Puisi Atinginzani


MENANGIS

 

Renta malam semakin mencekam

suara lolongan si amang melengking menakutkan

jangkrikpun turut serta bersuara

menambah kelam seram mengancam

 

rintihan tangis terdengar pilu

di sudut kamar di sebuah gubuk tua

semakin menyayat jiwa

suara isaknya begitu berat

apakah setumpuk beban berat ada dipundak?

atau kecewa menahan sakit karena di khianati cinta?

 

entahlah

menagisnya suara gadis desa

membuat aku terpaku mendengarnya

karena ternyata diatas sajadah ia menangis karena  ingat segala salah dan dosanya

jeritnya penuh harap

agar sang pengasih mengampuninya

luruh sauhnya lembut ucapnya teruntai bait bait doa yang indah untuk akhir hidupnya

husnul khotimah

 

 

Kuningan 6 Agustus 2022

6 Muharram 1444 H

06.39 Wib

 

MEMBEKU RINDU

 

Belenggu membeku merenggut rindu

Menghempas resah musnahkan gelisah

Campakan luka yang basah

Lebur tertimbun tanah

 

Acuh yang tak bisa ku gubah ramah

Benci menyelimuti hati

Dendam membakar sumsum tulang belakang

Angkara yang menerjang kesadaran

 

Khianati ketulusan hati

Ingkari janji abadi

Mudah tergerus bisikan makhluk tak kasat mata

Dan sayang nya kau lebih percaya...

 

Sudah tak ada lagi ruang

Sudah tak bisa simpan kenangan

Sudah kehilangan beriring tangis yang berderai

 

Sulit menggapai makhota bahagia

Dan selamat untuk mu yang telah mampu goreskan luka abadi itu.

 

 

Kamis 4 Agustus 2022

10.03 wib

 

MERINDU DIA

 

Selalu merindu dan akan selalu merindu

Sampai batas akhir nafasku

Kerinduan ini tak akan pernah jemu

Meski diriku tahu bahwa lumuran maksiat menyelimutiku,

 

Wahai Rasulullah...

Tiada pernah bosan aku mendengar, melihat gambar gambar  kisah demi kisah yang tersurat dalam kitab  Yang para aulia bacakan pada saat ada di majlis majlis ilmu

Semakin terlukiskan kisah indah semakin rindu ini menyeruak didasar qalbu.

 

Duhai mahluk mulia sejagat buana

Rengkuh diri yang diliputi dosa ini

Dalam kedamaian cinta mu.

Teteskan air telaga yang akan menghapus segala rasa haus dan dahaga jiwaku

Berikan tatapan dan senyum lembutmu untuk hati yang akan selalu merindui

 

Wahai Rosul...

Salam cinta ku hatur untuk mu

.اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله سيدنا محمد

Hanya itu yang dapat ku berikan sebagai tanda cinta yang teramat dalam.

 

Kuningan 06.32 wib

3 Agustus 2022

5 Muharram 1444 H

 

 

TITIAN KEMULIAAN

 

Masih gelap tak ada setitik cahaya pun di depan jalan yang akan kulalui.

Langkahku masih penuh misteri..

Namun, satu hal yang aku yakini bahwa Allah ada di setiap apapun keadaan kita.

 

Aku yakin Allah akan tuntun langkah demi langkah ini menuju cahaya, dan cahaya itu yang akan membersamai langkahku menuju puncak bahagia sampai jannah dalam Ridho-Nya.

 

Bismillah jangan tengok lagi kebelakang, karena di belakang hanya sebuah kenangan.

Fokus dan luruskan niat agar langkah tak goyah oleh bayangan nya.

Lalui hari ini dengan kekuatan keikhlasan dan rasa syukur.

Dan tancapkan asa pada untaian bait-bait doa untuk masa depan yang masih rahasia.

 

 

Kuningan 210822

 

LETIH

 

Ketika langkah mulai merasakan lelah

Letih sedih tangis menghias

Luapkan semua rasa yang membuat jiwa lara

Teriakkan dalam untaian bait doa di sepertiga malam

Waktu yang sangat hening, damai dan menenangkan

 

Bukan dilarang mengeluarkan suara tangisan

Bukan kesalahan mengutarakan penyesalan

Bukan suatu aib saat teriak demi teriak kau keluarkan

Namun, ku ingatkan jangan kau lakukan semua itu di tempat sembarang

Cari dan temukan tempat yang sangat rahasia

Juga tempat dimana rahasia keluhmu akan aman tanpa ada yang mengetahuinya.

 

Dialah Dzat pencipta dan pemilik ragamu wahai gadis

Luapkan semua pada Dia

Jangan pada yang lain

Karena meluapkan pada mahluk akan bertepuk

Namun Dia akan memeluk

 

Kuningan 210822

 

HUJAN

 

Cuaca mendung  awan hitam berarak pekat

Gemuruh  guntur bertutur

Seakan memberi isyarat bahwa tangisan alam akan bercucur

Dan tak selang detik berikutnya

Tit tik tik mulai berirama

Turun basahi semesta

 

Panas yang menyengat

Seketika musnah berganti cuaca

Dingin berkabut mendung bergelayut

Hujan deras tak terelak

Mengajak diri beranjak

 

Namun sekelebat anganku melayang

Teringat masa dimana tak memikirkan beban

Masa kecil yang begitu asik bermain menari dan bernyanyi di saat rintik hujan

Tak peduli basah dan dingin menggigil

Tak terdengar teriakan bunda memanggil

Yang ada menikmati kebahagiaan bersama rintik hujan


Masa kecil telah usai

Namun kisahnya akan selalu menjadi indah

Hujan berlari menari dan bernyanyi menjadi memori

Di antara kisah yang lainya

 

Kuningan 13-08-2022

Punya nama pena Atinginzani lahir di sebuah kota kecil Kuningan Jawa Barat. Dunia literasi yang menjadi dunia berkisah yang sedang menemani hari hari.

Ingin lebih dekat silahkan bisa follow akun IG @atingsutinah2 atau @atinginzani


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama