Tenggelamnya Kapal di Selat Kenangan


Aku memang terkenal sebagai pelaut ulung. Lahir  dari harapan dan rapal mantra-mantra para leluhur di sebuah pesisir dengan pasir pantai paling menyejukkan sepanjang sejarah aku melaut dan terumbu karang yang memanjakan mata. Aku telah menyeberangi berbagai macam lautan, singgah di pulau-pulau paling angker sekalipun di belahan dunia, namun tak ombak yang paling mengerikan selain di selat kenangan, ketika hendak menuju samudera air mata.

Saat itu aku hendak menyeberang ke pulau Duka penuh Luka, namun sebelum singgah di pulau angker, penuh hantu masa lalu, aku harus menyeberangi selat kenangan hingga memasuka samudera air mata. Pulau-pulau di selat itu seperti tak dapat menghalau angin. 
Angin berhembus dari segala arah, membentuk segitiga Bermuda membuat kapal nyaris oleng. Di selat  yang panjang dan jauh itu, layarku patah, dan yang paling menyebalkan adalah kapalku kehabisan energi. Di saat seperti itulah aku lunglai, kehabisan tenaga, aku tak berdaya. 

Di selat ini aku memang harus melawan ombak agar aku bisa tiba di samudera air mata. Tanpa melewati semua itu, aku akan terjebak di lautan yang penuh ketidakpastian, jika tidak beranjak, membangkitkan kembali asa yang pernah ada, membangkitkan kembali rasa yang telah pupus dan nyaris sirna, aku akan selamanya terkepung durjana di lautan ketidakpastian, meski dengan daya, meski dengan kekuatan tertatih-tatih aku berupaya menghalau angin-angin yang berhembus dan nyaris membuatku terpental kembali pada luka-luka dan ruwetnya peradaban.

Dengan tenaga yang masih tersisa, menghalau wajah-wajah yang berupa angin segar namun mematikan, aku membangkitkan asa, harapan, meskipun kenyataan adalah kehampaan belaka. Kenyataan membuat ilusi umat manusia dan menyebabkan saling tuduh tentang kenyamanan hidup dari masing-masing mata. Yang meskipun pada dasarnya semuanya bukanlah hakikat dari kehidupan. Namun sebatas ilusi tanpa makna.

Alangkah nasib kapalku karam di selat kenangan. Ombak menyeretku. Tentu saja. Namun aku harus berpegangan pada pendirianku sendiri, agar aku bisa menyelamatkan diri. Setidaknya aku harus kuat menahan gempuran ombak yang menghantam dan membuatku terhantam kesana kemari. Aiiihhh bayangan itu kembali membuncah yang semakin membuatku tak berdaya. Sungguh ini sangat amat menyesakkan. 

Di saat-saat aku berupaya menyelamatkan diri, membebaskan diri dari segala mara bahaya, ada-ada saja hal yang akan membuatku berada dalam keterpurukan tak berarti ini. Oh Tuhan. Ini belum memasuki samudera air mata, bagaimana nanti aku harus menjalaninya. Ini sungguh tragedi besar dalam hidup umat manusia untuk menuju kedewasaan. Tanpa melewati fase yang menyebalkan dan tak terpisah dari hidup manusia, aku takkan mungkin singgah di pulau Duka penuh Luka. Kehidupan yang semakin mengerikan dan tak tentu arah. Jika aku memilih terhanyut dalam ombak dan mati. Berarti aku kalah. Sepanjang aku berusaha untuk melepaskan diri dari hantaman ombak, berupaya menyelamatkan diri dari kenangan yang sangat membuatku terpuruk. Aku belum kalah. Aku belum mati. Masih ada yang bergerak dalam tubuhku. Masih ada yang bergerak dalam jiwaku.

Angin dan badai akan selalu membuatku belajar bagaimana caranya agar aku terbebas dari malapetaka. Pergerakan angin yang akan menentukan perubahan musim. Pergerakan angin disebabkan oleh perputaran bumi dalam mengelilingi matahari. Ia menjadi tanda atas perubahan iklim. Iklim dalam tubuh. Iklim dalam perasaan yang akan membuat cuaca berubah-ubah sepanjang sejarah umat manusia.

FA: inisial saja ya

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama