Cinta sebagai Selimut Drama

sf: pixabay

Kisah cinta selalu menjadi hal menarik dalam kehidupan yang kemudian dicopypaste dalam pembuatan perfilman, drama, lakon yang dikenal dengan mimikri. Hal ini juga dilakukan dalam drama Korea/drakor (Selatan). Terkadang kisah cinta menjadi tema utama yang dihadirkan dengan beragam bumbu-bumbu penyedap, pemanis dan pemahit lainnya. Namun dalam drakor Alchemy of Soul, kisah cinta tidak ditampakkan begitu jelas, yang seakan-akan drama ini hanya berbicara mengenai cinta seseorang pada orang tertentu. Tidak. Tidak roma. Drama ini lebih berbicara mengenai perebutan batu es yang sampai menyebabkan pertumpahan dari oleh seluruh penyihir, karena dengan kekuatan batu es tersebut, ia menjadi digdaya, memiliki kekuatan super dahsyat.

Kisah cinta dalam drama ini (nyaris) hanyalah cerita figura yang menjadi bumbu di antara kemelut perang, perseteruan, konflik keluarga, mencari muka diantara sepersaudaraan, seperguruan, mencari dukungan dari pihak-pihak yang ditikai dan diporak-porandakan, kisah cinta yang mekar dari dentingan pedang, melesatnya anak panah, di antara dentuman ledakan jurus-jurus persilatan, tenaga dalam dan kelicikan-tuduhan yang tak berfakta. Seperti Mu deok dan Jang Uk, yang awalnya hanya sebatas guru (Mu Deok-Naksu) dan murid (Jang Uk, Bintang Kerajaan). Pada dasarnya mereka tidak ada niatan untuk menumbuhkan rasa cinta, namun kebersamaan telah membuat mereka berada kutub cinta yang saling tarik-menarik. 

Seperti halnya juga Park Jin dan Kim Do Ju. Kisah cinta dua orang ini cukup pelik. Jin Park merupakan pemimpin Songrim, memiliki kekuatan sihir yang telah tergolong telah mencapai fase tertinggi, sudah nyaris menangkap naksu (sang pembunuh bayangan), meski begitu, lelaki berambut panjang tersebut, belum memiliki istri. Bayangkan, seorang pemimpin sebuah persilatan Agung, guru penyihir ternama, namun Park Jin harus mengusir kesepiannya yang datang menjebak dalam kesendiriannya dengan meminum arak istimewah. 

Ia ditengarai tak dapat melupakan pujaan hatinya yang bernama Puan Dohwa, perempuan yang telah mati, istri dari Jang Gang, yang telah melahirkan Jang Uk yang berjiwa raja (karena raja berpindah jiwa pada Jang Gang, lalu tidur dengan istri Jang Gang). Selain meminum arak yang ditaruhnya secara sembunyi-sembunyi, Park Jin pun selalu ingin mengunjungi kediaman Kim Do Ju. Ketika mereka berdua berjumpa. Mereka selalu tampak bertengkar, terkesan saling cemburu, dan terkadang Park Jin terlihat tidak peka.

Suatu kesempatan Kim Do Ju bertanya, apakah ia akan menghukum dirinya jika ia bersalah. Dengan tegas Park Jin akan menghukumnya. Hal ini tentu membuat Kim Do menangis, karena merasa tidak dicintai. Dalam hati Park Jin mengutarakan bahwa ia harus bertindak tegas, meski hati harus terluka, dan takkan bisa meninggalkan tempat dimana Kim Do Ju ditahan (dihukum). Sebagai pemimpin Songrim ia harus tegas, disipilin dan dapat dipercaya dengan berbagai macam resiko yang harus dihadapi. Tentu saja perjumpaan dengan Kim Do Ju di tengah kesibukan mengurus Songrim, pertikaian di Daeho dan Jinyowon yang tiba-tiba berpihak pada Jin Mu, rumor kemunculan pemindah jiwa yang meresahkan karena menyebabkan banyaknya jiwa tumbang, membuat perasaan Park Jin sedikit lega.

Di akhir episode, waktu dua sejoli yang saling berharap namun salah satunya tidak peka itu jalan-jalan santai, di sekitar mereka bunga-bunga bermekaran. Kim Do Ju bercerita tentang dirinya yang berharap dapat suami, kemudian membuat rumah yang tak terlalu besar, pekarangan rumah yang cukup, sehingga bisa menanam bunga yang paling disukainya. Park Jin pun menawarkan untuk memberi hadiah rumah dengan isi 100 kamar. Hal ini membuat Kim Do Ju terkejut, padahal ia berharap (membayangkan) bisa hidup tenang bersama Park Jin, tanpa ada gangguan peperangan, sihir dan lain sebagainya. Namun mimpi itu buyar karena ketidakpekaan Park Jin yang mengira Kim Do Ju bakal hidup dengan Tuan Guru Lee.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama