Festival Sapparan Budaya #4 Luncurkan Buku Lempung dan Mesin Tubuh yang Hilang



Festival Sapparan Budaya #4 Luncurkan Buku Lempung dan Mesin Tubuh yang Hilang: Suluh Literasi dari Gapura

Gapura, Sumenep – Sabtu (30/8/2025), Aula MWCNU Gapura menjadi saksi lahirnya sebuah peristiwa literasi penting: Launching dan Bedah Buku Lempung dan Mesin Tubuh yang Hilang. Acara ini digagas oleh Lesbumi PCNU Sumenep berkolaborasi dengan Lesbumi MWCNU Gapura, Sakola’an Tastaman Nurul Anwar, dan komunitas literasi Damar Korong.

Buku ini sendiri lahir dari program Residensi Sastra Desember 2024, yang menjaring 15 peserta terpilih se-Madura melalui seleksi ketat. Karya-karya para peserta kemudian dirajut hingga menjadi sebuah buku kolektif yang kini dikenalkan ke publik.

Merawat Seni, Menyalakan Literasi

K. Zainullah Hasan, mewakili Pengurus PCNU Sumenep, menegaskan peran Lesbumi sebagai garda depan perawatan seni tradisi.

“Lesbumi bertugas merawat seni tradisi nusantara, terutama di Madura. Dengan ini, Atas nama PCNU Sumenep, kami sangat mengapresiasi kerja-kerja kreatif Lesbumi. Semoga tetap istiqomah,” ujarnya.

Ia menambahkan, Sumenep adalah gudang penulis dengan tradisi literasi yang kuat. Dari nama-nama mapan seperti A. Warits Rovi, Faidi Rizal Alif, hingga Mahwi Air Tawar, sampai generasi muda yang kini berkembang signifikan, semua menegaskan posisi Sumenep sebagai pusat penulisan di Madura.

Dialog yang Hidup

Acara ini dipandu oleh penulis sekaligus budayawan muda, Faidi Rizal Alif, yang bertindak sebagai moderator. Diskusi berlangsung dinamis, mempertemukan pandangan lintas generasi dan disiplin.

Sebagai pembedah utama, hadir Sofyan R.H Zaid (Sekjen Hari Puisi Indonesia) dan Siswanto (dosen Universitas Jember sekaligus Ketua Lesbumi PCNU Jember). Keduanya—yang juga putra Sumenep—menyoroti pentingnya karya ini sebagai jembatan antara tradisi Madura dengan percakapan sastra modern Indonesia.

Sementara itu, dr. Rifmi Utami, M.Kes. tampil sebagai pembanding. Dari perspektif akademis, ia menekankan bahwa literasi bukan hanya ranah bahasa, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan sosial dan budaya.

Festival Sapparan Budaya #4

K. Fathul Barri dari MWCNU Gapura menyebut buku ini sebagai “suluh literasi di tengah oasi sastra Indonesia.” Sedangkan Ketua Lesbumi PCNU Sumenep, K. Khairul Umam, mengaitkan acara ini dengan tema besar Festival Sapparan Budaya #4, Nye’-Konye’ Gunong. “Tema ini menegaskan relasi manusia dengan tanah, akar budaya, dan peradaban yang lahir darinya,” ungkapnya.

Resonansi Komunitas dan Banom NU

Sejumlah komunitas hadir memberikan dukungan, di antaranya Komunitas Damar Korong, Komunitas Conglet, serta Presiden Arsip Prosa Madura, Fajri Andika. Kehadiran para siswa dari berbagai sekolah di Gapura semakin memperkaya suasana literasi.

Selain komunitas sastra, acara ini juga dihadiri badan otonom NU (banom) MWCNU Gapura, mulai dari Fatayat, IPNU-IPPNU, Ansor, hingga Muslimat NU. Hadirnya banom-banom ini memperlihatkan bahwa kegiatan literasi tak berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan gerakan sosial-keagamaan NU di akar rumput.

Lebih dari Sekadar Buku

Lempung dan Mesin Tubuh yang Hilang bukan hanya produk literasi, melainkan ruang perjumpaan budaya. Ia merajut pesantren, kampus, komunitas, banom NU, hingga ormas keagamaan dalam satu panggung kebudayaan.

Dari Gapura, gema literasi ini menyebar. Sumenep membuktikan bahwa ia tak hanya menyimpan warisan tradisi, tetapi juga terus melahirkan karya-karya baru—relevan, segar, dan berakar pada identitasnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Dukung Kami merawat "Bahasa dan Budaya Madura"

Jika Anda membaca tulisan di lalampan.com dan merasa mendapatkan manfaat, silahkan bagikan ke tan-taretan, bala-tangga tor kanca, silahkan diskusikan, atau bahkan cukup tinggalkan komentar. Dan bila Anda berkenan, silahkan juga menekan tombol Trakteer.id untuk sekadar mentraktir kami segelas kopi/Jindhul.

Trakteer Kopi Sacangker

Formulir Kontak