Dangdut Is The Music of My Country

sf: dgi.or.id


“Dangdut Is The Music of My Country” kaliamat Ini merupakan karya Project Pop yang saya kutip dari buku Dangdut Madura Situbondoan karya Panakaja Hidayatullah dalam bagian satu, halaman 3. Namun saya tidak akan bercerita tentang isi buku tersebut sama sekali. Iya saya meminjam kalimat itu dari Project Pop. Hal ini serupa dengan lagu-lagu pop dari Korea, lagu pop dari Amerika, India, sedangkan Indonesia, seperti tidak memiliki identitas music yant utuh serupa mereka. Dari hal seperti inilah kemudian kita bicarakan dangdut sebagai Identitas Musik negara ini.

Dangdut menjadi suguhan yang menarik di antara kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari perkotaan hingga pedesaan, dari pusat Jakarta hingga pelosok desa, hingga pedalamannya, rasanya tak cukup jika tanpa musik dangdut. Dangdut memberikan dorongan orang yang mendengarnya untuk menggerakkan badannya, minimal sebagian dari tubuhnya, seperti jemari kakinya, atau minimal jempolnya. Di kawasan semenanjung Karduluk bahkan mungkin hingga Situbondo (sebagaimana ditulis Panakajaya H) orang-orang sehari-hari dipenuhi dengan musik dangdut, terutama dalam aktifitas keseharianya. Seakan-akan music dangdut menjadi hal yang tidak terpisahkan. Semacam sunnah muakkad jika hal itu harus serupa hukum keagamaan. Namanya juga sunnah, ada ya dinikmati, jika tidak ada, rasanya pasti ada yang kurang.

Dangdut sebagaimana musik-musik pada umumnya yang terdiri dari unsur bunyi dan lagu namun memiliki unsur musikalitas yang melekat terutama efek bunyi gendang yang selalu berdekatan dengan bunyi dut, sehingga membentuk kata dangdut, dalam perkembangannya, dangdut tumbuh berkembang pesat di berbagai wilayah yang kemudian dinikmati secara merata oleh masyarakat. 

Kemudian dangdut menjadi musik rakyat, yang dinikmati bersama, dalam artian dalam satu sampai tiga orang, lima orang, itu menikmati satu suara dangdut yang bersumber dari pengeras suara, atau dari pemutar lagu-lagu yang ada. Di taruh di tempat tertentu, orangnya kemudian beraktifitas bersama, seperti menganggit tikar, membuat lemari, mengukir dan lain sebagainya. Sebagaimana musik pada umumnya, lagu-lagu dangdut juga berisi suara hati, kesedihan, suara luka, lagu perjuangan dan lain sebagainya.

Radio menjadi primadona tersendiri sebagai penyalur lagu-lagu dangdut akhir-akhir ini, sehingga masyarakat tidak seperti beberapa tahun yang lalu, yang harus membeli kaset VCD untuk bisa memutar lagu-lagu dangdut (meskipun bisa jadi itu membeli VCD/lagu bajakan). Sekarang orang-orang cukup mengaktifkan radio, yang ada hpnya atau hp yang ada radio yang cukup diberi headseat. Setiap hari masyarakat menikmatinya, bahkan orang yang tidak mau mendengarkannya pun terpaksa mendengarkan musik dangdut tersebut karena sudah tersiar melalui pengeras suara. Saya kadang berpikir, kenapa suara seperti ini tidak diatur oleh negara.

Dalam perkembangannya, musik dangdut kemudian muncul beragam dan bermacam aliran, ada aliran campursari, koplo, dan lain sebagainya, sedangkan di Madura, banyak pencipta lagu yang sering meminjam nada-nada dari lagu India, hal ini seperti mengindikasikan bahwa lagu dangdut Madura merupakan adaptasi yang kurang baik, meskipun tidak banyak, ini justru memperburuk citra Madura dalam belantara permusikan dunia, yang seharusnya juga berpikir keras untuk melahirkan selera musik khusus yang unik dan penuh ritme lagu yang meninabobokan. 

Sayangnya hal ini tidak menjadi perhatian utama para pencipta lagu-lagu dangdut Madura, begitu pula dengan penikmat lagu-lagu Madura, tidak pernah memperhatikan bahwa lagu tersebut meniru nada dari sebuah lagu dari luar. Mungkin memang membutuhkan edukasi yang panjang nan melelahkan agar dangdut tetap istiqomah dan memberikan corak warna permusikan tanah air.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama