Menjaga Api Gus Dur di Pragaan
Lalampan.com. 1447|| TAMBUL|| Pagi di Aula MWCNU Pragaan, Ahad
(4/1/2026), tidak hanya dipenuhi hamparan karpet hijau dan deretan kursi
sederhana. Ada sesuatu yang lebih hangat dari sekadar cahaya lampu neon yang
menggantung di langit-langit aula: ingatan, harapan, dan tekad untuk terus
merawat warisan pemikiran Gus Dur.
Haul ke-16 Presiden ke-4 Republik Indonesia itu dirangkai
dengan Musyawarah Kerja II Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Pragaan masa
khidmat 2024–2029. Sebuah pertemuan yang mempertemukan masa lalu dan masa
depan—antara mengenang dan merancang.
Di bagian depan aula, spanduk besar berwarna hijau NU
menampilkan wajah Gus Dur dengan senyum khasnya. Di bawahnya, para kiai,
pengurus NU, dan undangan duduk bersila dengan khidmat. Di sisi lain,
kamera-kamera dokumentasi merekam setiap detik, seolah ingin memastikan bahwa
momen ini tidak hanya berlalu, tetapi juga dikenang dan dipelajari.
Haul Gus Dur di Pragaan bukan sekadar agenda tahunan. Ia telah
menjadi ruang kultural, tempat nilai-nilai pluralisme, kemanusiaan, dan
keadilan sosial kembali dihidupkan. Gus Dur tidak hanya dikenang sebagai tokoh
nasional, tetapi sebagai gagasan yang terus bergerak—hidup di tengah masyarakat
akar rumput.
“Gus Dur mengajarkan kita bahwa Islam harus ramah, bukan
marah,” ujar salah satu pembicara dalam sambutan singkatnya. Kalimat itu tidak
disambut tepuk tangan riuh, melainkan anggukan pelan—sebuah tanda penerimaan
yang lahir dari pemahaman, bukan euforia.
Musyawarah Kerja II yang digelar setelah rangkaian haul
menjadi penanda penting lainnya. Di sinilah NU Pragaan tidak hanya berbicara
tentang apa yang telah dilakukan, tetapi juga apa yang akan diperjuangkan.
Program kerja dibahas, dievaluasi, dan dirancang ulang dengan semangat
khidmat—bekerja untuk umat, bukan sekadar menggugurkan kewajiban struktural.
Diskusi berlangsung serius namun cair. Para peserta duduk
bersila, sebagian mencatat, sebagian lainnya menyimak dengan penuh perhatian.
Di sela-sela forum, obrolan kecil tentang pendidikan, kebudayaan, dan tantangan
sosial masyarakat Pragaan mengalir begitu saja—alami, jujur, dan membumi.
Musker ini menegaskan satu hal: NU Pragaan tidak ingin menjadi
organisasi yang jauh dari realitas. Isu-isu seperti penguatan pendidikan
keagamaan, pelestarian budaya lokal, hingga peran NU dalam merawat harmoni
sosial menjadi perhatian utama. Semua dibingkai dalam satu kesadaran bahwa
khidmat NU harus terasa nyata di tengah masyarakat.
Menariknya, kehadiran perempuan dan generasi muda juga tampak
jelas. Mereka duduk sejajar, menyimak, dan terlibat. Ini menjadi isyarat bahwa
regenerasi bukan sekadar jargon, tetapi proses yang sedang berjalan. NU Pragaan
tampaknya sadar bahwa masa depan organisasi ditentukan oleh sejauh mana ia
memberi ruang pada generasi penerus.
Haul Gus Dur dan Musyawarah Kerja II ini pada akhirnya bukan
tentang seremoni semata. Ia adalah pengingat bahwa nilai-nilai besar
membutuhkan kerja-kerja yang konsisten. Bahwa toleransi harus dijaga,
kemanusiaan harus diperjuangkan, dan kebudayaan harus dirawat—mulai dari aula
sederhana di Pragaan.
Di Pragaan, api itu masih dijaga—oleh mereka yang percaya bahwa berkhidmat adalah cara paling sunyi, sekaligus paling bermakna, untuk mencintai bangsa. Ketika acara berangsur selesai dan para peserta mulai beranjak pulang, spanduk Gus Dur masih berdiri tegak di depan aula. Seolah berbisik pelan: PERJUANGAN BELUM SELESAI.
