Nyanyian Rindu Untuk Pemimpin

Bahasa & Sastra Madura, Nailus Sururi, Sanja', Carpan Madura


Untuk Para Pemimpin Kami

 

aku hanya manusia biasa

yang mencintai negeriku  aku inginkan negeri ini damai

tak ada kekerasan

 

tak ada kerusuhan

tak ada mereka

yang kaya karena uang rakyat

yang duduk diam saat rakyat menangis

 

hai, kamu

yang disebut wakil rakyat yang suka mengobrol janji-janji semu

 

tepatilah janji-janjimu itu  kami inginkan negeri ini damai, adil dan sejahtera. Ingat! Yang maha kuasa

mengawasimu dari tahta surga

 

Tuhan melihat pekerjaan yang kau lakukan saat ini Tuhan mendengar janji-janjimu  yang kau ucapkan pada kami

 

lakukanlah kerjamu dengan baik

cintailah orang kecil dengan tulus

bukan karena kau ingin mendapatkan sesuatu dari mereka

 

 

Nyanyian

 

"Kudengar burung bernyanyi dari atas kabel listrik, pohon bambu,  tali jemuran, atau dari rumput kering musiknya adalah embusan angin namun, ia menulis liriknya sendiri.  Pohon pisang melambaikan daun menari mengikuti irama, ke kanan dan ke kiri. Dalam hati aku bertanya, bagaimana burung begitu riang bernyanyi di antara kabar-kabar mangkat terus bertandang.

 

Rindu Merimba

 

Dalam tidurku tadi malam, rindu menabur benih mimpi, pagi ini aku terbangun di rimba. Jalan-jalan menghilang  teriakku cuma berbalas gema. Jauh temu,  masih jauh jumpa, meski kabar sudah dibawa burung. Dalam rindu yang merimba,  kubuat kebun Baru. Kutanam buah-buah yang kausuka dan menunggu musim tiba membuatnya matang, saat kaudatang.


Maos jugan


Mandikan Aku Seribu Air Kolah

 

Begitupun kuat saya berpegang kata-kata siang, malam akan datang memeluk-melekakan saya kepada setiap perkara yang telah lama ditanam,

 

Apabila hujan turun pada pukul dua pagi gigil dinginnya membuat saya  berfikir seluruh dosa yang salah telah saya lakukan atas nama diri saya, terbayang semula setiap marak api' yang selalu selalu saya nyalakan di dada saya mengingat semula betapa

Hanyirnya peluh menitis di malam-malam yang sebelumnya.

 

Sebelum saya sempat sadar,  setiap dinding yang pernah saya sentuh oleh seluruh tubuh badan pernah memberitahu bahwa: hidup adalah kesilapan

 

Saya bukannya tak mahu duduk diam dan dengan sengaja membiarkan setiap kering tanah menjadi semakin rekah, tetapi pukimak  menerima kesilapan yang berulang-ulang ini buat saya fikir yang berapa jauhnya jalan menemu kebenaran menemu kebaikan

Menemu jawaban.



Banyuwangi, 30 Oktober 2023 (15 Rabiul Aher 1445)

*Nailus Sururi adalah warga Batang-Batang yang sekarang sedang menyukai dunia perantauan dan mencatatnya dalam sebingkai puisi.


Maos jugan

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak