III Kerajaan Gembok Abang

 

sf:wallpaperbetter

sambungan : Di Pojok Penjara

PAGI itu, di penjara Kerajaan Gembok Abang. Si gemuk dan si kurus belum juga terbangun. Perut mereka berteriak-teriak minta sarapan. Setidaknya bubur ayam, entah mau diaduk atau tidak. Setidaknya ada lah untuk mengganjal perut. Namun yang ada hanya busa-busa dalam penjara yang telah menambah aroma busuk lantai tanah. Sinar matahari menusuk luban-lubang kecil dinding penjara. Si kurus masih merasakan sakit dan lebam. Terutama ngilu hatinya. Sedang Si gemuk masih ngelindur dalam pekat mimpi. Mimpi yang menghanyutkan dirinya dalam arus sungai darah air mata. Si kurus ngakak melihat kawannya ngelindur.

“Kau kurus!!! Keluar!!! Saatnya kau akan mengakhiri nyawamu.” Kata prajurit depan pintu penjara. Dengan suara tegas. Mencoba menakuti.  Si Gemuk terbangun. Bibirnya tanpak ingin tersenyum, namun cepat-cepat tertahan oleh ngeri yang membayangi dirinya. Ia sebentar lagi mati. Dan kemudian aku.

“Hahahaha… selamat jalan kawan. Tunggu aku di surga.”Ucap Si Gemuk membangkitkan kesadarannya sendiri. Dan menahan sakit di sana-sini. Terutama sakit hatinya.

“Aku takkan mati. Namun aku takkan kembali ke kamar busuk ini lagi. selamat jalan kawan. Semoga kau masih betah di sini atau kau sudah tidak kerasan ingin melepas jiwa lalu terbang ke angkasa. Heheheh.”Ngekeknya dengan nada menyakitkan.

“Kita memang senasib kawan. Tapi nyawamu lebih dulu melayang.”Teriakan itu terhanyut angin. Sedang prajurit telah jauh membawa Si Kurus ke Halaman istana. Di halaman istana. Dingin menusuk kulit. Si Kurus menggigil.

“Darahmu telah sirna anak muda. Gigilmu adalah tanda bahwa kau percaya bahwa dirimu akan segera mati. Berdoalah pada apa yang kau percayai. Hahaha…” Suara Raja menggelegar dalam batok kepala Si Kurus.

“Tapi, kau Si Kurus. Datang dengan kesombongan. Hendak mengetuk hati raja dengan tangan hampa, mulut berbusa. Kau tak seperti pemuda-pemuda lain yang datang dengan ribuan cerita panjang yang telah jauh-jauh hari dirangkainya. Kau lelaki malang atau kau ingin apa?”

“Tadi malam, aku mendengar keributan dalam penjara antara kau dan Si Gemuk. Kalian saling menyadari bahwa kematian adalah milik kalian. Hari ini adalah kenyataan atas pertengkaran kalian.

Dalam sidang istana. Semua penasehat terbagi dua akibat kalian. Semua alasan sama-sama kuat. Semuanya tergantung di tanganku. Apakah kau harus mati hari ini atau kematianmu tertunda esok lusa.

Aku ingin memberikan contoh terlebih dulu untukmu. Kau pasti sudah mendengar tentang kematian-kematian para ksatria yang mati, kepalanya tergantung di halaman istana, hanya karena gagal bercerita sepanjang yang aku harapkan.

Hari ini aku ingin membuktikan bahwa ucapanku tidak salah dan tidak akan ada ampunan bagi mereka yang telah dianggap salah karena tak mampu bercerita sebagaimana yang aku harapkan.

Ambil tikus itu dalam penjara.” Perintah Raja pada prajurit. Prajurit itu menyeret paksa lelaki gemuk, sebab ia terus meronta. Ingin melepaskan diri dari belenggu kematian yang sebentar lagi akan mencabut nyawanya. Si Gemuk tertegun melihat Si Kurus masih berdiri tegak.

“Kau masih …???”

Si Kurus hanya mengangguk. “Aku masih punya kesempatan untuk bercerita. Tapi, aku yakin, ceritaku akan tersampaikan. Aku tidak akan mati dalam waktu dekat ini.” Si Gemuk tak percaya bahwa dirinya adalah contoh.

“Hai Si Kurus. Inilah contoh yang sebentar lagi akan membuatmu percaya, bahwa ucapanku tidak akan salah. Inilah pembuktiannya. Kau menunggu giliran.” Pagi itu, Raja melakukan sendiri pemenggalan kepala pada Si Gemuk. Darah mengalir. Kepala tergantung.

“Kau percaya???”

Si Kurus mengangguk lemah. Raja menyuruh lelaki kurus itu untuk masuk istana dan memulai ceritanya. Si kurus mulai bercerita tentang gudang-gudang kerajaan yang sangat besar, seperti gudang garam yang berjejer rapi di kota tua dekat pelabuhan.  Isi gudang-gudang adalah beras, jagung dan kedelai.  Sedang beras merupakan kekayaan kerajaan yang selalu diintai oleh kerajaan-kerajaan kawan ataupun lawan. Gudang bertembok itu tak ada yang bisa menjebolnya. Tak ada yang mampu melubangi tembok keras. Padahal ribuan orang ingin sekali menikmati beras-beras itu. Banyak orang lapar akibat kekayaan itu ditimbun dalam gudang.

Raja tertegun mendengar ucapan itu. Harga diri kerajaan terusik. Raja berdiri hendak menghentikan cerita itu, tapi penasehat-penasehat itu mengingatkan raja agar tidak menghentikannya. Raja mempersilahkan ceritanya dilanjutkan.

Pihak kesultanan tidak mengetahui  bahwa di dekat gudang itu, berdiri istana semut merah. Istana semut itu hanya sebesar tangan. Semut merah itu telah bertahun-tahun tinggal di dekat gudang dan berhasil masuk dari bawah gudang itu. Ketika lapar. Mereka dikomando oleh Raja Semut Merah yang tamak. Yang mereka incar pertama kali adalah beras. Harus beras. Mereka menyadari bahwa sebiji beras mampu mereka bawa/gotong sendiri. Jagung menjadi target prioritas kedua.

Satu persatu semut merah itu masuk dan keluar membawa. Semut-semut merah itu terus masuk-keluar. Masuk-keluar membawa beras. Di atas kepala semut itu adalah putih. Dari jauh tampak pasukan semut merah seperti pawai. Beriringan. Sesekali mereka bercanda tentang rajanya yang hanya memerintah. Tapi tanpa raja, kita takkan bisa membawa beras sebesar ini. Raja kita pintar mencari celah agar rakyatnya, rakyat semut tidak kelaparan.

Para semut merah istirahat di kamarnya masing-masing.Mereka menikmati hasil jerih payahnya sendiri bersama keluarganya. Bersamaan dengan itu, Raja menghentikan cerita itu.


baca juga Semut Merah yang merupakan cerita pertama dalam dongeng ini.

bersambung

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama