Budayakan Baca



KALIMAT Budayakan Membaca/Baca pada mulanya adalah anjuran yang dalam perjalanannya mengalami perluasan dampak, tidak sekedar anjuran untuk biasakan baca, memperbanyak bacaan, kalimat yang terdiri dari dua kata itu juga mengandung sindiran yang ditujukan pada orang-orang yang gampang berceloteh seenak dua jempolnya mengetik di mimbar sosmed, khususwan dalam kolom komentar (bukan kolong jembatan), juga langsung nyerobot di tengah-tengah perbincangan yang asyik dalam group whatsap tanpa terlebih dahulu memverifikasi semua informasi yang masuk, tidak membaca informasi yang ada secara valid, akurat dan kredible (apalagi hoaksim).

Pada akhirnya kalimat Budayakan Membaca menjadi kalimat yang cukup tendensius, tegas dan menohok ke lini jantung pertahanan lawan yang biasa menyerobot komentar dalam group-group atau bahkan nimbrung dalam mimbar medsos yang bukan lapaknya. Ya sadarlah, bahwa semua orang bisa memeberikan respon terkait kondisi/realitas rosial yang ada yang disebabkan ketidakharmonisan pemerintah dalam menghadirkan kebijakan-kebijakan. All off people sudah bisa mengkritik, berwacana dan lain sebagainya, tapi layangkanlah kritik dan wacana perubahan itu melalui media yang tepat dan sasaran yang tepat (jangan serumbanan). Kalau kata guru matematika saya dulu dengan tegas dan suara yang keras ia bilang “DILIHAT”! lalu menyalakan rokok.

Berbicara mengenai kalimat Budayakan Baca ini memang sangat paradoks dengan kondisi bangsa ini, kalau kata seorang peneliti amerika, ketidakhadiran budaya membaca secara mendalam berdampak pada kematian pakar, artinya orang-orang yang secara sanad keilmuan memiliki integritas dan kualitas yang mumpuni di bidangnya justru mengalami ketidakbermanfaatan dalam bidang-bidang itu, hal ini karena semua people sudah bisa memberikan komentar, nyelonong dan nyerobot untuk membalas komentar. 

Apalagi bangsa Watukalitthak ini yang memang dalam sejarah peradabannya, menurut survey dunia mengatakan berada paling bawah dalam rangking baca-membaca. Artinya bangsa Watukalitthak memang tidak memiliki tradisi membaca yang kuat, meskipun akhir-akhir ini upaya untuk membangun menjadi masyarakat melek huruf sudah semakin membara. Sehingga bermunculanlah Taman Baca Masyarakat di tengah-tengah kampung di dalam bangsa Watukalitthak. Dan yang lucu, justru banyak sekolah yang baru sadar, bahwa mereka membutuhkan buku sebagai bahan bacaan untuk memperkaya wacana pengetahuan. Selama ini ente ngapain. 

Jika berbicara mengenai persoalan baca-membaca, Al-Quran ayat pertama yang diturunkan adalah anjuran membaca, sayang sekali tidak menjadi kewajiban, hanya shalat lima waktu yang menjadi WAJIB, bayangkan seandainya membaca juga wajib hukumnya seperti shalat, ta kera sempat alako. Kalimat ayat pertama itu berbunyi, bacalah. Yaitu bacalah. Cuma disuruh membaca, jadi untuk kalian yang mengharapkan balasan chat, ya bersabar, karena karena anjurannya adalah membaca (Read: baca) bukan anjuran “Balaslah chat seseorang (yang pdkt padamu).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama