Terjongkok di Pojok Penjara

 

sf:wallpaperbetter

DONGENG Semut Merah

Lelaki kurus itu diseret ke dalam penjara. Lelaki itu disatukan dalam penjara dengan lelaki gemuk. Sekarang dalam penjara itu ada dua lelaki. Gemuk dan kurus. Mereka berdebat. Saling membodohkan. Saling menjatuhkan. Menjatuhkan lawan. Menjatuhkan mental lawan. Tendangan si kurus meleset, nyaris saja merontokkan gigi-gigi si Gemuk. Mereka berdua seperti tak mau berhenti untuk saling mengejek, menghina, menfitnah, mencaci maki tanpa henti. Sampai mulut mereka berbusa. namun mereka sama-sama kelaparan. Jarang sekali mereka mendapatkan makanan. Makanan hanya mereka dapat, jika memuji penjaga penjara, atau jika ada panglima perang kerajaan yang melintas, lalu mereka memujanya, dari sana mereka akan mendapatkan sisa-sisa roti kering dari si Paling Perang Kerajaan itu. merekapun rebutan makanan. Roti kering, sisa-sisa.

Pertengkaran terus mengalir. Saling ejek dan saling menghina tentang gizi mereka yang terus menerus hilang. Yang gemuk memaksa yang kurus untuk mengurangi makan, sebab yang gemuk terus kekurangan makan yang terbatas. Tapi, justru yang kurus yang selalu menghabiskan makanan milik si gemuk. Si gemuk menangis. Hingga tengah malam buta, si gemuk tetap menangis dan tangisnya membuat risih para prajurit. Si gemuk disumpal mulutnya dengan kain bau apek serta lap kencing seorang wanita.

Akibat tangisan, raja terbangun dan melihat ke dalam penjara. Mulut si gemuk terlalu bau tak sedap. Terlalu busuk. Bau segala aroma menyembur dari mulutnya. Raja tak sampai mendekat.

“Hei,,, tidurlah kalian dengan tenang. Sebab esok hari kalian akan mati!!!”

“Ap…!!!”

“Mulutmu bau kencing…!!!”

“Mulutmu bau ketek, bau tikus busuk dan bau-bau yang lain…!!!”

“Kurang aja…”

“Kau kurang belajar…”

“Kau tak pernah belajar…”

“Gara-gara kamu selalu membuat keributan, besok kita akan mati bersama.”

“Oh… tidak. Aku masih punya harapan hidup. Sebab aku belum menyampaikan cerita sesungguhnya. Berbeda dengan kau yang telah gagal bercerita. Hidupmu tinggal beberapa detik saja.” Si kurus berkacak pinggang, memunggungi si Gemuk yang tersungkur di pojokan penjara.

“Hei… kau tak usah menyombongkan diri. Kita akan mati bersama.”

“Kau telah percaya diri, bahwa dirimu sendiri akan mati besok. Sedang aku masih percaya bahwa aku akan terus hidup. Sebab aku masih percaya, bahwa aku masih bisa bercerita. Aku masih punya kesempatan untuk menceritakan apa yang hendak kuceritakan.” Si Kurus terkekeh. Terdengar menjengkelkan bagi si Gemuk yang mulai mual-mual karena tendangan lompat dengan ujung tumitnya yang mengenai ulu hati si Gemuk.

“Kau terlalu percaya diri. Ingatlah apa kata raja, bahwa setiap orang yang gagal bercerita atau bahkan orang yang gagal mendapatkan izin untuk bercerita. Ia—siapapun dia—akan mati. Kepalanya akan terpampang di halaman utama istana.

Kau dan aku akan mati. Besok dan selanjutkannya kita akan saling mengejek tanpa suara seperti malam ini. Apakah kau masih percaya bahwa dirimu masih akan hidup? Kau jangan terlalu sombong.” Si Gemuk mencoba membantah dengan sisa-sisa tenga. Ia terhuyung-huyung tak berdaya.

“Kau terlalu penakut. Ingatlah bahwa aku bisa bercerita. Aku masih bisa bercerita. Aku masih bisa meminta bantuan siapapun agar aku bisa bertahan hidup. Kau pasti tidak punya orang dalem kan. Hahaha… aku! Kau pasti tidak akan percaya bahwa salah satu penasehat kerajaan adalah kerabatku.” Ia menoleh, melirik lemah.

“Kau mau minta bantuan siapa? Siapa pula yang akan membantumu. Orang-orang kerajaan sudah menutup pada pencerita yang gagal. Apalagi pada pencerita yang gagal mendapatkan izin untuk bercerita. Jika memang ada kerabatmu, itu belum tentu bisa membantumu. Mereka sama-sama mencari keselamatan.”

“Kau… izin untuk bercerita saja tak ada. Itu tanda bahwa kau telah gagal sebelum berjuang.”

“Hahaha… tak usah kau berceloteh hingga mulutmu berbusa. Yang jelas aku akan terus hidup bahkan hingga batas yang tak ditentukan… sayang sekali malam ini kita tidak bisa berbicara lebih santai. Andai saja ada yang bisa mengambilkan tembakau beserta kertasnya di dinding rumahku. Tentu kau akan lebih tenang, sebelum nyawamu melayang besok pagi buta. Dan sayangnya, malam ini pula, tak ada arak diantara kita. Padahal ini adalah malam terakhir untuk kita. Seharusnya dinikmati dengan penuh penghayatan. Diantara kita. Akan berjumpa kematian. Sedang satu lagi akan menikmati kehidupan-kehidupan yang semakin menjanjikan. Hahaha. Sungguh di luar dugaan. Tak terbayangkan aku bisa bicara seperti ini pada kutu kumpret babi ngepet tak berdaya macam kau ini ya, hahaha! Nikmat macam apa yang harus aku dustakan.

Melihatmu tersungkur di pojok penjara. Tak berdaya. Dan aku mendapatkan angina segar untuk terus bertahan hidup. Di suatu zaman nanti, setelah aku bercerita panjang dan lama tentang seekor kodok yang memikul bawang daun, bawang merah dan bawang putih, hahaha, tentu bukan itu cerita yang akan aku ceritakan. Aku akan menikah dengan putri Kerajaan Gembok Abang. Aku akan menjadi Raja Gembok Abang, akan dipanggil Paduka Yang Mulia Romo Agung Gembok Abang. Hahaha… kau akan melihat dari alam penyiksaan bagaimana kami, aku dan sang permaisuri, menikmati hari-hari yang sangat indah, menikmati malam yang sangat agung dan penuh birahi… hahaha…”

Celotehan terus bergemuruh membentur jeruji penjara. Air liur mengalir pelan dari bibir yang lebam. Mata yang sayu. Tubuh yang lelah. Jiwa yang telantar. Di luar penjara, prajurit-prajurit terlelap.

Pagi kembali merekah. Matahari mulai naik dari arah timur laut menyinari Kerajaan Gembok Abang yang mulai sibuk beraktifitas. Kerajaan Gembok Abang merupakan kerajaan yang berada di lereng Gunung Gasblerang, di sisi selatan kerajaan ada dua bukit yang mengapit jalan utama menuju kerajaan. Mereka-mereka yang akan datang untuk memasuki kerajaan Gembok Abang, ia pasti akan melewati pelabuhan di ujung selatan. Pelabuhan itu merupakan pintu masuk utama yang dijaga ketat orang-orang kerajaan Gembok Abang. Di sisi timur pelabuhan, tentu saja lumayan jauh, ada tebing cukup tinggi. Di tebing itu, ada satu lubang yang menurut orang-orang merupakan tempat pertapaan para raja Gembok Abang, raja pertama, Pangeran Gembok Abang bertapa di gua itu yang kemudian mendapatkan wangsit untuk membangun kehidupan, menata rakyat, menjadi pemimpin di dekat gunung Gasblerang, berkat ketangguhannya menumpas perompak-perompak laut dan daratan, Pangeran Pangeran Gembok Abang kemudian membangun kerajaan itu menjadi semakin kuat dan disegani dari pulau Ubi Jalar. Tak ada yang berniat menaklukkan Kerajaan Gembok Abang karena kemasyhuran kekuatannya yang tidak terkalahkan. Kerajaan-kerajaan yang lain tentu saja datang untuk menukarkan kekayaan-kekayaan dengan peralatan senjatanya. Namun, kerajaan Gembok Abang jarang sekali mengeluarkan peralatan senjatanya pada orang lain. Karena ia tak ingin terjadi senjata makan tuan.

cerita sebelumnya: Semut Merah

Bersambung

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama