Laki-Laki dalam Cerpen Perempuan


Laki-laki selalu menjadi sorotan perempuan karena tindakannya yang selalu menyakiti perempuan. Kita pun tak dapat memungkiri, akhir-akhir ini baik kenyataan ataupun Film. Dalam informasi sehari-sehari dalam media sosial begitu banyak kabar tentang perempuan yang tersakiti, mendapatkan pelecehan hingga kekerasan seksual, begitu pula yang tergambar dalam Film yang merupakan percontohan dari realitas kehidupan.

seperti dalam buku "CINTA Tak Pernah Pergi" karya antologi bersama kelas menulis, yang salah satu cerpennya berjudul "Kehidupan Kedua", seorang laki-laki meninggalkan istrinya dan anaknya yang masih kecil. Pergi melanglangbuana entah kemana. Sang Istri tak berdaya menahan Lelakinya pergi (Hal. 140).

Kemudian juga perempuan yang mendapatkan cobaan hidup dalam rumah tangganya, seperti yang ditulis Fakhriah Ilyas, tentang seorang istri yang harus menerima kenyataan pahit, bahkan di awal-awal pernikahannya, yang seharusnya mendapatkan kebahagiaan yang sempurna, seperti kesyahduan menikmati bulan madunya pernikahan, tapi justru mengalami keterkejutan: di awal pernikahannya, ada perempuan lain datang mengaku sebagai istrinya sekaligus memberi tahu bahwa lelaki iti sudah beranak (hal. 2).

Masalah tidak selesai dengan hanya perceraian atas perempuan yang datang membawa anaknya itu. Perlakuan kasar, kejam, suka memukul menjadi santapan sehari-hari oleh perempuan yang sangat memohon untuk mendapatkan restu orang tuanya. Suaminya yang tidak memberikan uang belanjanya itu, justru menggunakan uangnya untuk kesenangan dirinya, bahkan uang untuk menyekolahkan anaknya merupakan hasil kerja keras istrinya (Hal. 5).

Dan lagi-lagi perubahan sikap menjadi tanda-tanda bahwa suaminya memiliki simpanan, seperti yang ditulis N. S. Piena dalam cerpen "Bermain Hati."

Di awali atas kecurigaan atas motor yang dibawa pulang ke rumahnya, yang memang bukan miliknya, istrinya terus bertanya-tanya, siapa pemilik motor itu. Istrinya selalu ingin tahu aktifitas suaminya yang bekerja di toko, namun dilarang untuk datang. Gawai bergetar, tanda pesan singkat masuk, dari layar terpampanf tulisan

"Sayang. Nanti motor aku jemput di toko, ya." (hal. 94).

Kalimat itu mersa, namun menusuk hati istrinya. Jiwanya terasa hancur. Keluarganya berada di ambang batas kehancuran.

Buku "CINTA Tak Pernah Pergi" merupakan antologi Alumni Kelas Novel Asma Nadia yang terdiri atas 15  penulis perempuan dari berbagai provinsi di Indonesia yang mengikuti pelatihan menulis novel, dan di akhir kegiatan mengupayakan hadirnya satu tulisan berbentuk cerpen sebagai bukti hasil belajar. Hasilnya adalah terkumpulnya 19 cerpen dalam buku yang diterbitkan oleh Najmubooks Publishing 2018 (Cimahi-Indonesia).


Mat Toyu


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama