IV Cerita Si Kurus Yang Terpotong

 


lanjuta dari Dongeng "III Kerajaan Gembok Abang"

“Ceritanya belum selesai raja.” Ucap Si Kurus.

“Lanjutkan nanti sehabis makan malam. Sebab saya terlanjur lapar. Boleh dilanjutkan asal saya tidak ingin tidur. Istirahatlah dulu. Beri dia kamar yang layak, hidangan layak, rawat dia dengan baik sebelum ajalnya tiba.” Perintah Raja. Raja memanggil Si Kurus untuk menghadapnya, lelaki itupun datang seperti yang diminta.

“Saya mau istirahat bersama istri dulu. Ceritamu lanjutkan besok pagi setelah sarapan. Saya harus bersama istri minimal semalaman.”Ucap raja dengan senyum yang terbatas. Lelaki kurus itu kembali dan melanjutkan tidurnya. Mungkin raja juga bisa kelelahan dan harus istirahat. Celetuk hatinya. Diam. Malam menggilas dengan ganas.

Pagi-pagi sekali raja bangun dan menyuruh prajurit untuk memanggil Si Kurus untuk melanjutkan ceritanya setelah makan pagi. Si Kurus makan sangat pelan. Dalam pikirannya membentang rencana busuk raja yang disembunyikan dalam hidangan itu. Selain kecemasan itu, Si Kurus tak biasa makan rakus.

Si Kurus melanjutkan ceritanya tentang semut-semut yang mulai beraktivitas mulai dari sarapan, gotong royong memperbaiki bangunan istana yang mulai reyot akibat diinjak-injak oleh diri semut itu sendiri.semut-semut itu berlarian mencari barang yang dibutuhkan. Ada pula yang mencari makan untuk makan siang semut-semut. Pasukan pencari makanan kembali berbaris, mereka sudah paham bahwa mereka akan masuk gudang besar yang penuh beras.

Proyek gotong royong dihentikan. Semua pekerja harus mencari makanan. Semut-semut itu masuk semua satu persatu. Pasukan itu tanpak sebagai pasukan putih merah. semut-semut itu keluar dengan membawa beras. Masuk dengan tangan hampa. Pulang membawa oleh-oleh yang nyata untuk hidup mereka sendiri. semut-semut kembali membangun istana yang lebih besar. Namun terjadi perpecahan diantara para ksatria semut. Mereka bersatu hendak menggulingkan kekuasaan yang terlalu lama. Itu tidak baik, sebab warga semut yang lain juga berhak untuk duduk dipimpinan teratas. Perpecahan itu berasal kalangan istana, dari penasehat-penasehat raja yang punya ambisi untuk menggulingkan raja. Para penasehat raja itu mempunyai ksatria-ksatria tersendiri dan membuat golongan yang hendak menggulingkan kerajaan.

Perpecahan itu sangat meresahkan warga, dampak utamanya adalah kebutuhan utama warga tidak tercukupi, sebab gotong royong untuk mengambil makanan sudah berhenti. Mereka ingin sekali kembali keluar masuk gudang beras itu dan menjadi pasukan-pasukan besar yang semuanya menggotong beras satu persatu. Sebagai pasukan putih merah.

Istana semut seperti kalang kabut. Bingung siapa yang semestinya diikuti. Semua rakyat semut tak tahu siapa yang semestinya mereka diikuti. Ketika mengikuti raja A, ternyata menyakitkan. Raja B ternyata meresahkan. Justru sangat membingungkan. Namun akhirnya jalan pintas mereka lalui, yaitu dengan membunuh salah satu dari mereka.

Lebih baik yang gemuk saja kita makan bareng-bareng. Dia korupsi. Seandainya dia tak terlalu berambisi untuk kaya, negeri ini tidak akan pecah dan nyaris pecah seperti ini. Lihat akibat dia menginginkan terlalu banyak makanan untuk dirinya dan memperkaya saudara-saudaranya. Dia lupa daratan atas janji-janjinya untuk mensejahterakan rakyat.

Raja gelagapan mendengar cerita itu. Merasa terusik. Tapi raja berjanji ingin mendengar cerita kelanjutan dan kelanjutan cerita itu.

Rakyat semut yang punya ambisi kenyang terus bergerak. Dia bersama keluarganya diam-diam memasuki gudang dari sudut yang tak pernah ditemukan semut-semut lain. Lubang itu adalah lubang yang memang ada dan bukan buatan semut. Lubang itu terjadi akibat lidi yang mencampuri beton mengering dan terkikis. Bekas lidi menjadi jalan yang sangat mudah untuk dilalui oleh semut-semut. Hanya satu keluarga yang mengetahui jalan itu. Setiba di halaman rumahnya sendiri. mereka diketahui mencuri diam-diam dan dilaporkan.

“Diamlah. Kita sedang kelaparan.”

“Tapi ini ilegal. Kita bisa terbunuh oleh hukum.”

“Kau pilih kenyang atau lapar. Kalau kau lapar. Silahkan makan dalam rumahku. Tapi ingat kau harus diam.”

“Ini ilegal. Jika kita ketahuan kepolisian. Kita bisa ditangkap. Karena kita mengambil tanpa interuksi.”

“Kita ini sudah berusaha sendiri. makanan itupun tumbuh dari tanah kita sendiri. diproduksi dari tanah kita sendiri. lalu kenapa, jika kita makan sendiri itu dianggap ilegal. Apakah dari kelegalan itu, semua makanan harus disetempel di istana.”

“Kenapa kau begitu kritis?”

“Karena aku sedang krisis!”

Tanpa banyak prakata lagi. mereka langsung makan. Mereka berinisiatif untuk pindah dan mencari tempat yang lebih aman, lebih dekat pada lubang yang selama ini tak diketahui oleh kebanyakan semut-semut.


baca juga: Terjongkok di Pojok Penjara

bersambung


2 Komentar

Lebih baru Lebih lama