Gendaan Atau Milik Pribadi


 
Dua perempuan beda zaman, anak dan orang tuanya. Seorang ibu buta huruf dan seorang anak yang berpendidikan tinggi. Tentu akan melahirkan pandangan-pandangan yang berbeda. Seorang ibu memilih gendaan, tidak bersuami lagi, namun bisa beraktifitas seperti suami-istri, bahkan lelaki itu mendapatkan uang bensin, makan dan tempat berteduh. Setelah kematian suaminya, perempuan itu memilih hidup bersama pembantunya yang kemudian  pergi dan tak mau lagi bekerja pada perempuan itu karena takut dijadikan tumbal. Seru!  Menurut orang-orang (masyarakat sekitar lingkungannya) suaminya meninggal karena dijadikan tumbal, padahal suaminya meninggal pada saat terjadi kecelakaan. Herannya, setelah kematian suaminya, ada perempuan yang mengaku telah dinikahi oleh suaminya, sehingga anak yang dikandung perempuan itu berhak mendapatkan warisan. Tragis.

Sedang anaknya yang berpendidikan (tinggi) dan berpengatahuan, menikah dengan seorang dosen yang sudah beristri dan punya anak. Ibunya telah melarang, namun anaknya tidak merasa bersalah, sebab hal itu sah sesuai tuntunan keimanan (agama). Padahal ibunya ingin sekali merayakan pernikahan putri satu-satunya, namun putrinya tidak menginginkan, yang penting sah, mereka akan kembali ke tempat kuliah/kampusnya untuk melanjutkan perjuangan, membela rakyat berdasarkan ilmu hukum yang mereka pelajari.

Latar cerita ini terjadi pada masa-masa tentara berkuasa, bahkan berkentut di hadapan tentara pun dianggap pelanggaran sehingga orang yang kentut tidak sengaja pun harus mendapatkan hukuman. Putri yang bersuamikan dosen itupun berupaya membebaskan 3 tukang becak yang sedang hukuman karena main gaplek di pinggir jalan dan ditambah berkentut tak sengaja saat hendak keluar teras kodim.

Dosen dan mahasiswi ahli hukum itu pun harus banyak berhadapan dengan kekuasaan yang direoresentasikan korp baju loreng-loreng itu, bahkan saat berupaya membebaskan tanah di lereng Gunung Berapi, perempuan itu harus tertangkap dan dipenjara. Ibunya yang sudah tak punya suami itu pun harus bolak-balik untuk menjenguk putrinya yang berada dalam penjara. Di kodim itu pun terjadi transaksi antara ibu dan komandan tentara yang kebetulan dulu, bisa mengamankan lingkungan ibunya. Untuk mengeluarkan anaknya dalam penjara, ia harus memberikan sebagian tanahnya. Harus bilang, tanah itu dijual pada komandan. Sungguh semakin naas, suami meninggal, anak dipenjara, kekayaan menurun. Anaknya yang berjuang untuk pembebasan tanah itupun, yang dipenjara, harus menerima kenyataan bahwa KTP dirinya bertuliskan ET. Dan ribuan persoalan lainnya. 

Judul : ENTROK
PENULIS : OKKY MADASARI
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta 
Tahun terbit : 2010
ISBN : 978-979-22-5589-8
Resensi : Mat Toyu

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama