Literasi di Era Digital untuk Kaum Melenial


Sudah banyak hasil penelitian yang dipublikasikan bahwa literasi kita, minat baca kita, sangat lemah, jika objek penelitiannya sebanyak 71 maka posisi Indonesia menempati posisi nomor 70. Selalu saja seperti itu. sering sekali. Banyak sekali hasil penelitian yang serupa itu. namun pemerintah kita adem ayem dengan fakta seperti itu. sepertinya masyarakat kita tidak cinta literasi, tidak berminat pada dunia literasi, bukanlah hal yang urgentsif. Baru politisi akan turun tangan bila mendekati pemilu. Isinya pemerintah kan begitu. Banyak para politisi. Sampai sekarang posisi Indonesia dalam rangking literasi masih sangat rendah. Masih sekitaran 70an. Apa itu literasi?

Literasi merupakan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Bisa berupa pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktifitas tertentu. Sehingga literasi itu tidak terbatas pada dunia sastra dan menulis. Dan hari ini tidak mungkin kita ahli dalam segala bidang. Seorang ulama pernah berkata, jika dirimu ahli dalam satu bidang, maka bidang yang lain pun akan kau ketahui. Namun jangan sok tahu. Menjadi orang yang penuh literasi biasa literat, tapi bukan liter A, Liter B, ya bukan itu. atau bukan juga seliter asi atau seliter terasi. Bukan itu semua. Literasi menyangkut kemampuan keberaksaraan kita. Orang-orang tua yang sudah lampau itu paham bagaimana cara berbicara, namun mereka tidak bisa menulis, karena kemampuan dalam bidang menulis dan membacanya terbatas. Kita bahkan tidak bisa mensurvei berapa yang masih buta buruf, baik huruf latin, huruf abjad ini seperti yang and abaca, ataupun huruf arab dalam bahasa Al-Quran, juga bahasa hanacaraka. Hehehe.
Berbicara litarasi ini banyak macamnya. Literasi karya ilmiah. Sastra. Literasi budaya. Literasi politik dan kepartaian. Literasi ekonomi dan perkembangan pasar. Literasi Karya Ilmiah merupakan literasi yang berkaitan dengan karya ilmiah yang terbebas dari kefiksian. Nanti kita diskusikan perbedaan ilmiah, fiksi dan perdebatan di dalamnya. 

Contoh-contoh karya ilmiah meliputi esai, ya yang anda baca ini merupakan karya esai ilmiah (namun kadarnya sangat ringan). Ada pula seperti artikel jurnal yang digarap secara serius, mungkin membutuhkan waktu lima hari sampai sepuluh hari untuk menggarap satu artikel yang layak untuk dipublikasikan di jurnal (baik terindek nasional, scopus dan lain sebagainya). Selain artikel jurnal ada, skripsi, makalah-makalah (masalah-masalah biasa). Tesis dan disertasi. Untuk menuliskan artikel jurnal, skripsi, tesis, desertasi atau bahkan makalah (masalah) ini membutuhkan keterampilan dalam mengolah informasi dan data (literasi).

Literasi Karya Sastra merupakan karya yang berbasis fiksi. Ini fiksi juga beragam ada kelas gelap seperti karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Agus Noer, dan lain sebagainya serta fiksi pop kultur seperti novel-novel pop mutakhir yang banyak bertebaran di berbagai toko. Selain novel, ada antologi cerita pendek dan puisi. Belum lagi pantun dan pribahasa. Ini merupakan kekayaan literasi yang tersimpan di banyak tempat, namun tidak ditemukan cara membongkarnya. Untuk menulis semua ini, novel, cerpen, puisi beserta teman-temannya anda membutuhkan keterampilan membaca, menulis dan mempublikasikannya. Ini baru Ilmiah dan Sastra. Bisa pula kritik sastra. Ini yang tidak ada di kehidupan sastra kita. Tidak ada kritik sastra. Orang sudah alergi dengan kritik sastra. 

Literasi Seni & Budaya. Sebenarnya ini merupakan dua hal yang berbeda. namun di berbagai tempat seringnya ada Pentas Seni dan Budaya. Harapan utamanya literasi adalah kita bisa membagikan informasi yang kita dapatkan. Tanpa keterampilan menulis dan membaca, karya kita menjadi tidak berarti apa-apa. Sama seperti halnya literasi Seni & Budaya ini. Kalian sudah terbayang apa saja bentuk-bentuk kesenian yang berada di sekitar (lingkungan kalian), bagaimana kesenian itu terjadi, kesenian itu berupa apa saja. Dalam kebudayaannya. Budaya apa yang berada di lingkungan kamu. Bagaimana orang-orang setiap hari berinteraksi, saling menyapa dan mengadakan hajatan pernikahan dengan segala pernak-perniknya.

Literasi Politik & Kepartaian merupakan literasi khusus strategi-strategi pemenangan partai, relasinya dengan kekuasaan dan bagaimana partai bisa bekerja secara maksimal untuk mendapatkan kekuasaan. Mestinya partai itu berhenti bekerja ketika administrasi pemerintahan berjalan. Namun sayangnya di negeri ini, partai dan administrasi pemerintahan berjalan beriringan yang menyebabkan sumbangnya nada-nada kekuasaan. Ada banyak efek/dampak dari relasi kekuasaan yang dikuasai partai politik.

Literasi Ekonomi dan Perkembangan Pasar merupakan literasi yang membahas bagaimana perekonomian masyarakat, kesejahteraan dan kemakmuran, iklim dan geografi yang berpengaruh terhadap perkembangan pasar, harga-harga di pasaran dan lain sebagainya. Hari ini marketplace/pasar online sudah semarak. Bahkan di tiktok live itu seperti berada dalam pasar bebas, kemudian pakai mikrofon atau toa kemudian berbicara, mengobral dagangan. Mirip orang jual jamu/obat di pasar tradisional kan!

Manfaat Literasi di Era Digital

A. Mudah memahami perkembangan zaman (paham), sehingga tidak mudah tersinggung, tidak gegabah bertindak.

B. Dengan landasan pengetahuan bisa memilih keputusan yang tepat.

C. Mendapatkan informasi, pengetahuan dengan mudah dan beragam sehingga pikiran selalu segar.

D. Bisa membagikan pengetahuan pada orang lain. Karena dalam pikiran sudah penuh, akan ada waktunya untuk selalu berbagi. 

E. Sumber pengetahuan dan referensi yang mudah dan cepat.

F. Dengan kita berliterasi, kita bisa memiliki jaringan yang luas, karena seringnya interaksi dengan orang lain.

G. Biasanya kalau orang memiliki banyak pemahaman di bidang tertentu, ia pasti sangat dibutuhkan di bidang itu. dari hal seperti ini kita bisa hidup dari hasil pengetahuan dan keahlian kita.

Beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan acuan untuk peningkatan literasi

A. Sediakan bahan-bahan, seperti perpustakaan dan bukunya agar orang tertarik untuk datang ke perpustakaan dan membaca bukunya.

B. Adanya diskusi yang seimbang. Kita terbiasa diskusi hal-hal urgensif dan seakan-akan dunia ini harus berubah. Jangan. Kita cukup mendiskusikan langkah-langkah apa saja yang menarik yang ditempuh orang-orang menjadi lebih mencerahkan.

C. Kenali kebutuhan kita. Kita kuliah sebenarnya butuh apa. Dosen tidak bisa menyuapi alian sepenuhnya secara tuntas. Ia hanya menggiring kalian untuk mengetahui sekelumit apa saja yang ada dalam dunia kampus dan pendidikan atau pun jurusan itu sendiri.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama