PAKEBAN: Tempat Menangis dan Menertawan Bercucurannya Air Mata


Lalampan.com. tim redaksi hari ini resmi meluncurkan ruang baru yang kami beri nama “PAKEBAN” dengan taglinenya “Tempat Terbaik Meneteskan Air Mata” ruang ini kami sediakan untuk mereka-mereka yang hendak menuturkan bagaimana setetes air mata bisa jatuh, bagaimana cara terbaik meneteskan air mata. Sepanjang darah mengalir, sepanjang hafas dikandung badan, sepanjang itu pula cucuran air mata akan mengalir, entah deras, lirih, sunyi dan penuk lika-liku serupa air sungai.

Dari awal kami lupa bahwa seharusnya ruang ini lebih awal ada bahkan jauh sebelum ada Tambul, Cerita Pendek, Careta Pandha’, Puisi, Sanja’, Esai, Lagu Madura, Pantun, Salera dan lain sebagainya. Serupa awal kita lahir ke dunia dalam keadaan menangis (mungkin) karena terkejut melihat dunia yang begitu terang benderang (sedangkan kita sebagai manusia Indonesia terlahir dalam keadaan telah dibebani hutang negara, wkwkw), semacam silau dan luas sehingga ia menangis histeris.

Tangisan macam apa yang layak dituangkan dalam PAKEBAN ini. Secara harfiah ia adalah kamar mandi. Namun hakikatnya kamar mandi adalah tempat privat yang sedang mengalami publikasi, semacam pergeseran yang terjadi namun tetap tidak mengurangi keprivatannya. Kalian boleh menetes air mata apa saja. Persoalan kejombloan. Hutang-piutang. Ditinggal pada saat sayang-sayangnya. Segala cara umat manusia lakukan demi mempertahankan kehidupan. Seperti ada orang-orang yang harus menjadi A/z kali X/y ditambah Y/-z kuadrat dan beragam keanehan tindakan lainnya yang membuatnya terjungkal, terjerembat dan penuh lika-liku jalan terjal yang harus dihadapi.

Atau kalian juga bisa menuturkan bagaimana cara terbaik meninggalkan kekasihmu yang selingkuh dengan orang lain yang lebih busuk, tidak akhlaqul karimah, atau bahkan makin membuat hidupmu dalam kesengsaraan. Bisa juga upayamu bertahan dalam kejombloan meskipun sudah babak belur dihantam kenyataan yang menegangkan, pertanyaan kapan nikah yang berkamuflase serupa emperium romawi kuno hingga runtuhnya filsafat Yunani Kuno misalnya. 

Atau pertanyaan mengapa belum hamil, padahal banyak anak terlantar, kedinginan tak berbaju, hidup di bawa kolong jembatan dan kelaparan. Pertanyaan mengapa belum hamil yang kamu sikapi biasa saja, lalu kemudian kamu tetap sibuk bekerja, seperti taka da hal penting lai selain bekerja, ayo kerja, kerja kita prestasi bangsa, dan Indonesia unggul, maju terdepan dan paling agamis misalnya.
Kau juga bisa menuturkan dan membedah lagu-lagu yang menyayat dan paling menghantam jiwa serupa lagunya iwan fals yang paling penulis rasakan waktu itu adalah

Aku sering ditikam cinta, 
sering dilemparkan badai,
 namun aku tetap berdiri…


Hitam, hitam, hitamku…

Kamu rasakan, lalu kamu utarakan betapa sesaknya dadamu merasakan kepergian yang begitu sublimatif dan transenden. Tidak ada hari tanpa kenangan yang bersemayam dalam pikiran, mulai dari kering yang gugur di musim kemarau, bunga yang jatuh karena se ekor serangga yang nakal, serta kupu-kupu yang hingga sekarang belum diketahui namanya, yaitu kupu-kupu yang sering hinggap pada kotoran sapi (calatthong, sengaja tidak disensor, supaya jadi bahasa Indonesia).

Ya menyediakan tempat serupa PAKEBAN tidaklah mudah apalagi ini menyangkut persoalan masa waktu yang baru saja berlalu. Terkadang, termpat seperti ini banyak dicari dan dengan estimasi dana yang cukup tinggi. Untuk di lalampan.com, kami sediakan secara gratis agar seluruh umat manusia dapat menuturkan segala kegundahan, gejolak jiwa dan kedahsyatan tetesan air mata yang membuncah setiap waktu.

SELAMAT MENETESKAN AIR MATA!

Tim Redaksi Lalampan.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama