Sang Putri Menghisap Sebatang Rokok


Sambungan IV Sikurus

Pria kurus yang bercerita tentang semut merah itu pun meminum air pelan-pelan karena tak ingin tumpah.

“Darimana dirimu mendapatkan ide cerita macam itu?” Tanya raja setengah membentak.

“Cerita ini hanya sebatas iseng-iseng belaka, Wahai Paduka Agung, Yang Mulia Maharaja diraja, Sesembahan Rakyat Kepulauan Ubi.”

“Kau begitu lihai membuat cerita, menukik kesana kemari, menusuk benteng-benteng pertahanan kerajaan. Sampai sejauh ini cerita panjangnya yang tak tersendat-sendat masih menyelamatkanmu.”

“Matorsaebu sakalangkong, Wahai Paduka Agung, Yang Mulia Maharaja diraja, Sesembahan Rakyat Kepulauan Ubi. Semoga cerita yang masih panjang ini akan berkenan di hati Paduka.”

“Kau memang cerdas. Tapi ingat, nyawamu bisa melayang dalam tempo sesingkat-singkatnya jika aku telah bertitah. Apapun dan bagaimanapun itu.

Dalam beberapa hari ini, kau boleh istirahat, dalam sepekan hingga sebulan aku harus melakukan kunjungan kepada kerajaan-kerajaan tetangga, sahabat, sebab melihat kondisi peradaban dunia yang seakan tidak memihak kita.” Mendengar ucapan raja, Pria Kurus yang tak mau memperkenalkan dan rajapun beserta seluruh penasehat dan menteri-menterinya tak mau mendengarkan dan tak mau tahu siapa nama pria kurus yang siap mati jika ceritanya habis hari itu juga merasa lega, sebab bisa istirahat dalam waktu sepekan atau sebulan. 

Ia merasa beruntung, artinya dalam sepekan atau sebulan ia tak harus bercerita, sehingga cerita yang harus berakhir pada bulan tertentu bisa lebih panjang sebulan di akhir beberapa bulan yang akan datang. Seluruh rombongan, pasukan penjagaan sudah bersiap-siap di Gerbang Utama, hanya saja menunggu raja keluar dari keharibaannya. Sebelum melangkah keluar pintu, raja berkomat-kamit membaca mantra. Ia meniup nafas lebih keras dari hidungnya dengan cara satu lubang ditutup secara bergantian, untuk mengetahui, lubang hidung mana yang lebih ringan hembusan dan tarikan nafasnya. Jika lebih ringan yang kanan, itu artinya ia melangkah dalam perlindungan Dewa Bathara Embu. 

Jika lebih ringan yang kiri, itu artinya ia melangkah dalam perlindungan Dewa Bathara Mama. Pada saat matahari sepenggalah, raja melangkah dengan kaki kanan. Dengan badan tegap. Mahkota di atas kepala, sebagai tanda kebesaran. Lalu disambut dengan dua pengiring khusus raja yang membawa tombak serta iring-iringan yang membawa bendera serta ornament-ornamen kebesaran Raja Selingresi.

Sebelum terompet tanda keberangkatan ditiup. Raja menghela nafas dari empat penjuru mataangin. Ia berharap dapat perlindungan dari empat saudaranya yang selalu siap mendampingi perjalanan hidupnya. Nafas yang hirup dalam-dalam dari empat penjuru itu pun ia masukkan pelan dan menghembuskannya secara perlahan pula. Pada saat terompet tanda keberangkatan ditiup dan berbunyi panjang. Dari arah berlawanan, datang pasukan dari kerajaan tetangga.

“Ngatoraki Songkem Pangabakte Raja.” Ututasan itu bersimbah sungkem tanda perdamaian.

“Ada Apa sampai kalian terkesan buru-buru dan sampai harus menghadang perjalanan raja.” Ucap Panglima yang nyaris menarik pedangnya.

“Begini paduka, kami mencari rakyat, orang biasa yang menghilang sekitar enam bulan yang lalu, perawakannya kurus, ia… cukup … tu…”

“Mari kita batalkan perjalanan ini. Kita sudah dihadang. Tentu akan lebih banyak yang siap menghadang kerajaan ini di depan sana. Gembok Abang tidak boleh gegabah. Kemungkinan besar, kerajaan tetangga, raja-raja sahabat sudah mengirimkan teliksandi yang sangat membahayakan kelangsungan kerajaan Gembok Abang. Penjara si tukang cerita busuk itu.

Pasukan itu persilahkan masuk pendopo. Mari kita atur kembali persahabatan kita dengan kerajaan-kerajaan tetangga.” Seru raja sembari turun dari kudanya dan melangkah tegap menuju istana. Permaisuri pun terkejut. Sebab raja pulang dengan cepat. Begitu pula dengan sang putri Sekar Ayu Kemuning. Kau tentu ingin tahu, siapa nama permaisuri Raja Selinggresi kan. Nanti kau pasti tahu sendiri. Permaisuri raja Gembok Abang ini sangat lihai dalam merawat gua garwa.

Pria kurus alias si pencerita menggerutu seorang diri melihat raja beserta pasukannya yang batal melangsungkan kunjungannya ke berbagai kerajaan sahabat. “Padahal aku sudah bikin kopi, melinting rokok terbaik dari kawasan sisi barat laut pulau ini, ahhh sial. Bukan tidak boleh meroko, tapi yaaa ga enak gitulah kalau merokok di sidang istana.”

“Memangnya siapa yang bakal memanggilmu ke istana atau pendopo agar ikut memberikan nasehat pada raja atau perbincangan para raja. Kau hanya sekedar pencerita yang sehabis ini kau harus mendekam dalam penjara.” Tak lama kemudian dari mendengar ucapan itu. dua tangannya telah terikat dan ia harus berjalan  tanpa melambaikan tangan. Ia digiring oleh dua prajurit bertombak. Dari balik kamarnya, Putri Sekar Ayu Kemuning menyaksikan peristiwa penangkapan pria kurus itu mulai sering saling melirik itu. dua prajurit telah menjebloskan kembali ke penjara yang dulu mereka tempati berdua bersama si Gemuk. Bau apek, tak sedap, aroma kencing masih mengoar dari dalam sana. Pria itu itu dilepas ikatan tangannya. Ia pun langsung muntah-muntah.

Putri Sekar mendatangi kopi hitam yang terwadahi cangkir tembikar mirip aladin itu yang berada di balkon.  Ia mencium aromanya dan ia pun mencicipinya setetes. Putri sekar mencoba menghisap rokok yang bungkusnya terbuat dari bungkus jagung dan di ujung belakangnya terikat ra-kara (daun siwalan).

“Perpaduan rasa yang cukup menakjubkan. Aku harus tahu, ini terbuat dari ramuan apa saja sehingga si Kurus, yang katanya cukup lihai dalam bercerita itu, selalu ingin membuat ini tatkala diberikan waktu istirahat.”

“Sekar, kenapa kau pegang itu? Itu Racun yang sangat berbahaya, Putri!” ucap ibunya (tentu saja Garwapadmi raja Gembok Abang). 

“Cepat buang! Jika kau tetap mendekati apalagi sampai mencicipinya, kau bisa mati hari ini juga.” Mendengar ucapan begitu. Sang Putri merasa aneh. Kenapa si Kurus tak mati-mati sejak beberapa bulan terakhir, sejak diizinkan membuat kopi. Ia pun pergi. Putri Sekar Ayu Kemuning, berharap, ibunya tidak membuang kopi dan rokok itu. ia berharap bisa berbincang banyak dengan si kurus jika bisa mengantarkan itu ke penjara.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama