Gerakan Literasi, Sulitnya Akses buku dan Susah Sinyal

ig: lalampan

Lalampan.com. Indonesia yang sudah berusia 77 tahun tetap masih berada dalam ambiguitas pergerakan litetasi, pasalnya bukan sebatas faktor buta huruf yang menyebabkan rendahnya liteasi, hal ini juga dipengaruhi oleh susahnya untuk mengakses buku, ada yang mengatakan bahwa beberapa negara di eropa memiliki intensitas membaca yang kuat serta sangat mudah dan intens dalam melahap buku. Tentu saja berefek pada tingkat literasi yang tinggi dan membangun iklim wacana sosial yang kondusif karena dipengaruhi oleh pengetahuan yang beragam dan dapat memberikan argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini tidak bisa terjadi di negara dengan tingkat literasi yang rendah.

Dalam berbagai macam penelitian tingkat literasi sebuah negara, Indonesia selalu berada di posisi terendah, seperti berada pada posisi ke 60 dari 61 negara yang disurvei, selalu saja begitu, bahkan hari ini yang sudah memasuki zaman milenial pun seperti kurang memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekembangan literasi tersebut, meskipun generasi milenial bergerak secara lebbih massif  terutama di kalangan perkotaan, mungkin hari ini gerakan milenial belum tampak ke permukaan, namun dalam sepuluh tahun atau dua puluh tahun yang akan datang baru akan terasa, sebab mereka yang hari ini cinta literasi akan lebih menggerakkan untuk pengembangan literasi di pelosok desa.

sf: lalampan.com

Pemerataan pembangunan yang baru saja terjadi sepuluh (atau 20) tahun terakhir menyebabkan ketimpangan di berbagai level, hal ini dapat dilihat pada saat corona terjadi, dimana Kemendikbud memerintahkan untuk sekolah dalam jaringan (daring) melalui gadget atau laptop, dari sinilah semuanya tampak, bahwa bangsa ini belum mampu ke arah itu, dimana infrastruktur yang tidak memadai, sinya dari penyedia layanan yang tidak merata, juga dipengaruhi oleh pembangunan tenaga listrik yang tidak merata (ruwet). Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun 77 tahun Indonesia merdeka, pembangunan hanyalah terjadi di kota-kota.

Hari ini di tengah mahalnya harga buku yang juga harus ditambah dengan harga ongkos pengiriman semakin membuat orang-orang yang hendak membaca buku menjadi berpikir ualng untuk membelinya. Terbatasnya toko buku di daerah Indonesia terluar, lemahnya perpustakaan daerah dalam menghadirkan buku-buku mutakhir, buku terbaru (ter-up date) semakin membuat runtuhnya harapan untuk membangun literasi. Jumlah perpustakaan pun juga tidak berimbang dengan keberadaan sekolah, masih banyak sekolah yang tidak memiliki perpustakaan. Hal ini akan semakin menyulitkan gerakan literasi berkembang, mungkin seandainya ada fasilitas semacam perpustakaan, siswa (barangkali) ada yang berminat untuk membacanya, fasilitator (guru) tinggal mengarahkan untuk membaca.

Di sisi lain banyak orang yang mengatakan bahwa hari ini sudah tidak begitu penting buku fisik, kita sekarang sudah bisa membaca e-book melalui aplikasi. Sayangnya sinyal kurang bersahabat dan tidak memberikan layanan yang cukup membahagiakan, belum lagi masih banyak masyarakat yang belum mampu membeli androit yang layak dan nyaman untuk digunakan membaca buku (ruwet). Sehingga membuat mereka mengurungkan niatnya untuk membaca buku secara online, bahkan masih banyak juga mahasiswa yang kebingungan cara mengakses buku, jurnal serta kebutuhan akademis yang bisa menunjang pada perkembangan literasi.

Hadirnya literasi digital tidak diapresiasi dengan baik, juga tidak dipersiapkan secara matang. Hal ini berdampak buruk kepada mereka yang seharusnya bisa menikmati dunia literasi digital yang nyaman dan sempurna. Negeri ini masih membutuhkan perjuangan panjang untuk sekedar menghela nafas kemerdekaan yang sesungguhnya. Mari bergerak agar tidak ruwet!

Jika ada yang diminati, bisa langsung chat: 082264521400

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama