Utopia Keramahan Ruang Publik



Ababat Platform “Ababat Mokka' Jalan”  Bienale Jatim IX-2021

Apa yang terjadi akhir-akhir ini tentang kekerasan seksual yang mencuat kepermukaan serupa erupsi gunung ber-api atau serupa gunung ES (yang tidak berbatu), seakan-akan mengapa hari ini terjadi banyak kekerasan seksual, apakah baru hari ini kekerasan terjadi, atau persoalan sekandal seksualitas itu merupakan persoalan lama, yang sudah ada sejak sebelum prasejarah, namun baru terungkap secara massif akhir-akhir ini, apalagi yang menjadi pelaku adalah mereka yang berada dalam naungan pendidikan (seperti dosen, pengasuh ponpes/asrama pendidikan madani, juga kemudian banyak dimunculkan tentang beberapa tokoh-tokoh keagamaan yang bermasalah). 

Nah, Ababat Platform mencoba merespon persoalan tersebut, dengan diskusi Utopia Keramahan ruang publik dimana sering terjadi pelecehan seksual yang terjadi di ruang publik, seperti tanpa sengaja menyandarkan diri pada perempuan ketika satu deret kursi dalam bus (baik malam ataupun siang). Sang perempuan tentu merasa risih mengalami peristiwa seperti itu, mau berteriak, atau melaporkan pada kondektur bus, tentu menjadi tidak nyaman, karena itu orang tidur. Dijalanan, perempuan masih harus berhadapan dengan siulan lelaki. Dan hari ini, kita menyaksikan beberapa pelecehan seksual di beberapa tempat pendidikan bahkan terjadi pemerkosaan, sampai hamil dan melahirkan.

Menurut beberapa audiens yang hadir, memang tidak bisa serta-merta memojokkan lelaki, bisa jadi ada unsur kausalitas di dalamnya, bisa berupa baju perempuan yang seksi, sehingga membuat laki-laki merasa untuk mendekati, kemudian melakukan tindakan yang tidak senonoh. Namun tidak yang terjadi akhir-akhir ini justru terjadi pada perempuan yang berada di lembaga pendidikan, seperti asrama (tahfidz), yang notabene berpakaian serba tertutup yang kemungkinan hanya terlihat bagian mata belaka. 

Sedangkan ketika korban melaporkan pada pihak kepolisian, polisi justru membentak dan juga memberikan/melontarkan pernyataan yang tidak senonoh, dan mengatai perempuan itu dengan kalimat-kalimat yang tidak baik. Ini tentu menjadi persoalan yang semakin rumit.
Di media sosial yang merupakan representasi publik, banyak yang resah tentang peristiwa tersebut, mereka merasa tidak ada tempat yang aman dan ramah terhadap perempuan untuk dijadikan tempat belajar. Pemerintah yang seharusnya menjadi pengawas tanpa terkesan kurang responsif menghadapi situasi seperti ini. Utopis!

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama