Mahwi Air Tawar, Sang Penulis Buku Blater



Mahwi Air Tawar lahir di Pesisir timur Madura, tepatnya di desa Legung Temor, bertepatan dengan peringatan sumpah pemuda 28 Oktober 1983. Mulai menulis puisi sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (SMP), Pondok Pesantren Mathaliul Anwar, Sumenep, Madura. Puisi pertamanya yang ia tulis ketika masih di Madrasah Tsanawiyah dimuat di Majalah Ummi, Jakarta, Suara Merdeka, dan Majalah Kuntum, Yogyakarta. Ketika SMA, Mahwi lebih banyak menulis artikel untuk media massa dan menjadi kontributor penulis opini Majalah Pendidikan Jawa Timur. Ia kembali menekuni puisi saat tinggal dan melanjutkan pendidikannya di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Selama di Yogyakarta ia juga berguru kepada seorang Kiai yang juga sastrawan, KH. Zainal Arifin Thoha.  

Cerpen dan puisi Mahwi termuat di sejumlah antologi bersama, di antaranya 3 Penyair Timur (2006, puisi), Herbarium (puisi, 2006), Medan Puisi, Sampena the 1 International Poetry (2008, puisi), IBUMI: Kisah-kisah di Bawah Pelangi (2008, puisi),  Sepasang Bekicot Muda (2007, cerpen), Jalan Menikung ke Bukit Timah (TSI II, cerpen), Ujung Laut Pulau Marwah (TSI III, cerpen), Tuah Tara No Ate (TSI III, cerpen), Perayaan Kematian (2011, cerpen), dan Rendezvouz di Tepi Serayu (2009, cerpen). Karya-karya Mahwi juga dimuat di Kompas, Jawa Pos, Republika, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Suara Karya, Jurnal Sajak, Majalah Sastra Horison, dll. Tahun 2007 naskah dramanya yang berjudul Alalabang terpilih sebagai naskah terbaik tingkat Asia.

Buku kumpulan puisinya yang sudah terbit, Tanéyan (2015), Tanah Air Puisi, Puisi Tanah Air (2016), Pengembaraan, Perjumpaan, Puisi (2018). Mahwi juga sudah menerbitkan buku kumpulan cerpennya, di antaranya Blater (2010), Karapan Laut (2016). Blater terpilih sebagai cerpen terbaik dan mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta, 2012. Cerpennya yang berjudul “Pulung” terpilih sebagai cerpen terbaik dan mendapat penghargaan dari STAIN Purwokerto 2011. Tahun 2019 diundang untuk membaca puisi di Vietnam bersama beberapa penyair Indonesia.

Selain menulis, Mahwi juga diundang ke berbagai acara sastra baik di dalam maupun di luar negeri. Ia juga terlibat sebagai kurator Temu 4 Penyair Indonesia, kurator dan editor buku kumpulan puisi perdamaian Menggerus Arus, Menyelami Aceh, (puisi perdamaian penyair 8 Negara, 2018), ia pernah menjadi peserta dan kurator kegiatan Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA). Mahwi pernah menjadi redaktur budaya Majalah PUSAT. Penulis yang saat ini menjadi redaktur Majalah Sastra Horison ini tinggal di Jakarta. 

Cerpennya yang berjudul “TOYA” menjadi cerpen kompas pilihan tahun 2022. Tahun 2022 Mahwi Air Tawar kembali menerbitkan Antologi puisi yang berjudul “Dari Ruang Belakang Peracik Kopi.” Di undang Balai Bahasa Jawa Timur untuk membaca ulang, menelisik serta menyelaraskan terjemahan sastra daerah (dalam penerjemahan buku Sastra Madura ke dalam bahasa Indonesia).  Sekarang memilih menetap di pinggiran Jakarta, memilih meracik kopi setiap hari di kedainya “Ada Kopi.”

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama