Kemarau, Tembakau dan Larangan Merokok


Bulan September, kemarau benar-benar datang dengan cukup ganas, angin yang berhembus pun cukup memberikan kenyamanan, sinar matahari pun telah banyak membantu manusia seperti mengeringkan tembakau sesuai harapan, mengeringkan daun siwalan (rakara) agar bisa dianggit menjadi tikar yang akan digunakan untuk membungkus tembakau yang telah dirajang dan sudah kering.

Di musim kemarau kali ini memang terasa cukup berat, karena hujan yang tak kunjung reda, sepertinya nyaris takkan terjadi kemarau, beberapa daerah hujan masih turun dan membasahi bumi meski telah memasuki bulan Juli, bahkan hingga Agustus pun hujan masih ada meski tidak sederas pada musim hujan. Sebuah kemarau yang nyaris tidak datang, dunia harus seimbang, ada musim kemarau dan musim hujan, dua hal yang harus ada untuk negeri Indonesia, sedangkan Negara-negara lain terdiri dari empat musim yang berbeda.

Indonesia sebagai Negara maritime dan agraris ada beberapa daerah yang sangat amat membutuhkan panas yang signifikan, membutuhkan kemarau yang cukup standart, seperti Madura beserta tapal kudanya, Temanggung, dan Lombok karena sama-sama akan menanam tembakau, menanam tembakau membutuhkan musim kemarau yang cukup sejak awal menanam, memanen, pada saat merajang, menjemur hingga mengantarkan ke gudang (tempat menjual tembakau yang telah dirajang). Apakah daerah lain tidak membutuhkan panas yang cukup signifikan, juga membutuhkan, namun saya tidak tahu, dibutuhkan untuk apa saja panas musim kemarau, namun untuk Madura, selain untuk tembakau, panasnya juga dibutuhkan untuk pembuatan garam.

Tembakau dari tempat itu sangat bersaing di pasaran dan cukup menggiurkan, ada kabar yang berhembus bahwa tembakau dari kawasan Prancak, Pasongsongan Sumenep memiliki kwalitas terpercaya dan paling banyak diminati, bahkan awal menanamnya pun tidak terburu-buru, menunggu musim kemarau benar-benar datang, barulah menanam dimulai. Setiap tahun, orang-orang tetap menanam tembakau, meskipun harganya tidak menentu, harganya yang mencemaskan, yang mana tembakau bukan lagi daun emas seperti yang beberapa tahun lalu masyarakat Madura rasakan.

Masyarakat Madura tetap menanam tembakau meskipun gempuran larangan merokok datang bertubi-tubi, bukan hanya dilarang, ditakut-takuti seakan-akan merokok adalah pembunuh paling berbahaya dalam kehidupan manusia, namanya kematian, semuanya akan mati, meskipun bukan hak dan bukan pula kewajiban, kematian tetap akan datang sebagai puncak perjalanan umat manusia. Mau bagaimanapun masyarakat yang telah merasakan nyamannya merokok, sebab di kala sunyi dan sendiri, serta sebagai teman untuk menulis.

Tembakau yang telah menjadi rokok itu tidak serta merta langsung bisa dibakar, ada proses panjang yang mesti dilalui, mulai dari menanam bibit tembakau, menyiramnya setiap hari, memupuk dan beragam prosesi lainnya, agar menjadi tembakau terbaik, memetiknya untuk dipanen ketika sudah waktunya, dalam waktu panen ini, ada yang langsung dijual daunnya, ada pula yang dipanen untuk dirajang sendiri.

Kebanyakan daun tembakau memang dijual, sebab dirajang sendiri, akan semakin banyak membutuhkan dana/modal, seperti ongkos untuk mengangkut daun tembakau dengan pick-up, menaruhnya dalam beberapa hari, kemudian ongkos untuk merajang, proses penjemuran yang juga membutuhkan banyak orang agar tembakau yang telah dirajang bisa ditatar, diratakan di atas saksak (anyaman bambu), dijemur pun juga membutuhkan tenaga beberapa orang, yang minimal dua orang.

Dan sekarang pun tempat merajang tembakau sudah menggunakan mesin. orang yang mau jadi boss tembakau tidak perlu membayar banyak tenaga perajang seperti sepuluh tahun yang lalu, yang mana daun tembakau digulung terlebih dahulu, sekitar delapan/sepuluh lembar daun tembakau digulung baru kemudian dirajang dengan pisau besar dan tajam. Dengan pola seperti ini hasilnya memang halus, namun membutuhkan dana yang besar, karena harus ada tenaga yang menggulung tembakau dan perajang. Jika menggunakan mesin, sudah tidak perlu tenaga penggulung lagi, daun-daun tembaku cukup dimasukkan pada mesin yang telah menganga dan daun-daun tersebut akan terajang dengan sendirinya. Hasilnya juga halus dan penuh aroma.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama