Kami Suku Madura Tidak Perlu Sibuk Meminta Pengakuan Siapa pun


 

Kami Suku Madura Tidak Perlu Sibuk Meminta Pengakuan Siapa pun

Kami Madura (Rowi El-Hamzi)

Silakan ada yang mengejek dengan sebutan “rayap besi”, SDM rendah, keras, kasar, atau berbagai stereotip lainnya. Madura terlalu besar untuk dinilai dari beberapa orang, apalagi hanya dari potongan video dan komentar media sosial.

Lihatlah pesantren-pesantrennya. Lihat para ulama yang lahir dari tanah Madura. Lihat orang-orang Madura yang merantau: datang dengan keberanian, bekerja keras, berdagang, membangun usaha, lalu menghidupi keluarganya dengan keringat sendiri.

Tentu Madura bukan suku yang sempurna. Ada orang baik dan buruk, pintar dan kurang pintar, seperti suku mana pun. Kesalahan seseorang adalah kesalahan orang itu, bukan kesalahan sukunya.

Maka ketika ada putra Madura berdiri di forum terhormat dan menunjukkan kualitasnya, kami bangga. Bukan untuk mengatakan Madura lebih tinggi dari suku lain, tetapi untuk mengingatkan: jangan terlalu cepat merendahkan sesuatu yang belum kalian kenal.

Kami tidak perlu membalas hinaan dengan hinaan.

Bunga tidak kehilangan wanginya hanya karena ada lalat yang lebih menyukai selokan.

Kami Madura.

Kami taretan.

Kami bangga, tanpa harus merendahkan siapa-siapa.

 


***

Ketika Sound Lebih Nyaring daripada Shalawat

Sebuah desa mengumpulkan iuran sekitar Rp1,5 juta dari setiap rumah untuk memeriahkan karnaval Agustusan dengan hiburan sound system berukuran besar. Nilainya tidak kecil. Artinya, ketika masyarakat menganggap sesuatu penting, ternyata mereka mampu berkorban dengan tenaga, waktu, bahkan harta.

Namun, ada ironi yang mengundang renungan. Karena waktunya berdekatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ, acara Maulid justru direncanakan berlangsung secara sederhana dengan alasan keterbatasan biaya.

Di sinilah persoalannya bukan pada karnaval, bukan pula pada sound system. Kegembiraan dalam perayaan kemerdekaan adalah sesuatu yang wajar selama tidak melanggar syariat. Yang layak direnungkan adalah soal skala prioritas hati.

Anggaran sering kali hanyalah cermin dari apa yang paling kita cintai. Apa yang kita anggap penting, di situlah biasanya harta mengalir tanpa banyak perhitungan. Sebaliknya, apa yang dianggap sekadar pelengkap akan selalu mencari alasan untuk disederhanakan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman dengan sempurna hingga aku lebih ia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Cinta tentu tidak hanya diucapkan. Ia tampak dalam perhatian, pengorbanan, dan penghormatan yang diberikan.

Maulid Nabi tidak harus dirayakan dengan kemewahan. Kesederhanaan bukanlah masalah. Bahkan banyak ulama mengajarkan bahwa keberkahan tidak bergantung pada megahnya acara, tetapi pada keikhlasan, shalawat, pembacaan sirah, dan semangat meneladani akhlak Rasulullah ﷺ.

Namun, jika kesederhanaan itu muncul bukan karena pilihan, melainkan karena seluruh kemampuan telah habis dialihkan untuk hal lain, maka setiap orang berhak bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya lebih besar kedudukannya di dalam hati kita?

Karnaval selesai dalam beberapa jam. Suara sound yang menggelegar akhirnya akan berhenti. Lampu-lampu akan dipadamkan. Tetapi kecintaan kepada Rasulullah ﷺ adalah cahaya yang semestinya tetap menyala sepanjang hayat.

Karena itu, bukan soal melarang orang bergembira. Yang lebih penting adalah menjaga agar kegembiraan dunia tidak sampai membuat penghormatan kepada Nabi Muhammad ﷺ kehilangan tempat yang mulia dalam hati umatnya.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form