Mau Berbisnis di Zaman Sekarang? Menurutku, Setidaknya Perhatikan 9 Hal Ini



Mau Berbisnis di Zaman Sekarang? Menurutku, Setidaknya Perhatikan 9 Hal Ini

ESAI|| lalampan.com|| Hai Gen-Z beserta gen-gen yang lain, mungkin sedang sibuk mencari cara untuk menambah pemasukan di tengah badai in this economy, yak an, uang wa money memang tidak dibawa mati, however, mon ta’ andhi’ pesse, nyaris mau mati, kita tertawa dulu sejenak. Kita coba sedikit merenung apa kiranya yang dibutuhkan untuk memulai perdagangan.

Menurutku, ada sekitar sembilan hal yang sebaiknya mulai diperhatikan secara serius oleh anak-anak muda (Gen-Z) yang ingin berbisnis, membangun usaha kecil, atau sekadar mencari jalan untuk mendapatkan penghasilan sendiri. Tidak harus langsung menjadi pengusaha besar. Bahkan tidak harus punya toko, karyawan, atau kantor dengan kaca besar yang kalau difoto terlihat seperti startup. Yang penting adalah mulai memahami bagaimana sebuah usaha sebenarnya bekerja.

Zaman sekarang, memulai usaha memang terasa jauh lebih mudah dibanding beberapa puluh tahun lalu. Dengan sebuah telepon genggam, seseorang bisa menawarkan barang, menerima pembayaran, membuat promosi, berkomunikasi dengan pelanggan, bahkan menjual sesuatu kepada orang yang tinggal ratusan kilometer dari tempatnya. Tetapi kemudahan memulai ini juga punya sisi lain. Karena semua orang bisa memulai, persaingan menjadi jauh lebih ramai. Maka persoalannya bukan lagi sekadar berani memulai, tetapi apakah kita tahu apa yang sedang kita bangun.

Pertama, kita harus tahu siapa yang sebenarnya akan membeli.

Ini terdengar sederhana, tetapi justru sering dilupakan. Banyak orang membuat produk berdasarkan apa yang mereka sukai, kemudian berharap orang lain juga menyukainya. Padahal pasar tidak bekerja seperti itu. Apa yang menurut kita bagus belum tentu dibutuhkan orang lain, dan apa yang menurut kita biasa saja kadang justru dicari banyak orang.

Karena itu, sebelum terlalu sibuk memikirkan logo, nama usaha, atau desain kemasan, mungkin lebih baik bertanya terlebih dahulu: siapa orang yang paling mungkin membeli produk ini? Anak muda, ibu rumah tangga, mahasiswa, pekerja, wisatawan, lembaga, komunitas, atau kelompok tertentu? Semakin kita mengenal calon pelanggan, semakin mudah pula kita menentukan produk, harga, cara komunikasi, dan tempat menjualnya.

Kedua, kita harus punya alasan mengapa orang perlu membeli.

Sekarang hampir semua produk punya pesaing. Kalau menjual makanan, sudah ada banyak orang yang menjual makanan. Kalau menjual pakaian, marketplace penuh dengan pakaian. Kalau menjual kopi, bahkan rasanya manusia sudah membuat kopi dengan hampir semua kombinasi yang mungkin ditemukan oleh peradaban.

Jadi pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang saya jual?” tetapi juga, “Apa yang membuat orang memilih produk saya?” Bisa jadi karena rasanya lebih enak, harganya masuk akal, desainnya unik, lebih praktis, kualitasnya lebih baik, pelayanannya lebih menyenangkan, atau karena produk tersebut memiliki cerita dan identitas tertentu. Orang membeli barang, tetapi sering kali mereka sebenarnya membeli manfaat, pengalaman, kenyamanan, atau bahkan perasaan tertentu.

Di sinilah potensi lokal bisa menjadi kekuatan. Produk yang berasal dari bahan, keterampilan, pengetahuan, atau budaya lokal tidak otomatis menjadi menarik. Ia baru memiliki nilai lebih ketika potensi tersebut berhasil diterjemahkan menjadi sesuatu yang memang dianggap berarti oleh pelanggan.

Ketiga, pikirkan bagaimana orang akan menemukan produk kita.

Produk sebagus apa pun tidak akan banyak membantu kalau tidak ada yang tahu bahwa produk itu ada. Dulu orang mungkin mengandalkan toko, pasar, brosur, spanduk, atau rekomendasi dari tetangga. Sekarang jalannya jauh lebih banyak. Ada WhatsApp, Instagram, TikTok, marketplace, Google, komunitas, pameran, dan berbagai ruang digital lain yang terus bermunculan seperti manusia memang belum cukup sibuk dengan platform yang sudah ada.

Tetapi bukan berarti semua harus digunakan. Menurutku, seorang anak muda yang sedang membangun usaha tidak perlu merasa bersalah karena tidak aktif di semua media sosial. Yang lebih penting adalah mengetahui di mana calon pelanggan berada. Kalau pelanggan banyak menggunakan WhatsApp, kelola WhatsApp dengan baik. Kalau pasar ada di marketplace, seriuslah di sana. Kalau pelanggan datang dari komunitas atau lembaga, bangun hubungan dengan komunitas dan lembaga tersebut.

Teknologi seharusnya membantu bisnis, bukan membuat pemilik bisnis menjadi admin media sosial penuh waktu yang kebetulan menjual produk.

Keempat, jangan menganggap hubungan dengan pelanggan selesai setelah uang masuk.

Ada kebiasaan sederhana dalam jual beli: pelanggan membeli, barang diberikan, uang diterima, selesai. Padahal bagi sebuah usaha yang ingin bertahan lama, transaksi pertama justru bisa menjadi awal dari hubungan yang lebih panjang. Pelanggan yang puas dapat membeli lagi, merekomendasikan produk kepada orang lain, bahkan menjadi bagian dari jaringan bisnis kita.

Karena itu, pelayanan sebenarnya bukan pekerjaan tambahan. Ia bagian dari bisnis itu sendiri. Membalas pesan dengan baik, memberikan informasi yang jelas, menangani keluhan, memastikan barang sampai dengan baik, dan menghubungi pelanggan setelah transaksi mungkin terlihat sebagai hal kecil. Tetapi dari hal-hal kecil semacam itu, kepercayaan dibangun.

Bisnis yang hanya sibuk mencari pelanggan baru setiap hari bisa menjadi sangat melelahkan. Sementara bisnis yang mampu mempertahankan pelanggan lama memiliki keuntungan yang sering tidak terlihat pada awalnya: pelanggan lama sudah mengenal kita dan tidak perlu diyakinkan dari nol.

Kelima, tentu saja, kita harus tahu dari mana uang akan datang.

Ini bagian yang tidak terlalu romantis, tetapi penting. Kita boleh punya passion, cerita, idealisme, dan visi besar. Namun pada akhirnya bahan baku harus dibayar, listrik harus dibayar, ongkos kirim harus dibayar, dan perut juga masih punya kebiasaan buruk berupa meminta makan setiap hari.

Karena itu, penting untuk mengetahui sumber pendapatan usaha. Apakah uang terutama datang dari penjualan langsung? Dari reseller? Pesanan dalam jumlah besar? Pesanan lembaga? Produk tambahan? Jasa? Paket tertentu? Pelanggan yang melakukan pembelian berulang?

Tidak semua usaha harus memiliki banyak sumber pendapatan. Bahkan terlalu banyak sumber pendapatan bisa membuat usaha kehilangan fokus. Yang penting adalah mengetahui sumber mana yang paling kuat, mana yang bisa dikembangkan, dan mana yang sebenarnya hanya terlihat ramai tetapi tidak memberikan keuntungan yang berarti.

Dan satu hal yang sering membuat orang keliru: omzet bukan keuntungan. Uang yang masuk ke rekening belum tentu menjadi uang yang bisa dibawa pulang.

Keenam, kenali apa yang sebenarnya kita punya.

Setiap orang yang memulai usaha biasanya langsung berpikir tentang apa yang belum dimiliki. Tidak punya modal. Tidak punya toko. Tidak punya alat. Tidak punya jaringan. Tidak punya pegawai. Tidak punya followers. Akhirnya daftar kekurangan lebih panjang daripada daftar kekuatan.

Padahal setiap orang biasanya memiliki sesuatu yang bisa menjadi modal awal. Bisa berupa keterampilan, pengetahuan, pengalaman, akses terhadap bahan baku, jaringan pertemanan, kemampuan berkomunikasi, kemampuan membuat sesuatu, atau pengetahuan mengenai lingkungan tempat tinggalnya.

Bahkan potensi lokal di sekitar kita bisa menjadi sumber daya penting. Ada daerah yang punya bahan baku tertentu, ada masyarakat yang punya keterampilan khas, ada orang-orang yang memiliki pengetahuan turun-temurun. Tantangannya adalah bagaimana semua itu diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi tanpa kehilangan kualitas dan maknanya.

Ketujuh, pahami pekerjaan yang sebenarnya harus dilakukan.

Mempunyai bisnis berarti mempunyai pekerjaan. Ini terdengar sederhana, tetapi sering kali terlupakan karena media sosial lebih suka memperlihatkan sisi bisnis yang menarik: foto produk, paket pesanan, omzet, perjalanan, atau kisah sukses. Jarang ada yang mengunggah foto ketika harus mengecek stok selama dua jam atau menghitung biaya kemasan yang ternyata salah.

