Seluruh konten di Lalampan.com terbuka untuk dibaca, dipelajari, dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Jika tulisan-tulisan di ruang ini dirasa bermanfaat, panjennengan dapat ikut Arokat Lalampan melalui sedekah seikhlasnya—secangkir kopi, 3K, atau doa terbaik. Dukungan kecil panjennengan membantu kami terus merawat bahasa, sastra, dan jejak budaya Madura. (Dana: 0819-0807-1122 & BRI: 3838-01-008754-53-2)
Lalampan.com. 1448. Ada satu hal menarik dari dunia sepak
bola modern. Ketika bursa transfer dibuka, para penggemar tidak lagi hanya
bertanya, "Pemain ini berasal dari klub mana?" atau "Berapa
usianya?" Pertanyaan yang lebih penting justru, "Bagaimana
performanya musim lalu?"
Nama besar memang menarik perhatian.
Namun keputusan sebuah klub mengeluarkan puluhan bahkan ratusan juta euro
hampir tidak pernah didasarkan pada nama semata. Mereka membeli sesuatu yang
jauh lebih berharga: rekam jejak performa.
Performa dalam sepak bola ternyata
tidak sesederhana jumlah gol.
Seorang penyerang memang diukur dari
produktivitas mencetak gol. Namun seorang gelandang bertahan hampir mustahil
dinilai dari ukuran yang sama. Ia mungkin hanya mencetak satu gol dalam
semusim, tetapi berhasil memutus ratusan serangan lawan, menjaga keseimbangan
permainan, dan membuat rekan-rekannya tampil lebih baik. Seorang playmaker
mungkin tidak banyak mencetak gol, tetapi puluhan assist dan umpan kuncinya
menjadi alasan sebuah tim rela membayar mahal.
Artinya, setiap posisi memiliki
ukuran performanya sendiri.
Sepak bola modern bahkan
mengembangkan berbagai indikator yang semakin rinci. Selain gol dan assist, ada
tingkat akurasi umpan, peluang yang diciptakan, keberhasilan duel, intersep,
jarak tempuh, hingga expected goals (xG) dan expected assists
(xA). Setelah pertandingan selesai, hampir semua pemain memperoleh rating.
Rating itu tentu tidak sempurna, tetapi memberi gambaran bahwa kontribusi
seorang pemain dapat diamati, dibandingkan, dan dievaluasi.
Menariknya, nilai transfer seorang
pemain lebih sering mengikuti konsistensi performa daripada popularitasnya.
Pemain yang tampil baik selama
beberapa musim akan menjadi incaran banyak klub. Mereka tidak sekadar membeli
tubuh seorang atlet. Mereka membeli kemampuan menghasilkan kontribusi.
Di sinilah sepak bola memberikan
pelajaran yang menarik.
Sering kali kita masih mengukur
seseorang dari identitasnya: berasal dari mana, bekerja di mana, lulusan kampus
apa, atau memiliki jabatan apa. Padahal, dunia profesional semakin bergerak ke
arah yang berbeda. Yang dicari bukan lagi sekadar identitas, melainkan apa yang
mampu dihasilkan seseorang secara konsisten?
Seorang pemain bola tidak bisa
berkata, "Saya pernah mencetak 25 gol lima tahun lalu." Klub tetap
ingin mengetahui apa yang ia lakukan musim ini.
Performa selalu berbicara dalam
bentuk rekam jejak yang hidup.
Bayangkan jika prinsip sederhana ini
diterapkan lebih luas dalam kehidupan profesional.
Seorang guru misalnya. Mungkin ukuran
performanya bukan jumlah gol, melainkan kemampuan membuat murid memahami
pelajaran, menumbuhkan rasa ingin tahu, membimbing siswa berprestasi, atau
menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Guru lain mungkin unggul dalam
membangun karakter, sementara yang lain piawai mengembangkan media
pembelajaran. Performa mereka tentu berbeda, tetapi sama-sama dapat dikenali
melalui kontribusinya.
Demikian pula seorang dosen. Performa
bukan sekadar memenuhi jadwal mengajar. Ia dapat terlihat dari kualitas
pembelajaran, penelitian yang dihasilkan, mahasiswa yang dibimbing, hibah yang
diperoleh, jejaring kolaborasi yang dibangun, hingga dampak pengabdiannya
kepada masyarakat.
Setiap profesi sebenarnya memiliki
"gol" dan "assist"-nya masing-masing.
Masalahnya, tidak semua profesi sudah
terbiasa mendokumentasikan performa dengan baik. Banyak organisasi masih lebih
mudah menghitung kehadiran daripada kontribusi, lebih mudah memeriksa dokumen
daripada mengukur dampak. Akibatnya, orang yang bekerja luar biasa kadang
tampak sama dengan mereka yang sekadar memenuhi kewajiban administratif.
Padahal dunia bergerak ke arah yang
semakin menghargai performa.
Perusahaan teknologi, lembaga riset,
hingga organisasi sosial mulai banyak memberikan ruang kerja yang fleksibel.
Sebagian bahkan tidak terlalu mempersoalkan kapan seseorang mulai bekerja atau
dari mana ia bekerja. Yang mereka perhatikan adalah apakah target tercapai,
kualitas pekerjaan terjaga, dan nilai yang dihasilkan benar-benar bermanfaat.
Fleksibilitas itu bukan hadiah. Ia
lahir dari kepercayaan terhadap performa.
Sepak bola telah memperlihatkan
logika yang sama sejak lama. Pelatih tidak menurunkan pemain karena paling
rajin datang latihan saja, melainkan karena diyakini mampu memberi kontribusi
terbaik ketika pertandingan berlangsung.
Mungkin itulah pelajaran sederhana
yang bisa kita ambil.
Pada akhirnya, yang membuat seseorang
dicari bukan semata-mata gelarnya, jabatannya, atau institusinya. Yang
membuatnya bernilai adalah kemampuan untuk terus menghadirkan kontribusi yang
nyata.
Dalam sepak bola, kontribusi itu
tercatat dalam statistik.
Dalam kehidupan profesional,
kontribusi itu tercermin dalam kualitas karya, kemampuan menyelesaikan masalah,
dan dampak yang ditinggalkan bagi orang lain.
Barangkali karena itulah, istilah perform
terasa jauh lebih kaya daripada sekadar "bekerja dengan baik".
Performa adalah kombinasi antara kompetensi, konsistensi, dan kemampuan memberi
nilai tambah. Ia adalah alasan mengapa seorang pemain diperebutkan banyak klub,
dan mungkin suatu hari nanti, menjadi alasan mengapa seorang guru, dosen,
peneliti, atau profesional lain diperebutkan banyak institusi.
Sebab pada akhirnya, setiap profesi memiliki lapangannya sendiri. Pertanyaannya bukan lagi, di mana kita bermain, melainkan “apa kontribusi yang kita berikan selama berada di lapangan itu?”
