Cinta, Keabadian dan Perang Saudara

sf: pixabay

Drama Korea (Selatan) yang hadir ke tanah air telah memberikan corak warna tersendiri terhadap penikmat (penonton) perfilman Indonesia. Negeri gingseng tersebut secara konsisten dan istiqomah terus menelurkan film-film yang cukup mengesankan yang membuat publik pecinta drama mampu bertahan berjam-jam di depan layar untuk menontonya secara habis tuntas dan tak terkurang sedikit, karena tak mau melewatkan satu scene pun apalagi sampai tak menonton satu episode. Hal ini menandakan bahwa drama Korea (Selatan) yang pada perkembangan selanjutnya disebut drakor, telah menyihir penonton drama. Drakor telah membuat penontonnya terpana, bahkan ada yang sampai mengikuti kehidupan pribadi aktornya hingga memasuki lorong-lorong kehidupan sehari-harinya.

Tak dapat dipungkiri bahwa drakor memang hadir secara lebih ciamik dan memukau, sebut saja salah satu dramanya yang cukup panjang adalah Alchemy Of Soul garapan sutradara yang memiliki reputasi yang cukup tinggi. Kita tahu bahwa alkemis atau alkimia adalah ilmu tentang Kimia Abad pertengahan yang memang mendambakan obat kekekalan hidup. Obat kekekalan hidup ini kemudian dipelajari, dianalisa berdasarkan atas rasi bintang, kelahiran, suku dan darah yang mengalir dalam tubuhnya. 

Dalam Alchemy of Soul yang berlatar sebuah negara yang besar, indah serta memiliki danau besar, namun dalam satu kesempatan, danau itu harus mengalami kekeringan, kemarau panjang sampai danau itu kering, tanahnya retak-retak, sehingga seluruh ilmuan mistik, para penyihir dikumpulkan untuk melakukan ritual agar hujan bisa turun. Dalam ritual itu jatuh batu es yang bisa berubah menjadi api, abu, emas hingga kembali menjadi batu es lagi. Batu inilah yang kemudian menjadi rebutan dan terjadilah pertumpahan darah.

Hal yang membuat batu es tersebut semakin jadi rebutan adalah batu tersebut mampu membuat si pemilik bisa melakukan pemindahan jiwa. Pemindahan jiwa dilakukan agar ia terus hidup dalam usia muda. Seorang yang tua bisa berpindah jiwa ke tubuh yang muda, agar bisa menikah lagi. Seorang yang sudah tidak mungkin lagi untuk memiliki anak, jika ia punya ilmu pemindahan jiwa, ia bisa berpindah jiwa pada lelaki muda dan mencari wanita muda, seksi dan menawan. 
Inilah yang terjadi, raja tua, sakit-sakitan dan nyaris mati, minta dipindah jiwanya pada penyihir muda, walau dalam tujuh hari. 

Awalnya ia berkata akan menciptakan perdamaian, melahirkan kebijakan untuk membuat negeri itu aman sentosa, namun ternyata ia justru mendatangi istri penyihir muda yang memiliki ilmu pemindahan jiwa. Sehingga lahirlah anak dari istri penyihir muda, berdarah penyihir, tampan, dengan ilmu sihir terlarang, namun berjiwa (dengan rasi bintang) kerajaan. Pada saat ia lahir, ibunya meninggal dunia, raja pun meninggal dunia. Dan sang ayah mengunci energi anak yang baru lahir tersebut. sehingga anak itu tak bisa menggunakan energinya sampai tua kecuali pintu energinya terbuka.

Sudah 12 guru mengasingkan anak laki-laki itu yang pintu energinya terkunci. Namun ia tak pernah frustasi. Anak lelaki itu diusir, diasingkan karena tak bisa menghunus pedang, karena energinya terkunci. Dalam perkelanaannya, dari rumah bordil ke rumah bordil, ia berjumpa dengan Naksu, seorang yang memiliki ilmu sihir pemindahan jiwa, namun masuk pada tubuh yang lemah. Jika jiwa yang kuat, berpindah ke tubuh yang lemah, tak berdaya, kekuatannya, ilmu sihirnya akan sirna dan tak berfungsi apa-apa.

Di rumah bordil itulah ia berjumpa naksu yang telah berpindah jiwa pada perempuan muda, buta dan tak berdaya. Sehingga banyak orang yang tak mengetahui bahwa ia adalah Pembunuh Bayangan yang tak memiliki kekuatan sama sekali. Perempuan itulah yang kemudian dijadikan guru sekaligus pelayan (pembantu) dari lelaki yang pintu energinya terkunci, yang merupakan keluarga kerajaan.

Dengan sebuah alat tertentu yang bisa berbunyi kreneng itu, wakil kerajaan di Pusat mengetahui, bahwa perempuan itu adalah Naksu, ia pun memanggilnya agar kembali bertenaga dan membunuh orang-orang di kerajaan. Sampai menyebabkan anak laki-laki yang telah membuang energinya karena ingin menikah dan hidup damai bersama pelayannya itu terbunuh dengan pedangnya. Namun saat dikremasi, anak ajaib itu kembali bangkit dan tak terbakar sama sekali.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama