“Edudus” dengan Kepekaan Sosial, Sarjana Sosial STIDAR lulus



“Edudus” dengan Kepekaan Sosial, Sarjana Sosial STIDAR lulus

TAMBUL|| lalampan.com-1447. Pelaksanaan Yudisium angkatan V Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman menjadi salah satu momen yang tak sekadar seremonial, tetapi juga menyimpan jejak panjang perjalanan, harapan, dan haru yang sulit dilupakan. Sebanyak 34 mahasiswa resmi dinyatakan lulus, terdiri dari 14 mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam dan 20 mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Islam—angka yang mungkin tampak sederhana, namun di baliknya tersimpan kisah perjuangan yang tidak sederhana.

Diselenggarakan pada Jumat, 24 April 2026, di Hall Ibrahimi, acara tersebut berlangsung dengan suasana yang khidmat sekaligus emosional. Para mahasiswa yang mengenakan busana terbaiknya tampak memenuhi ruangan dengan wajah-wajah yang menyiratkan kelegaan, bangga, sekaligus haru. Di antara mereka, ada yang datang bersama orang tua, ada pula yang hanya ditemani doa dari kejauhan. Namun semuanya hadir dengan satu perasaan yang sama: akhirnya sampai di titik ini.

Momentum yudisium ini turut dihadiri oleh segenap pimpinan, pengasuh, serta civitas akademika Stidar Sumenep. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai formalitas, tetapi sebagai saksi perjalanan panjang para mahasiswa—dari yang awalnya ragu, jatuh bangun menghadapi tugas, hingga akhirnya berdiri tegak sebagai lulusan.

Dalam sambutannya yang sarat makna, Ketua Stidar Sumenep, Khamsil Laili, M.Pd., menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam proses pendidikan mahasiswa. Suaranya terdengar tenang, namun menyimpan getar emosional yang terasa hingga ke sudut ruangan.

Maos jugan:

“Terima kasih kepada semua pimpinan, pegawai, dan dosen yang telah membimbing mahasiswa kami atas dedikasinya, sehingga mahasiswa sampai pada titik ini,” ungkapnya.

Ucapan tersebut seakan menjadi penegas bahwa kelulusan bukanlah hasil kerja individu semata, melainkan buah dari kebersamaan, kesabaran, dan ketulusan banyak pihak. Di kursi-kursi hadirin, beberapa dosen terlihat tersenyum kecil, mungkin mengingat bagaimana mereka pernah menghadapi mahasiswa-mahasiswa ini di ruang kelas—dengan segala dinamika dan tantangannya.

Lebih dari sekadar penuntasan studi, yudisium kali ini juga dimaknai sebagai proses pembekalan batin dan sosial. Dalam tradisi lokal Madura, momen semacam ini dapat dipahami sebagai “edudus”—sebuah peneguhan diri sebelum benar-benar terjun ke tengah masyarakat. Di dalamnya, kepekaan sosial tidak hanya diajarkan sebagai konsep, tetapi dihayati sebagai sikap hidup: bagaimana lulusan mampu membaca realitas, merasakan denyut persoalan umat, serta hadir dengan empati dan solusi. Nilai ini terasa sangat relevan, mengingat para lulusan berasal dari disiplin ilmu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Tak hanya itu, Khamsil juga memberikan pesan yang menggugah bagi para lulusan. Ia mengajak mereka untuk tidak berhenti belajar, untuk terus melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sebagai bentuk syukur atas capaian yang diraih.

“Saya berharap, pendidikan saudara ditingkatkan sebagai bagian dari bentuk rasa syukur dan jalinan silaturrahmi tetap kita bina. Mari tetap bersama membesarkan Stidar yang kita cintai,” pungkasnya.

Kalimat tersebut seakan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan—mengikat kenangan yang telah dilalui dengan harapan yang belum selesai ditulis.

Di tengah acara, suasana haru semakin terasa ketika satu per satu nama mahasiswa disebutkan. Ada tepuk tangan, ada senyum yang tak bisa disembunyikan, bahkan ada mata yang berkaca-kaca. Bagi sebagian mahasiswa, ini bukan sekadar kelulusan, tetapi kemenangan atas berbagai keterbatasan—ekonomi, waktu, bahkan kepercayaan diri.

Yudisium ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Para lulusan kini membawa bekal ilmu, nilai, dan pengalaman yang akan diuji di tengah masyarakat. Dengan semangat edudus—yang menekankan kesiapan batin dan kepekaan sosial—mereka bukan lagi sekadar mahasiswa, tetapi calon-calon agen perubahan yang diharapkan mampu memberi kontribusi nyata, terutama dalam bidang dakwah, sosial, dan kemanusiaan.

Dan ketika acara usai, kursi-kursi mulai kosong, serta gema suara perlahan meredup, yang tersisa bukan hanya kenangan, tetapi juga tekad—bahwa perjalanan ini akan terus berlanjut, melampaui dinding kampus, menuju kehidupan yang sesungguhnya.


Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form