ADAPTASI BUKAN ADAB
Kata adaptasi memang bukan berasal
dari kata adab. Mirip bunyinya sedikit, tetapi tidak bersaudara secara bahasa.
Adaptasi diserap dari bahasa Belanda
adaptatie, yang berakar pada bahasa Latin adaptare: menyesuaikan, mencocokkan,
atau membuat sesuatu sesuai dengan keadaan. Sedangkan adab berasal dari bahasa
Arab أدب (adab), yang berkaitan dengan kesopanan, tata krama, pendidikan
akhlak, dan kepantasan dalam bersikap.
Tetapi kadang-kadang sesuatu yang
tidak bersaudara di kamus bisa bertetangga sangat dekat dalam kehidupan.
Orang yang beradab biasanya tahu
bagaimana menempatkan dirinya. Datang ke rumah orang, ia tidak merasa sedang
berada di rumah sendiri. Masuk ke lingkungan baru, ia tidak memaksa seluruh
lingkungan mengikuti kebiasaannya. Bertemu orang yang berbeda usia, budaya,
pendidikan, atau kedudukan, ia tahu bahwa cara berbicaranya juga perlu
disesuaikan.
Itulah adaptasi.
Maka kemampuan beradaptasi sebenarnya
dekat sekali dengan salah satu buah adab: tahu diri, tahu tempat, tahu waktu,
dan tahu cara.
Orang yang sulit beradaptasi belum
tentu tidak beradab. Jangan terlalu cepat memberikan vonis. Bisa jadi ia
pemalu, canggung, belum mengenal lingkungan, punya kebiasaan berbeda, atau
memang membutuhkan waktu lebih panjang untuk menyesuaikan diri.
Tetapi ada jenis “sulit beradaptasi”
yang memang mulai bersentuhan dengan masalah adab: ketika seseorang merasa
semua tempat harus menyesuaikan dirinya.
Masuk rumah orang, aturan rumahnya
yang hendak diubah. Masuk organisasi, tradisinya langsung dianggap salah.
Datang ke kampung orang, kebiasaan kampung sendiri yang dijadikan ukuran.
Bertemu orang berbeda pendapat, bukan mencoba memahami, malah meminta semua
kepala mempunyai isi yang sama dengan kepalanya.
Ini bukan lagi sekadar kesulitan
beradaptasi. Ini bisa menjadi kesulitan menyadari bahwa dunia ternyata dihuni
banyak manusia, bukan dirinya seorang.
Pohon yang hidup pun punya kemampuan
menyesuaikan diri. Akar mencari air, daun mencari cahaya, batang mengikuti arah
ruang untuk tumbuh. Hanya benda mati yang bisa diletakkan di mana saja tanpa
merasa perlu menyesuaikan apa-apa.
Manusia tentu berbeda. Kita mempunyai
prinsip yang tidak boleh selalu ditekuk demi lingkungan. Adaptasi bukan berarti
kehilangan pendirian. Beradab juga bukan berarti selalu mengiyakan orang lain.
Prinsip menjaga siapa diri kita. Adab
mengajari bagaimana membawa diri kita. Adaptasi membantu kita hidup bersama
orang lain.
Karena itu, adaptasi dan adab memang
berbeda asal-usulnya. Yang satu datang dari rumpun bahasa Eropa, yang satu dari
bahasa Arab.
Tetapi dalam kehidupan, keduanya
seperti dua jalan kecil yang sering bertemu di sebuah persimpangan bernama tahu
menempatkan diri.
Jadi kalimatnya mungkin begini:
Adaptasi bukan berasal dari kata
adab. Tetapi orang yang benar-benar memahami adab biasanya lebih pandai
beradaptasi.
Beda kata, beda akar, beda makna.
Tapi kadang hasil akhirnya sama: tidak
membuat orang lain sumpek hanya karena kita tidak pandai menempatkan diri.
Hidup
ini sebentar,
tetapi
harganya begitu mahal.
Jangan
tukarkan umur yang takkan kembali
dengan
sesuatu yang tak layak dikenang.
Gunakan
waktu untuk yang berharga,
langkahkan
kaki menuju kebaikan,
isi
hari dengan ilmu & ibadah,
basahi
lisan dengan dzikir.
Umur
hanya sekali,
waktu
terus pergi,
dan
kesempatan tak selalu kembali.
Maka
hiduplah untuk sesuatu yang bernilai,
agar
ketika tirai kehidupan ditutup,
yang
tersisa bukan penyesalan,
melainkan
pahala & kebaikan.