Padahal pekerjaan seperti itulah kehidupan sehari-hari sebuah usaha. Memproduksi barang, menjaga kualitas, membeli bahan, membalas pelanggan, mengemas pesanan, mengirim barang, membuat promosi, mencatat transaksi, dan mengevaluasi hasil penjualan adalah bagian dari bisnis.

Jadi kalau ingin membangun usaha, jangan hanya bertanya, “Apa yang ingin saya jual?” Tanyakan juga, “Pekerjaan apa yang harus saya lakukan terus-menerus supaya usaha ini tetap hidup?” Kadang bisnis tidak gagal karena produknya buruk, tetapi karena pekerjaan di belakang produk tidak pernah benar-benar dikelola.

Kedelapan, jangan merasa harus mengerjakan semuanya sendirian.

Kemandirian sering disalahartikan sebagai kemampuan melakukan segala sesuatu sendirian. Padahal dalam bisnis, kemampuan membangun hubungan dan bekerja sama justru bisa menjadi kekuatan besar. Kita membutuhkan pemasok, pelanggan, reseller, teman, komunitas, lembaga, mentor, bahkan kadang orang yang memiliki kemampuan yang sama sekali tidak kita miliki.

Kerja sama juga tidak selalu harus langsung berbentuk transaksi. Bisa dimulai dari berbagi informasi, saling memperkenalkan pelanggan, membuat kegiatan bersama, atau membuka akses yang sebelumnya tidak kita miliki. Sebuah usaha kecil mungkin tidak mempunyai banyak modal, tetapi bisa memiliki jaringan sosial yang kuat.

Dalam konteks bisnis berbasis potensi lokal, hal ini bahkan semakin penting. Produk lokal jarang tumbuh sendirian. Ada petani, pengrajin, pengolah, pedagang, komunitas, pemerintah, lembaga pendidikan, dan berbagai pihak lain yang sebenarnya bisa menjadi bagian dari ekosistem usaha.

Kesembilan, terakhir tetapi sangat penting, hitung berapa biaya yang harus dikeluarkan.

Ini mungkin bagian yang paling tidak keren untuk dibicarakan. Tidak banyak orang membuat konten motivasi dengan judul, “Hari Ini Saya Berhasil Menghitung Biaya Produksi Sampai Selesai.” Padahal kemampuan menghitung biaya bisa menentukan apakah sebuah usaha benar-benar sehat atau hanya terlihat sibuk.

Bahan baku, tenaga kerja, kemasan, transportasi, listrik, sewa, promosi, biaya platform, dan berbagai pengeluaran kecil harus mulai diperhatikan. Kadang satu per satu terlihat tidak besar, tetapi ketika dikumpulkan, jumlahnya bisa membuat kita bertanya-tanya ke mana sebenarnya uang hasil penjualan pergi.

Karena itu, pertanyaan penting dalam bisnis bukan hanya “Berapa yang bisa saya dapat?”, tetapi juga “Berapa yang harus saya keluarkan untuk mendapatkannya?” Dari sinilah kita mulai memahami apakah sebuah produk benar-benar menguntungkan, apakah harga sudah masuk akal, dan apakah usaha tersebut layak dikembangkan.

Pada akhirnya, sembilan hal ini sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Kita hanya sedang mencoba memahami sebuah usaha dari berbagai sisi: siapa yang membeli, apa yang mereka cari, bagaimana mereka menemukan kita, bagaimana membuat mereka kembali, dari mana uang datang, apa yang kita miliki, apa yang harus dikerjakan, siapa yang bisa membantu, dan berapa biaya yang harus dikeluarkan.

Bagi Gen-Z yang ingin berbisnis, mungkin tidak perlu terburu-buru ingin terlihat sebagai “entrepreneur”. Istilah itu belakangan saja. Yang lebih penting adalah belajar membaca kenyataan. Apakah ada orang yang membutuhkan produk kita? Apakah mereka mau membayar? Apakah kita mampu memenuhi kebutuhan mereka? Apakah uang yang masuk lebih sehat daripada uang yang keluar? Dan apakah usaha tersebut bisa terus berjalan ketika perhatian media sosial sudah berpindah ke tren berikutnya?

Sebab bisnis pada akhirnya bukan hanya soal keberanian memulai. Bisnis adalah kemampuan membuat sesuatu yang bernilai, menemukan orang yang membutuhkannya, mendapatkan penghasilan darinya, lalu menjaga agar seluruh proses itu tetap berjalan.

Dan mungkin di situlah bedanya antara sekadar punya jualan dengan benar-benar sedang membangun usaha.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form