Fitnah
yang Dibiayai Mahal
ESAI||
Lalampan.com||
Ada
zaman ketika umat Islam dijajah dengan meriam. Ada zaman ketika umat Islam
dijajah dengan perdagangan. Dan sekarang, ada zaman yang lebih rumit: umat
Islam dijajah dengan kebencian antar sesamanya.
Mahal
biayanya.
Televisi
bekerja. Media sosial bekerja. Potongan video bekerja. Influencer bekerja.
Tokoh-tokoh dibentuk. Emosi dipelihara. Kemarahan dipanen setiap hari seperti
sawah yang tidak pernah gagal panen.
Dulu
orang bertengkar karena rebutan tanah. Sekarang orang bisa bertengkar hanya
karena potongan ceramah tiga puluh detik.
Yang
lebih ironis, semuanya merasa sedang membela agama.
Padahal
agama tidak pernah membutuhkan umat yang kehilangan akhlak demi membelanya.
Ceramah
itu mengingatkan sesuatu yang sangat tua, tapi terasa baru kembali: setan tidak
selalu datang membawa maksiat terang-terangan. Kadang ia datang membawa slogan
perjuangan. Membawa semangat membela sunnah. Membawa jargon cinta Ahlul Bait.
Membawa semangat pemurnian. Membawa bendera. Membawa mikrofon. Membawa potongan
dalil. Lalu umat dibenturkan satu sama lain.
Kaum
Sufi dibenturkan dengan Salafi. Salafi dibenturkan dengan habaib. Habaib
dibenturkan dengan pesantren. Pesantren dibenturkan dengan gerakan dakwah lain.
Sunni dibenturkan dengan Syiah.
Semua
sibuk menjaga kelompoknya masing-masing sampai lupa menjaga hatinya sendiri. Padahal
musuh terbesar umat kadang bukan kelompok lain. Tapi hawa nafsu untuk selalu
merasa paling benar.
Hari
ini orang gampang sekali menjadi hakim. Baru membaca satu thread langsung
merasa mujtahid. Baru menonton dua podcast langsung merasa ahli sejarah Islam.
Padahal membaca utuh saja belum tentu, apalagi memahami utuh.
Yang
paling sedih, kebencian sekarang terasa lebih nikmat daripada ilmu.
Orang
lebih semangat menyebarkan video bantahan daripada menghadiri majelis ilmu.
Lebih hafal aib tokoh lain daripada hafal dosa sendiri. Lebih rajin mencari
kesalahan kelompok lain daripada memperbaiki shalatnya sendiri.
Lalu
semua mengira dirinya sedang berjihad. Padahal mungkin hanya sedang menjadi
relawan gratis bagi proyek perpecahan.
Kalimat
dalam ceramah itu sebenarnya sederhana tetapi dalam: jangan masuk ke
proyek-proyek politik yang kotor. Sebab politik dunia sering tidak membutuhkan
umat Islam kuat. Yang dibutuhkan hanyalah umat Islam yang mudah marah.
Karena
orang marah mudah diarahkan. Orang fanatik mudah diprovokasi. Dan orang yang
terlalu membenci biasanya berhenti berpikir.
Maka
tidak aneh jika ada pihak yang memberi dana ke satu kelompok, memberi panggung
ke kelompok lain, meniupkan isu ke sana-sini, lalu duduk santai menyaksikan
umat saling hantam. Mereka tidak perlu menghancurkan umat Islam dari luar.
Cukup membuat umat Islam saling menghancurkan dirinya sendiri.
Lebih
murah. Lebih efektif. Dan kadang dilakukan atas nama agama.
Di
titik inilah ceramah tadi terasa penting. Ia tidak sedang menghapus perbedaan.
Perbedaan akan tetap ada sampai hari kiamat. Tapi setidaknya jangan sampai
perbedaan berubah menjadi industri kebencian.
Sebab
Nabi Muhammad ﷺ
tidak mewariskan agama yang dibangun di atas cacian.
Beliau
mewariskan umat. Dan umat tidak akan kuat jika setiap generasi diajari bahwa
saudara sesama Muslim lebih layak dicurigai daripada dipeluk.
Mungkin
benar, zaman ke depan adalah tahun-tahun yang berbahaya.
Tetapi
yang paling berbahaya bukan senjata. Bukan rudal. Bukan propaganda media.
Yang paling berbahaya adalah ketika hati seorang Muslim mulai menikmati permusuhan terhadap Muslim lainnya.
***
Ketika Sound Lebih Nyaring daripada Shalawat
Sebuah desa mengumpulkan iuran
sekitar Rp1,5 juta dari setiap rumah untuk memeriahkan karnaval Agustusan
dengan hiburan sound system berukuran besar. Nilainya tidak kecil. Artinya,
ketika masyarakat menganggap sesuatu penting, ternyata mereka mampu berkorban
dengan tenaga, waktu, bahkan harta.
Namun, ada ironi yang mengundang
renungan. Karena waktunya berdekatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ,
acara Maulid justru direncanakan berlangsung secara sederhana dengan alasan
keterbatasan biaya.
Di sinilah persoalannya bukan pada
karnaval, bukan pula pada sound system. Kegembiraan dalam perayaan kemerdekaan
adalah sesuatu yang wajar selama tidak melanggar syariat. Yang layak
direnungkan adalah soal skala prioritas hati.
Anggaran sering kali hanyalah cermin
dari apa yang paling kita cintai. Apa yang kita anggap penting, di situlah
biasanya harta mengalir tanpa banyak perhitungan. Sebaliknya, apa yang dianggap
sekadar pelengkap akan selalu mencari alasan untuk disederhanakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidaklah salah seorang di
antara kalian beriman dengan sempurna hingga aku lebih ia cintai daripada
ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Cinta tentu tidak hanya diucapkan. Ia
tampak dalam perhatian, pengorbanan, dan penghormatan yang diberikan.
Maulid Nabi tidak harus dirayakan
dengan kemewahan. Kesederhanaan bukanlah masalah. Bahkan banyak ulama
mengajarkan bahwa keberkahan tidak bergantung pada megahnya acara, tetapi pada
keikhlasan, shalawat, pembacaan sirah, dan semangat meneladani akhlak Rasulullah
ﷺ.
Namun, jika kesederhanaan itu muncul
bukan karena pilihan, melainkan karena seluruh kemampuan telah habis dialihkan
untuk hal lain, maka setiap orang berhak bertanya kepada dirinya sendiri: apa
yang sebenarnya lebih besar kedudukannya di dalam hati kita?
Karnaval selesai dalam beberapa jam.
Suara sound yang menggelegar akhirnya akan berhenti. Lampu-lampu akan
dipadamkan. Tetapi kecintaan kepada Rasulullah ﷺ adalah cahaya yang semestinya
tetap menyala sepanjang hayat.
Karena itu, bukan soal melarang orang
bergembira. Yang lebih penting adalah menjaga agar kegembiraan dunia tidak
sampai membuat penghormatan kepada Nabi Muhammad ﷺ kehilangan tempat yang mulia
dalam hati umatnya.
