BERMIMPI: Gerakan Literasi Pedesaan

Dalam beberapa hari terakhir, saya mulai bertanya-tanya, kenapa desa-desa tidak membuat BUMDes yang berorientasi pada pengembangan bakat-minat literasi, bayangkan masing-masing desa memiliki toko buku yang tidak hanya bisa dijual namun juga bisa dipinjam dan dibaca di tempat. Sehingga anak-anak akan banyak datang, berkumpul, kemudian berceloteh bersama, membaca buku, lalu dengan cara seperti itu, tingkat literasi di perkampungan (atau pedesaan) akan semakin terbuka, masyarakat akan semakin cerdas dan dengan cara seperti itu masyarakat berpikir untuk maju, meskipun ini akan terjadi pada tahun-tahun yang akan datang. hari ini kita semestinya membangun fondasi secara lebih serius dan fundamental. Memperkokoh fondasi secara kokoh dan serius itu tidaklah mudah. 

Bagaimana bisa masyarakat akan tertarik pada buku-buku, jika memang tidak ada toko bukunya. Masyarakat tidak melihat adanya toko buku. Ya tentu saja tidak ada yang membeli. Mereka bilang, mau beli di mana buku-buku itu jika tidak ada toko buku. Ini sumenep Bung. Mau dagang buku pasti susah. Ngulaknya pun susah, jauh, cari penerbitan harus minimal ke Surabaya, Malang, Jogja, ya itulah semuanya. Tidak bisa dipungkiri memang harus demikin untuk kulakan buku. Beberapa toko buku besar, seperti togamas di Solo, justru tumbang. Ketika buku tak lagi diminati, ya mau bagaimana lagi, bangsa ini sedang mengalami keruntuhan. Yang sabar yaaauuu. Kau memiliki tanggung jawab moral untuk terus mempertahankan bangsamu. Jika tidak kau akan merasakan bagaimana dirimu terkoyak-koyak oleh penjajahan. 

Orang-orang di sekitarmu yang tidak mengerti bagaimana perihnya penjajahan tidaklah berpikir bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Iya itu memang harus dihapuskan. Dan itu adalah kalimat dihapuskan, ada kata harus, berarti belum terjadi penghapusan perang, penghapusan penjajahan di atas muka bumi. Itu memang cita-cita luhur yang harus dimiliki bangsa ini, namun kita menyaksikan hari ini. Siapa yang berperang. Yaitu Ukraina dan Rusia. Mau kita berpihak pada siapapun tetap saja, perang telah terjadi. 

Kita berharap tidak ada perang, meskipun konflik antar etnis terus terjadi, meskipun konflik antar agama terus terjadi. Sebelum ini, kita berjibaku dengan corona yang sangat mencekam dan sangat menakutkan. lalu ternyata kita memasuki fase baru. PERANG. WAR. The deepcoolwar. Perang yang sangat Dingin sekali. Ya. Kita mestinya terbebas dari penyakit menular itu, namun penyakit itu bukan tiada, melainkan menjadi penyakit endemic, serupa flu, orang-orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang terkena corona, namun merasakan kelainan dalam dirinya, seperti tidak merasakan bau, tidak bisa mencium aroma dan lain sebagainya. 

Sekarang kita harus lebih waspada. Dalam pengembangan literasi bukan sekedar untuk kemajuan yang lebih progresif, melainkan lebih kepada upaya mempertahankan kemerdekaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita adalah bangsa yang bebas, sudah merdeka, namun jika putra-putri Madura, tidak mengisi otaknya dengan ilmu pengetahuan, tentu saja ini akan berdampak buruk terhadap kehidupan berbangsa pada priode yang akan datang.

Sekarang pemerintah memang sedang membangkitkan segalanya dari desa, terutama melalui menteri pedesaan (Dinas Pengembangan Masyarakat Desa), namun untuk literasi belum tergarap secara maksimal, padahal mestinya literasi menjadi perhatian utama, bukan dinomorduatujuhkan (27). Hingga detik ini, gerakan literasi kaum melenial hanya terjadi di beberapa kota, di pedesaan, literasi hanya menjangkau sebagian orang, bahkan untuk mendapati karya yang tidak berkelas pun juga susah. Ini kan semakin aneh. Disitulah letak mimpi ini: Gerakan Literasi Pedesaan. Sayangnya tidak menjadi perioritas yang pertama.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama