku melaut kalau angin bersahabat.’ Ia bergumam sembari beranjak ke kamar mandi. Mandi. Shalat. Makan. Istrinya duduk di kursi (panjang yang bisa ditempati berdua) sendirian di teras depan. Selesai makan, lelaki itu akan duduknya sembari mencongkel butir-butir yang terslip di giginya. Kursi yang diduduki lelaki beruban itu adalah kursi karet yang telah patah sandarannya sehingga ia bersandar pada tembok rumahnya. Di atas kepala lelaki itu tertempel gambar Masjidil Haram lengkap dengan Ka’bahnya dan suasana orang berthawaf. Tusuk giginya yang terbuat dari lidi, atau kadang terbuat dari sedotean air kemasan gelas dislipkan di belakang gambar Masjid-Ka’bah itu. Setiap selesai makan, lelaki itu duduk di teras depan. Menjelang sore itu, ia masih mencoba bersabar. Meredam amarah yang disebabkan perkataan istrinya.

 

Lelaki beruban itu yang sering memakai kopiah putih beranjak pergi. Ke utara rumahnya. Berjalan kaki. Turun. Naik sebagaimana jalan mobil yang tidak beraspal itu. kanan-kiri jalan itu penuh dengan pohonan. Jati. Akasia. Palembang. Siwalan. Talas. Sobek. Lorkong. Rumputan. Tentu pohon-pohon yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Ia menghisap rokoknya. Memasuki kompleks kuburan. Ia menuju kuburan di pinggir timur. Sebuah kuburan tidak berkejing. Tetap gundukan tanah. Ada pohon kamboja yang sudah bercabang tiga. Tidak ada bunga. Ia berjongkok menghadap ke barat. Membaca mantra-mantra: Fatihah. Shalawat. Surat-surat pendek dalam Al-Qur’an. Ajian-ajian yang didapatkan dari orang-orang yang dikunjunginya. Ia meneteskan air mata.

 

‘Maafkan aku, Bing. Pada saat itu aku benar-benar tidak mampu menyelamatkanmu. Aku sadar, nyawa manusia di tangan Tuhan. Aku sudah berusaha kesana-kemari hanya demi kesembuhanmu. Tapi aku tak menemukan bukona tamba. Semoga kau tenang di alam sana. Aku terus mencari apa yang kamu sebutkan, yang sering kamu ceritakan dalam mimpi-mimpiku. Aku tidak punya dendam, Bing. Tidak. Namun, kedatanganmu dalam mimpi membuatkan tidak tenang, jika tidak menemukan itu.’

 

Lelaki tua yang istiqomah menghisap rokok special itu membersihkan area sekitar kuburan anaknya itu. Anak gadis yang masih perawan mati mendahuluinya. Anak gadis, perawan yang dilirik lelaki sedesa itu menjadi rebutan para pria. Banyak yang menginginkannya. Namun gadis itu berkeinginan sekolah setinggi-tingginya. Tahun-tahun terakhir pada saat kelas IX menengah pertama, orang tua gadis itu kedatangan orang-orang yang sedang melamarnya. Sebagaimana anaknya. Ji Mat menolak lamaran. Lantaran anak itu masih sangat anak-anak, belum dewasa, belum mengerti kehidupan keluarga. Serta keinginan anak itu sendiri yang ingin melanjutkan sekolah setinggi-tingginya. Seluruh lamaran itu ditolaknya.

 

Gadis itu melanjutkan sekolah menengah atas. Lamaran dari orang-orang terdekatnya, tetangga dekatnya berdatangan. Ji Mat (yang bernama asli Haji Mohammad Hasan Zainuri yang didapatkan setelah naik haji itu, orang-orang di kampung itu menyebutnya Ji Mat, kadang orang memanggilnya Ji Zain, kadang terpleset menjadi Ji Jain karena susahnya menyebut Z. begitulah orang kampung itu. nama yang bagus terkadang menjadi jelek, karena dipanggil seenaknya) terpaksa harus menolak lamaran itu. Sejak saat itu, keluarga Ji Mat sedikit waswas dan cemas. Ia tak ingin anaknya dibuat gila, diguna-guna dengan ajian semar mesem ataupun jaran kuda liar eh jaran goyang maksudnya. Setiap malam Ji Mat selalu bangun malam hanya agar anak semata wayangnya terselamatkan, minimal hingga lulus menengah atas.

 

Pada saat anaknya naik kelas XII, gadis perawan itu mulai sakit-sakitan. Mulai dari meriang, sakit perut. Muntaber. Yang membuatnya jarang-jarang masuk ke sekolah. Inikah bala’nya, cemas Ji Mat. Apakah mereka menyihir anakku. Haji Hasan semakin cemas. Ia pun membawa ke dokter. Puskesmas hingga rumah sakit. Tidak hanya itu. dukun di seluruh daratan pulau ubi sudah ia datangi. Namun hasilnya tetap nihil. Ia tak menemukan bukona tamba, Ji Mat Hasan merasa sangat terpukul. Perut gadis itu semakin liat. Tidak seperti perut pada umumnya. Ji Mat menangis tak henti-hentinya. Jika ada obatnya, jika ada yang menawarkan kesanggupan untuk menghilangkan sakitnya, berapapun akan kubayar, akan kuberikan seluruh hartaku, akan kuberikan seluruh tenagaku untuk kehidupannya. Ucapnya dalam balutan kecemasan dan cucuran air mata. Hari ini ia tidak berdaya.

 

Jika kamu besok sembuh, kemana pun kau ingin sekolah akan aku izinkan, akan aku antar. Marilah Bing, bangun. Bangun nak, saatnya kamu berangkat sekolah. Air matanya tumpah di lencak, tempat anaknya terbaring. Ji Mat tak berdaya. Ia harus kehilangan anak semata wayangnya. Anak gadis kesayangannya. Ia selalu mengupayakan apapun yang anaknya pinta. Nasib berkata lain. Hari itu orang-orang datang berbondong-bondong. Mereka ikut merasakan kesedihan. Air mata menetes. Dan gadis itu harus dikebumikan.

 

Ji Mat Hasan sering berada di pinggir laut. Menangis. Menatap laut. Tak kuat rasanya kehilangan anak semata wayang yang bercita-cita tinggi. Ia juga ingin mati. Bunuh diri. Tapi istirnya menahannya. Istrinya menangis. Menangis. Mereka pulang ke rumahnya. Ji Mat Hasan memilih tidur. Istirahat. Menenangkan diri. Sembari bertanya-tanya siapa gerangan yang menyihir anaknya. Ia ingat satu persatu orang-orang dari mana saja yang melamarnya. Adakah yang paling mencurigakan. Siapakah tetangga terdekatnya yang selalu terkesan marah-marah, kurang bersahabat dan penuh kebencian pada dirinya. Padahal dirinya tak pernah membenci, tidak pernah mengganggu orang lain. Tidak pernah membuat keonaran. Tidak pernah membunuh orang lain. Tidak pernah menjadi bajingan. Tidak pernah membantu mencarikan jodoh pada orang lain. Aiih kenapa orang bisa membenciku dan membuat anak mati dalam keadaan tragis. Ucapnya pada diri sendiri.


Maos jugan

 

Setiap saat pikirannya melayang pada pertanyaan siapa yang melakukan semua ini. Ia terkadang tertunduk lesu. Tak lagi bergairah untuk hidup. Tak lagi menikmati kehidupan yang memang menyengsarakan ini. Ia merasa telah berkubang pada duka. Rajam kematian dirinya sendiri. Istrinya selalu membisiki untuk bangun. Bekerjalah walau sebentar. Begitu ucap istrinya. Dengan pelan-pelan. Ji Mat Hasan mulai kembali melaut. Menangkap ikan.

 

‘Ayah… ada benda kecil yang dilempar ke laut oleh orang yang menganiaya diriku. Yang membuatku sakit dan tak sadarkan diri. Ia melemparnya ke laut, agar aku tak bisa sembuh’

 

‘Siapa dia. Katakana.’

 

‘Berkumis tebal, mukanya ada bekas luka. Bibirnya hitam.’

 

“Siapa namanya?” Ji Mat Hasan mengingau. Suaranya mengagetkan istrinya. Terbangun. “Kenapa Ji” ucapnya tergesa.

 

“Anak kita. Anak kita datang dalam mimpi. Ia memintaku… meminta.”

 

“Meminta salametan?”

 

Dengan suara pelan dan lirih, Ji Mat Hasan menjelaskan “Memintaku melaut lagi.” Mendengar penuturan suaminya. Istrinya cemas. Sangat cemas. Bagaimana jika suaminya. Ji Mat Hasan mengakhiri hidupnya di laut. Bagaimana jika permohonan melaut adalah cara dia untuk segera mati. Bunuh diri. Dan ini pasti akan menjadi pertengkaran. Apa anakku sekedar memintanya melaut?

 

 

Palalangan. 01 Maret 2022

Mat Toyu

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak